My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 59 - Jodoh Cerminan Diri



Posesif, selama ini sudah jelas memang Syakil yang posesif. Bahkan sebelum menikahi Amara pria itu sudah membatasi ruang geraknya. Akan tetapi, malam ini terasa berbeda dan Syakil dibuat bingung dengan istrinya yang benar-benar tidak mau lepas.


"Sayang kamu tidur duluan saja, aku masih lama."


Syakil merayu begini bukan berarti tidak nyaman dengan kehadiran Amara. Akan tetapi hari sudah larut dan seharusnya Amara sudah tidur sejak satu jam lalu.


"Ya sudah aku masih lama juga." Pintar sekali dia menjawab, usai mendengar potongan video ceramah dari salah satu ustadz kondang di tanah air, Amara memutuskan untuk menempel di sisi sang suami demi membuat suaminya bahagia.


"Tapi kan, Ra."


Ingin berontak tapi tak tega, akan tetapi Amara yang duduk dipangkuannya sembari memeluknya persis anak panda begini jujur saja membuat Syakil tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Bukan hanya karena iman Syakil tipis, tapi memang dia dibuat sulit mengoperasikan laptopnya jika sudah begini.


"Tapi apa? Kamu nggak suka aku begini?"


Ini bukan Amara sekali sebenarnya, enggan berpisah walau sejenak bahkan hal ini dia lakukan sejak tadi siang. Takut sekali Syakil macam-macam, posesifnya Syakil sebelum menikah seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ulah Amara kali ini.


"Su-suka, tapi ini sudah malam, Sayang ... tidur, apa kamu nggak ngantuk?"


Heran juga kenapa istrinya belum ngantuk sama sekali. Padahal dia tidak tidur siang dan sepanjang hari hanya mengikuti dimana keberadaan Syakil.


"Kamu kenapa sering gagap akhir-akhir ini, ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku ya?" tanya Amara mengerjapkan matanya.


Astaga, serba salah dan kini Amara melontarkan kecurigaannya. Ada-ada saja, entah bagaimana seharusnya Syakil menjawab agar hidupnya aman-aman saja.


"Bu-bukan begitu, Ra ... sumpah."


"Itu gagap lagi," celetuk Amara yang berhasil membuat kepala Syakil seperti mau pecah.


Lidah sialan!! Saat ini Syakil tengah mengepalkan tangan lantaran kesal pada diri sendiri. Tidak punya cara lain, bibir istrinya tidak bisa diam jika tidak dibungkam dengan kecupan. Harus silahturahmi bibir lebih dulu barulah dia berhenti mengatakan hal macam-macam, pikir Syakil.


"Bisa diam sebentar, Istriku? Tugasku masih banyak, atau kamu ingin aku melakukan tugas yang lain?" tanya Syakil menatap lekat-lekat mata Amara yang kini masih membola.


Amara tercengang mendengar pertanyaan sang suami, mulutnya benar-benar dibuat bungkam dan kini berakhir dengan pukulan di dada Syakil. Ya, sepertinya memang watak wanita ketika salah tingkah akan memukul lawan bicaranya.


"Teruskan saja, aku kan nggak ganggu."


Tidak mengganggu kata dia, padahal saat ini Syakil dibuat panas padahal ruangannya begitu sejuk. Mau berapa lama juga pekerjaannya tidak akan selesai jika sudah begini.


"Hm, nggak ... tapi duduknya diam aja bisa kan?"


Heran sendiri sebenarnya sejak tadi Amara mencari posisi dan tidak kunjung dia dapati. Menghadap depan, samping dan kini baru saja beberapa menit dia diam dengan duduk menghadap ke arah Syakil.


"Bisa-bisa, ini aku diam."


Amara berucap dengan mantapnya, memang dia diam untuk saat ini, akan tetapi entah jika 10 menit lagi. Syakil menghela napas panjang kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya, bukan hal yang mendesak sebenarnya. Akan tetapi, Syakil bukanlah pemalas dan memang yang dia selesaikan ialah pekerjaan. Lain halnya dengan Mikhail yang kerap mengatakan sibuk dengan pekerjaan padahal nonton kartun.


"Okay, tunggu sebentar lagi ya ... setelah itu kita tidur, kamu lupa tidur siang kan hari ini."


Amara mengangguk, sebab dia tidak tidur siang ya karena Syakil tidak juga. Sementara dia sendiri khawatir jika suaminya tiba-tiba mual dan pusing seperti pagi harinya.


.


.


.


.


Amara tolonglah, pria mana yang bisa menerima hal seperti ini dengan santai-santai saja. Dia normal dan wanita dalam pelukan Syakil ini adalah istrinya, dalam keadaan runyam sekalipun jiwa kelelakiannya akan tetap hidup tentu saja.


"Ssshh kamu mau apa sebenarnya?"


Syakil bertanya sembari menangkap jemari Amara, wanita itu mendongak dan menatap mata sang suami yang kini tertuju padanya penuh tanya.


"Hm? Kenapa tanyanya gitu?"


Masih saja bertanya, dengan wajah polos seakan tak berdosa Amara tersenyum simpul. Menyebalkan sekali bukan? Dia tahu apa maksud pertanyaan Syakil tapi justru malah bertanya kenapa bertanya demikian.


"Diam tangannya, sebentar lagi kita tidur."


Amara berdecak sebal, sepertinya usahanya gagal. Padahal caranya sudah benar, apa mungkin Syakil tidak merindukannya? Yang benar saja, semenjak jatuh dari tangga Syakil tidak pernah meminta dan tidak munafik Amara merindukan suaminya.


"Udah buruan, biar tidur ... terus kamu sudah kerja besok kan?"


Dia sudah terlanjur kesal sepertinya, kaki Syakil dipastikan sudah benar-benar pulih meski masih harus pelan-pelan jika berjalan. Jika suaminya sudah kembali aktif dan bisa menyelesaikan pekerjaannya, jelas saja waktu untuk Amara akan semakin sedikit.


"Hm mungkin iya, tapi mungkin juga enggak. Kenapa memangnya?"


"Tanya saja, udah beresin ... nggak kelar-kelar kalau kamu nanya terus."


Dia yang awalnya membuat Syakil tidak bisa bergerak cepat tapi dia juga yang marah. Entah ini bawaan bayi atau justru sikap Amara yang sesungguhnya dan baru dia perlihatkan. Yang jelas, Amara yang begini menurutnya lucu dan membuat Syakil ingin memakannya.


"Haha, kenapa kamu jadi pemarah akhir-akhir ini? Uring-uringan nggak jelas, aku salah apa, Amara?" tanya Syakil yang pada akhirnya memilih mengakhiri pekerjaannya, jika diteruskan akan percuma karena pria itu paham sang istri tengah mencari perhatian padanya.


"Nggak salah apa-apa, kenapa dimatiin? Selesai?"


"Hm, ini yang kamu mau kan?"


Syakil menarik sudut bibir kemudian membopong istrinya ke kamar tidur. Sepertinya Amara memang menginginkan sesuatu tapi tidak berani meminta sebagaimana yang Mikhail katakan perihal wanita.


Brugh


"Hampir jam sebelas, setengah jam cukup?" tanya Syakil ketika Amara sudah terbaring di tempat tidur, tanpa aba-aba Syakil membuka kancing piyamanya dan sukses membuat Amara terbangun dengan jantung yang berdegub semakin tak karuan.


"Setengah jam apa? Kamu mau apa?" Ya, dia memang ingin tapi tidak begini juga caranya.


"Mau kamu ... kamu juga merindukanku. Iya kan, Amara?"


Dia tidak menjawab namun di beberapa situasi arti diam sama halnya dengan menjawab "Iya." Syakil cukup memahami istrinya, hanya dengan gelagat dan tatapan mata saja dia bisa menangkap jika Amara menginginkan pelukannya malam ini.


"Jangan terlalu sering marah-marah, Sayang ... nanti kamu hipertensi seperti kak Mikhail," ujar Syakil kemudian mengikis jarak sembari menepikan anak rambut sang istri yang menutupi wajah ayunya.


"Tapi pinggang kamu gimana? Bukannya masih sakit?" tanya Amara sembari menahan dada sang suami.


"Sudah sembuh," jawabnya santai karena memang sejak awal pinggangnya tidak sakit, dia saja drama dan mengatakan jika tubuhnya seakan remuk usai jatuh dari tangga.


"Yakin?"


"Hm, mungkin besok kamu yang sakit pinggang, Sayang," bisik Syakil kembali nakal seakan tidak ada kejadian tragis yang dia alami sebelum ini.


...****************...


Hai-hai, maaf ya kemarin aku gak bisa up 3 Bab. Tapi akan aku bayar satu minggu full, karena list crazy up aku itu dari tanggal 19 Sep-25 Sep. Dan ini akan rutin 3 eps, jadi mohon dukungannya rada kencengin dari kemaren yippi!! Btw aku gasuka tema pelakor ya, jadi buat yang udah wanti-wanti, novel ini ga akan menyimpang ke sana. Pembaca lama pasti paham kalau aku gapernah buat tokoh utama cowoknya ga setia/berpaling. Tentang Ganeta dan Amara, ini lebih dari sekedar itu, tungguin aja kisahnya. Kita akan tetap tertawa meski nanti endnya kemungkinan akan ada tangisan secuil doang tapi.