My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 72 - Panik Setengah Waras



"Tidurlah, apa lagi yang kamu tunggu?"


Syakil mengusap wajah Amara begitu lembut, sudah hampir tiga puluh menit Amara hanya menatap langit sembari sesekali menghela napas pelan.


"Susu," jawabnya tanpa menoleh ke arah Syakil, pria itu kemudian mengusap wajahnya kasar kala menyadari jika dia benar-benar melupakan hal sepenting itu.


"Astaga, belum ya?"


"Kamu benar-benar lupa aku belum minum susu?"


Hati-hati dalam menjawab karena ini bisa jadi jebakan battman, jika Syakil salah jawab bisa jadi Amara akan marah dan mengatakan jika alasan dia lupa adalah karena terlalu memikirkan Ganeta, persis ketika tadi di jalan raya.


"Maaf ya, tunggu ... aku buatkan sebentar," ucap Syakil bergerak cepat, tidak lupa mengecup wajah Amara lebih dulu, tidak apa dianggap messum karena memang wajah itu miliknya seratus persen.


"Jangan lama," pinta Amara dengan suara seraknya, jujur dia sebenarnya sudah mengantuk.


Hanya saja, Syakil yang memeluk Ganeta di rumah sakit masih terbayang-bayang di matanya hingga pada akhirnya emosi Amara kembali membuncah dan berakhir dengan melemparkan guling dan bantal Syakil sementara suaminya turun ke dapur.


"Bisa-bisanya dia peluk sampai tutup mata begitu!! Nyebelin banget sumpah!!"


Amara geram luar biasa, jika bisa mungkin tempat tidur itu akan dia putar balik lantaran kekesalannya kini setinggi langit, napasnya menggebu dengan dada yang kiam terasa panas.


Meski Syakil sudah jelaskan berkali-kali jika alasannya hanya karena ingin memastikan perasaan, akan tetapi seorang wanita memang enggan berbagi sekalipun itu sentuhan suaminya.


Sementara di dapur, Syakil yang tengah menyeduh susu hangat untuk istrinya sama sekali tidak berpikir macam-macam. Pria itu meyakini saat ini sang istri tengah menunggunya, jelas saja dia harus cepat.


"Aarrghhh shitt!!! Ya, Tuhan ... air jahanaam!!"


Malam ini nampaknya kewarasan Syakil juga sedikit terganggu. Perkara percikan air panas saja dia marah-marah dan mengumpat tidak jelas seolah air mendidih itu akan mengerti ucapannya.


"Siialan!!"


Kakinya terasa perih, Syakil bahkan butuh waktu untuk bisa kembali fokus dan menyiampkan susu hamil untuk istrinya. Dia tidak mungkin kembali saat ini, bisa-bisa Amara kembali mengamuk jika sampai lidahnya dibuat terbakar akibat ulah Syakil.


"Calmdown, Syakil. Saat ini kamu akan selalu salah, hati-hati jika ingin baik-baik saja," tutur Syakil pada dirinya sendiri, sebelum kembali ke kamar mentalnya jelas saja harus siap dan memastikan nasibnya akan baik-baik saja setelah ini.


Hampir lima belas menit, ya dia paham ini cukup terlambat dan besar kemungkinan Amara akan mengamuk lagi, akan tetapi Syakil tetap berusaha untuk bersikap santai ketika memasuki kamar.


Astaghfirullahaladzim.


Syakil bahkan istighfar ketika memasuki kamar tidurnya, pria itu menggeleng pelan dan menelan salivanya pahit ketika menyadari betapa hancurnya keadaan di sini. Dia sudah ketar-ketir sejak tadi, kini pria itu semakin dibuat was-was.


"Sa-sayang ... maaf lama, tadi susunya salah," tutur Syakil sedikit mengada-ngada, hendak jujur jika kakinya terkena tumpahan air panas itu dia khawatir Amara justru mengomel malam ini.


Syakil meletakkan susu itu di atas nakas, meski dia lihat bantal dan gulingnya sudah bertebaran di bawah, pria itu tetap tenang dan tidak bertanya kenapa dan kenapa.


"Tidur?"


Pria itu baru sadar jika istrinya sudah terlelap begitu nyenyaknya, dengan selimut yang hanya menutupi mata kaki Syakil yakin jika Amara memang berontak dan meluapkan amarahnya beberapa saat lalu.


"Sayang, susunya minum dulu ...."


Tidak ada jawaban, pria itu menatap bingung segelas susu hangat itu. Sayang sekali jika tidak diminum, akan tetapi Amara sudah begitu lelap dan biasanya tidak akan bisa diganggu guggat.


"Tidurlah, kamu memang sudah mengantuk sejak tadi," ungkap Syakil menarik sudut bibirnya, malam ini dia aman dan kemungkinan tidak akan dia dengar ocehan Amara setelah ini.


Malam ini hanya bantal dan guling yang Amara lempar, entah besok-besok apa lagi. Syakil menghela napas pelan seraya memunguti bantalnya itu, jika Amara sudah marah memang akan melakukan hal di luar dugaan.


"Ck, tapi susunya mubazir."


"Aaaakkh ... leganya," tuturnya usai bersendawa cukup besar, sontak saja Syakil menutup mulut khawatir jika Amara terbangun mendengarnya.


Malam ini begitu rumit dan panjang, syukurlah Amara terpejam di saat Syakil sudah merasa lega setelah mengambil langkahnya. Syakil menepikan anak rambut yang menutupi wajah Amara, pria itu memandangi lekat-lekat setiap inci wajahnya.


"Maaf ya, Sayang. Aku selicik itu mengira kamu adalah dirinya dulu," tutur Syakil menyentuh pelan bekas luka yang begitu kecil di dekat kelopak matanya, Amara memiliki bekas itu sementara Ganeta tidak punya.


.


.


.


Malam kelam yang seakan takkan usai kemarin kini telah berganti, Amara bangun lebih dulu sementara Syakil masih terlelap dengan memeluknya begitu erat.


"Aku ketiduran, susunya sudah habis ... apa mungkin dia yang minum?"


Amara berbicara sendiri kala menyadari ada gelas kosong di atas nakas, tentu saja itu adalah gelas susu tadi malam.


"Dasar dodol, bibirnya bahkan belepotan ... dia buat susu sekental apa," tutur Amara ketika menyadari di atas bibir Syakil terlihat noda kecoklatan, persis anak balita yang baru belajar minum susu menggunakan gelas.


Deru napas suaminya masih teratur, Amara memandangi wajah sang suami untuk beberapa saat. Tampaknya pria itu memang lelah, sedikit menyesal dia melemparkan bantal Syakil ke lantai tadi malam sebenarnya.


Sayangnya, hal itu tidak bertahan lama. Perut Amara kini berontak dan panggilan alam membuatnya harus melepaskan Syakil lebih dulu, saat ini yang di Inginkan adalah kamar kecil, bukan dipeluk Syakil.


"Aaawww ... aku makan apa tadi malam!!" geram Amara sembari berlari kecil ke kamar mandi.


Sepeninggal Amara pergi, Syakil meraba ke sisinya. Pria itu sontak membuka mata kala menyadari jika dia kini sendirian. "Amara?"


Kantuknya mendadak hilang dalam sekejab, pria itu sadar sesadar-sadarnya dan mulai panik mencari Amara ke luar kamar, tentu saja dengan kehebohan tingkat tinggi yang membuat penghuni rumah terutama Mikhail yang tengah minum kopi di bawah sana panik luar biasa.


"Dasar sinting, kau kenapa teriak pagi-pagi begini?"


"Amara, Kak ... dia kemana? Aku bangun sendirian, biasanya dia selalu bangun siang akhir-akhir ini." Syakil cemas, pria itu berlari dan meminta para bodyguard bergerak cepat.


Sementara mereka yang berjaga masih yakin betul Amara belum pergi hanya bisa mematuhi keinginan Syakil, dia terlanjur panik bahkan belum sempat cuci muka.


"Ya, Tuhan Amara. Jika memang marah kenapa harus begini, Sayang? Don't leave me please."


Melihat adiknya persis ikan kehabisan air jelas saja Mikhail penasaran. "Ada apa? Kalian ada masalah, Kill?"


"Hm, aku mempertemukannya dengan Ganeta tadi malam, dan ketika aku bangun pagi-pagi ... Amara pergi," tutur Syakil mengacak rambutnya frustasi, janji Amara yang mengatakan jika takkan pergi hanya menjadi omong kosong bagi Syakil kini.


"What?!! Kau gila? Oh my gosh, Syakil!! Kalau sampai dia pulang ke Indonesia diam-diam bagaimana? Matilah kau, Syakil ... tidak lucu jika ditinggal kedua kalinya dan kau jadi duda di keluarga kita." Bukannya membuat tenang, Mikhail semakin membuat kepala Syakil seolah ingin pecah.


"Diam!! Kau bisa bantu cari? Jangan banyak bicara begitu!!"


"Bisa sebenarnya, tapi bagaimana ya ... aku harus ke kantormu, kan tugasku sekarang begitu. Kau sudah menggajiku cukup besar, harus tanggung jawab dong."


"Ya Tuhan, Mikhail. Aku bayar lagi, bantu aku cari istriku!!" desak Syakil terpaksa mengalah demi bisa melibatkan Mikhail yang biasanya pintar jika sudah bertindak dalam mencari keberadaan seseorang.


"Hm, jadi tidak enak. Tapi, kata Mama tidak baik menolak rezeki, ayolah kita bergerak!!"


-Tbc-


Hai-hai, malam ini aku bawa rekomendasi novel salah satu temanku, hayu mampir juga.