
Ini adalah awal dari kehidupan Amara yang sesungguhnya. Derajatnya seakan terangkat tiba-tiba, dunia secepat itu berubah. Bagai membalikkan telapak tangan, dia menjadi cinderella dadakan tanpa aba-aba.
Setelah sempat dibuat bingung dengan perlakuan beberapa pria berjas hitam di bandara, kini Amara dibuat tercengang kala mobil memasuki sebuah mansion yang jauh lebih besar dibandingkan kediaman mertuanya.
Wajar saja Mikhail berkali-kali meminta izin Syakil agar bisa untuk tinggal sementara di sini. Kalaupun semua penghuninya berada di dalam mansion tersebut, tampaknya berteriak di ruang tamu tidak akan terdengar di ruang makan.
"Selamat datang, Nona ... sepertinya perjalanan cukup melelahkan bukan?"
Amara mengangguk pelan, pria yang sebelumnya menunduk sebentar kini menyapanya begitu sopan. Amara merasa sedikit risih dengan perlakuan orang-orang di sini, padahal di rumah mertuanya saja sudah cukup risih, apalagi ini.
Jika Amara lihat-lihat, kemungkinan ruang geraknya akan lebih terbatas lagi daripada di tempat sebelumnya. Syakil bilang dia hanya tinggal bersama asisten dan beberapa maid saja di rumah ini, akan tetapi yang kini Amara temui terasa banyak sekali.
Mereka hanya berdua, kenapa pelayannya sebanyak itu. Syakil berlebihan, atau memang uangnya banyak untuk menggaji seseorang, pikir Amara.
"Kendrick, asistenku."
Ah, kehidupannya serius juga ternyata. Amara pikir hanya kehidupan Mikhail saja yang sibuk sekali seperti orang-orang penting. Wajah mereka cukup asing bagi Amara, mungkin butuh beberapa hari untuk bisa membedakan karena di mata Amara mereka hampir mirip semua.
"Pendiam, dia manis seperti yang Anda ceritakan."
Syakil hanya tersenyum mendengar pujian Kendrick untuk istrinya. Pria itu tidak menyalahkan pernyataan Kendrick, wanitanya memang pendiam dan tidak banyak tanya. Bahkan saat ini Amara tidak berniat untuk mengungkapkan namanya pada Kendrick, luar biasa.
Memasuki tempat tinggal barunya, Amara tidak melepaskan Syakil walau sesaat. Seakan takut padahal ini adalah tempat pulang yang sebenarnya bagi Amara.
Amara menatap sekeliling layaknya seseorang yang tidak pernah memasuki tempat tinggal semewah ini, padahal Amara juga pernah merasakan hidup berkecukupan sebelumnya. Akan tetapi, kali ini entah kenapa Amara benar-benar merasa seperti seseorang anak yang dipungut pria kaya.
Sudah berusaha untuk terlihat biasa saja, akan tetapi tetap saja mata Amara berjalan kemana-mana dan dia tengah mengagumi kekayaan suaminya sendiri bahkan mulutnya terbuka hingga Syakil terkekeh dibuatnya.
"Woah ... wajar kak Mikhail minta ini itu, kaya ternyata," tuturnya masih belum bisa menutupi kekaguman pada suaminya sendiri.
"Memang, aku bahkan lebih kaya dari yang kamu bayangkan, Ra."
Syakil menaikkan alisnya, pria itu tengah membanggakan diri sendiri. Amara yang tadinya memuji kekayaan Syakil sontak menyesal hingga ke akar-akarnya.
"Sekarang semuanya juga milikmu, Ra."
Sama seperti Mikhail yang mencintai seorang wanita akan sedalam itu, Syakil juga demikian. Ketika dia berhasil mendapatkan seseorang di dalam hidupnya, maka Syakil akan berusaha membuat mereka betah dengan apapun caranya.
"Kenapa begitu?"
Amara mengerutkan dahinya, sedikit bingung kenapa Syakil tiba-tiba bicara seperti itu.
"Kata Papa, kalau sudah menikah apa yang dimiliki suami itu jadi hak istri ... jadi, apapun yang aku punya, itu berarti milik sama-sama karena kita sudah menikah."
Pernyataan yang berhasil membuat Amara ingin guling-guling. Sungguh, sebelumnya sama sekali belum ada pria yang berhasil membuat hati Amara sehangat ini.
Dia benar-benar menyeret Amara dalam hidupnya tanpa membawa apa-apa. Jangankan harta, belum apa-apa Amara bahkan sudah menguras kantong Syakil tanpa dia sengaja.
"Ehm, jangan terlalu dipikirkan ... kamu lelah kan? Tidur sana, sudah hampir larut," tutur Syakil usai menatap pergelangan tangan kirinya.
"Sendiri?" tanya Amara menatap tajam Syakil, belum juga sehari di sini tapi sudah ditinggal begitu saja.
"Iya sendiri dulu, ada sesuatu yang ingin ku kerjakan sebentar ... nggak akan lama, sumpah."
Syakil tetaplah Syakil, pria yang akan selalu menghabiskan waktunya untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Lama bersantai dan mengandalkan Kendrick seorang, Syakil jelas saja harus kembali ke dunianya.
.
.
.
"Ck, kan bohong lagi."
Wanita itu mendengkus kesal, dia mulai gelisah karena tempat ini begitu asing baginya. Semakin kamarnya mewah, Amara justru takut sendiri lantaran di tempat ini tidak dia dengar tanda-tanda kehidupan lain di sekitarnya.
Amara berlalu keluar, meski dia tidak yakin bisa menemukan Syakil dalam waktu dekat, sebagai wanita yang suka tantangan, Amara akan berusaha menaklukannya malam ini.
"Haah!! Astaga ...."
Sejak tadi sudah dibuat ketar-ketir, kini jantungnya seakan dibuat lepas dari tempatnya kala menyaksikan seorang pria tengah berjaga di depan pintu kamarnya.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" Pria itu bertanya dengan wajah datar dan sukses membuat Amara takut sebenarnya.
"Ka-kalian kenapa di sini?" tanya Amara sedikit kaku karena dia masih sepanik itu dan sempat menduga sosok itu adalah penghuno ghaib mansion ini.
"Kami ditugaskan tuan untuk menjaga Nona," jawab pria itu dan membuat Amara menatap keduanya tak percaya, dugaan Amara sebelumnya benar sekali.
"Menjagaku? Aku baik-baik saja di kamar dan tidak ingin pergi kenapa harus dijaga?"
Percayalah, diikuti kemana-mana saja Amara sudah lelah. Kini, Syakil justru meminta orang-orangnya untuk menjaga Amara bahkan dari depan pintu kamar, jelas saja wanita itu kesal luar biasa.
Tidak ada jawaban setelah itu, mungkin tugas mereka hanya menjaga dan bukan untuk berbicara pada Amara. Mereka fokus menghadap ke depan dan ini benar-benar menyebalkan bagi Amara.
Terlalu sebal dengan mereka, Amara kembali melanjutkan langkahnya. Ya, tujuan awalnya adalah mencari Syakil, jelas saja yang harus dia tuju adalah ruang kerja sang suami.
"Kalian kenapa ikut?"
"Anda mau kemana? Tuan tidak mengizinkan Anda berada dalam kesulitan, Nona."
Jika hidup sudah begini rasanya lebih baik biasa saja, Amara menggosok wajahnya kasar dan berpikir sepertinya Syakil perlu diruqyah lebih dulu agar tidak segila ini.
"Ruang kerja suamiku dimana? Katakan saja dimana tempatnya, aku bisa sendiri."
Amara tidak terbiasa begini, sungguh dia bukan putri kerajaan yang perlu diikuti begini. Lagipula ini didalam rumah, kenapa juga harus diikuti pengawal hingga dua orang begini, pikirnya.
"Letaknya di sebelah barat, mari saya antar, Nona."
Hendak menolak namun tidak bisa, Amara mengikuti langkah pria itu meski dadanya kesal luar biasa.
"Silahkan, Nona."
Pintu dibukakan, Amara tengah bermimpi masuk dunia novel atau bagaimana sebenarnya. Terserahlah, untuk saat ini Amara hanya ingin mencari suaminya, itu saja.
"Tidur?" Amara menghela napas panjang kala Syakil justru tertidur sembari bersandar di kursinya, mungkin kelelahan dan itu tidak disengaja.
-Tbc-
Rekomendasi Novel dari salah satu teman Author, mampir jika berkenan.
Judul : 336 Hours
Karya : Triple.1