
Di kantor Syakil sama sekali tidak fokus, ditanya apa jawabnya apa. Pada akhirnya dia yang marah dan Kendrick kembali jadi sasaran, ya semenjak menikah sepertinya Syakil benar-benar melupakan siapa yang menemaninya. Tapi, tidak masalah selagi bayarannya tidak terusik, pikir Kendrick.
"Tinggalkan aku sendiri, aku mual, Ken."
"Karena apa, Tuan? Masuk angin atau yang lainnya?" tanya Kendrick memang memiliki mental baja, berani-beraninya dia bertanya padahal sudah jelas saat ini dia hanya cari masalah.
"Karena melihat wajahmu, banyak tanya."
Sensi sekali, persis wanita datang bulan. Kendrick hendak berlalu tanpa pamit karena sedikit sebal dengan kelakuan Syakil yang tiba-tiba sama sekali tidak dewasa begini, padahal sebelum menikah Syakil bahkan tetap tenang sekalipun dalam keadaan terdesak, kini hanya perkara dia bertanya apa penyebab mualnya Syakil bahkan tidak suka. Akan tetapi hal itu dia urungkan mengingat kebaikan Syakil padanya di masa lalu.
"Baiklah, saya pergi jika begitu ... tapi jika Anda butuh bantuan, hubungi saja saya dan saya ak_"
"Bisakah kau diam sehari saja? Berisiknya ya, Tuhan."
Syakil mendengkus dan mengacak rambutnya kesal. Pria itu tampaknya memang marah besar, tanpa sebab dan Kendrick sudah berusaha melakukan yang terbaik demi membuat Syakil puas dengan hasil kerjanya.
"Maaf, Tuan."
Tidak akan bicara dua kali, tatapan matanya sudah setajam itu dan sangat berharap Kendrick paham maknanya. Pria itu berlalu setelah menundukkan kepalanya, untuk beberapa waktu kedepan tampaknya Kendrick akan lebih banyak makan hati daripada makan gaji.
Sepeninggal Kendrick pergi, Syakil merogoh ponselnya dan menghubungi Amara. Hanya untuk mengadu sebenarnya, karena biasanya secuil perhatian dari Amara bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
"Hai, Sayang."
Caranya menyapa persis manusia kurang gizi, Syakil bersandar di kursi kebesarannya dengan kaki yang kini sudah berada di atas meja. Pria itu tersenyum hangat kala menyaksikan istrinya tengah makan siang, dan porsinya cukup banyak.
"Sendirian?" tanya Amara lembut seperti biasa.
"Hm, aku sendiri."
Pendek sekali pertanyaan istrinya, tidak ada manis-manisnya padahal Syakil butuh sekali. Bingung juga cara Amara pacaran bagaimana? Sesulit itu Amara memanggil Syakil dengan sebutan manis seperti yang pria itu kerap lakukan.
"Kamu sayang aku nggak sebenarnya?"
"Hah?"
Pertanyaan konyol dan ini sangatlah asing di telinga Amara. Pria itu bertanya sesuatu yang seharusnya bisa dia jawab sendiri, aneh sekali bukan.
"Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Amara bahkan berhenti makan demi fokus kepada suaminya ini.
"Aneh saja, aku merasa kamu hanya memandangku sebelah mata ... melayaniku semata-mata hanya karena tugasmu sebagai istri, kamu nggak sayang aku kan?" tanyanya persis remaja yang baru mengenal cinta, butuh sekali validasi dan ini hanya membuat Amara menghela napas panjang.
"Ih kamu gila ya?"
Dicap sebagai suami gila, ya tidak masalah karena saat ini Syakil memang tengah cari gara-gara. Sewaktu mendapatkan Amara memang dia tidak peduli tentang perasaan wanita itu. Akan tetapi, saat ini Syakil butuh validasi dan takut sekali jika Amara hanya menjalani peran tanpa perasaan.
"Iya, Ra ... aku memang gila, gila karena kamu."
Dia menarik sudut bibir, ucapan Amara sebelumnya dapat saja memiliki arti jika istrinya memang cinta. Menggemaskan sekali jika Amara sudah cemberut begitu, wajahnya yang tadi kusut kini mulai sedikit tersenyum, setidaknya perasaan Amara dapat dia raba sejelasnya.
Hening, beberapa saat mereka terdiam dan berakhir dengan Syakil yang kini memandangi wajah istrinya. Hingga sang istri sudah selesai makan namun dentingan sendok masih terdengar. Tunggu, apa mungkin Ester ikut makan di meja makan? Tapi rasanya tidak akan mau.
"Sayang, kamu sama siapa?" tanya Syakil ragu dan mendadak firasatnya tidak baik-baik saja.
"Sama ... taraaaa, ada kak Zia di sini!! Kak Mikhail juga, kamu pulangnya masih lama ya?"
Deg
"Mi-mikhail? Kamu bercanda kan, Sayang? Kata kamu tadi pagi dia sedang dalam perjalanan, kenapa secepat itu?"
Syakil mendadak bingung sendiri, kenapa bisa Mikhail sudah tiba di mansionnya bahkan ikut makan siang. Padahal, tadi pagi jelas-jelas Amara mengatakan mereka sedang dalam perjalanan.
"Ya bener sedang dalam perjalanan, perjalanan ke sini maksudnya," jelas Amara tanpa dosa dan dia merasa jawabannya tadi pagi tidak salah.
Memang benar-benar menyebalkan, baik Kanaya maupun Mikhail sepertinya sengaja membuat darah Syakil tumpah hari ini. Pria itu menatap datar sang kakak yang terlihat begitu menawan persis pengantin baru yang akan bulan madu.
"Pulanglah, aku butuh penjelasanmu, Syakil ... kenapa tempat tinggalmu yang sebelumnya sudah dihuni orang lain," sahut Mikhail masih terdengar jelas di telinga Syakil, tampaknya memang Mikhail sengaja datang tanpa mengabari Syakil lebih dulu.
.
.
.
Dengan perasaan tak menentu, Syakil pulang tanpa memberitahu Kendrick lebih dulu. Seorang penguras harta tengah sudah menemukan tempat peristirahatannya, bisa dipastikan selain mengusik keuangan Syakil pria itu juga akan membuat waktu Syakil terbuang demi memenuhi keinginannya, lihat saja nanti.
"Ayolah, kenapa lambat sekali!!" gerutu Syakil mengutuk dirinya, perjalanan ke mansionnya terasa amat lama padahal sudah berusaha melaju secepat mungkin.
Delapan menit jarak tempuhnya siang ini, rekor tercepat yang pernah Syakil rasakan. Pria itu memasuki mansion dengan perasaan yang tidak menentu, bodyguard Amara dibuat bingung dengan kedatangan Syakil yang tidak seperti biasanya.
Hingga, ketika dia masuk suara yang selama ini kerap membuatnya naik darah sudah terdengar. Sepertinya tengah menghubungi seseorang yang juga Syakil kenali.
"Hahah benar sekali, Nathan ... adikku memang sepertinya tidak bisa berpisah denganku terlalu lama, tapi sayang sekali aku hanya punya waktu beberapa minggu dalam setahun untuk melihat keadaannya di sini."
Cih, menyebalkan sekali. Syakil bersedekap dada demi mendengarkan karangan bebas kakaknya itu. Sudah tidak lagi muda dan dia masih saja berulah, demi apapun rasanya ingin sekali mendaratkan bogem mentah di ubun-ubun Mikhail.
"Ah ya sudah, lain waktu kita bisa bertemu. Aku tidak terlalu lama di sini, paling satu bulan lah ... kita manfaatkan saja waktu selama aku di sini, Nat."
Mata Syakil sontak membeliak mendengar ucapan Mikhail, memang sepertinya suami Zia ini makin tidak terkendali seiring dengan bertambahnya usia.
Hingga Mikhail menoleh dan menyadari keberadaan Syakil barulah dia memutuskan sambungan teleponnya, pria itu tersenyum hangat demi menyambut sang adik yang luar biasa membanggakan ini.
"Kau benar-benar pulang? Woah aku jadi tidak enak, seharusnya kau teruskan dulu pekerjaanmu, Kill baru pulang ... lagipula aku tidak akan pergi cepat-cepat."
"Percaya diri sekali, siapa yang pulang demi dirimu, Mikhail." Syakil menghempaskan tubuhnya di sofa tepat di hadapan Mikhail, dia tengah membaca bahasa tubuh kakaknya ini.
"Ck, jangan malu mengakui jika memang kau menunggu kedatanganku," ungkap Mikhail masih tetap percaya diri jika Syakil benar-benar menantinya.
"Bagaimana perjalananmu? Cepat sekali," sindir Syakil yang merasa dibohongi akan kehadiran kakaknya ini.
"Hmm lumayan, kami tiba tadi malam sebenarnya ... tapi kau tidak lagi di tempat lama. Terpaksa aku dan Zia tidur di hotel, kau memang kurang ajar, Syakil." Sebal sekali sebenarnya Mikhail, nampaknya Syakil memang sengaja tidak mau diusik hingga dia kembali memblokir nomor ponsel Mikhail maupun Zia, begitupun dengan nomor ponsel Amara yang tidak bisa dihubungi.
"Ck, yang penting kalian berdua sudah tiba di tempat ini." Mau tidak mau dia harus terima, dia lupa jika Kanaya bisa saja memihak pada Mikhail sewaktu-waktu, wajar saja Kanaya memilih menghubungi Amara dan menanyakan alamat mereka, tentu saja ini adalah perintah Mikhail.
"Yang ini lebih mewah dan megah, kau benar-benar berencana punya anak tujuh, Kill?" tanya Mikhail mengalihkan pertanyaannya, memang hal itu sebenarnya tidak perlu namun masih juga dia pertanyakan.
"Hm, kalau Amara mau ... tapi aku tidak akan memaksa istriku hamil sepertimu." Syakil berbicara seriua kemudian melempar bantal kecil itu tepat di wajah Mikhail.
-Tbc-
Hallow, nih rekomendasi novel buat dibaca mulai malam ini. Babay❣️