My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 86 - Dipeluk Duka



Tanpa pamit, Syakil meninggalkan Ibra sendirian. Sama sekali tidak peduli dengan teriakan sang papa yang menahan kepergiannya, untuk pertama kalinya dia menjadi pembankang. Terserah, Syakil tidak begitu peduli lagi dengan semua ini.


Beberapa orang di sana merasa terkejut dan bertanya-tanya dengan tanda kemerahan di wajah Syakil, sudah pasti itu adalah bekas tamparan yang dia dapat dari papanya.


Syakil tidak banyak bicara, dia melaju dengan kecepatan tinggi. Pria itu memecah padatnya lalu lintas ibu kota, tatapannya fokus ke depan, tujuannya hanya Amara kali ini.


Tiba di apartemen Syakil mencari keberadaan Amara, tampaknya Kanaya belum pulang. Suara wanita itu masih begitu jelas, gelak tawa sang mama dapat menjelaskan jika mereka tengah bahagia.


"Kamu ngidam apa jahil, Ra? Ya Allah memang rasanya beda kalau yang goreng bukan orang hamil?" tanya Kanaya menggeleng pelan begitu mengetahui alasan mereka pulang mendadak.


"Beda, Ma ... namanya juga cireng hamil, ya harus hamil dong."


Istrinya terlihat leluasa sekali berbincang bersama sang mama siang ini. Tanpa Amara ketahui jika dirinya tengah dipeluk duka, Syakil masih berdiri dari jarak beberapa meter dari mereka. Memberikan Amara dan Kanaya waktu agar keduanya lebih dekat, Syakil menarik sudut bibir dan hatinya seakan menghangat begitu mendengar lelucon dua bidadarinya itu.


"Padahal dulu Syakil pas dalam kandungan anteng banget loh, Ra ... bahkan ni ya dia tu pas lahir ke dunia aja nggak nyusahin," tutur Kanaya seraya menepuk pelan pundak menantunya, melihat senyum lebar Amara dia bahkan lupa jika Ibra tadi malam semarah apa.


"Tapi kamu ada keluhan nggak selama hamil? Yang menurut kamu aneh gitu, Ra."


"Enggak sih, Ma ... cuma kadang aku sebel lihat muka Syakil, nggak tau kenapa kesel aja gitu."


Kanaya terbahak, memang pada faktanya ada seseorang yang hamil dan membenci suaminya sendiri.


"Biasanya mirip Papanya nanti kalau kamu kesel liat Syakil, haduh nggak sabar lihat cucu Oma yang ini. Kalau mirip Syakil mah Alhamdulillah banget, jangan sampai mirip Om Mikhail ya, Sayang."


Gleg


Amara menelan salivanya pahit, sekesal-kesalnya dia pada Syakil lebih kesal lagi pada Mikhail. Pernah suatu hari Amara bahkan kesal walau hanya mendengar namanya saja, wanita itu segera mengelus perutnya berkali-kali sambil berucap dalam hati "Jangan mirip kakak ipar sintting itu ya Allah."


"Gi-gitu ya, Ma?"


"Iya, Ra ... mitosnya sih begitu, kalau kita kesel banget lihat orang pas hamil nah biasanya bakal mirip, tapi itu pas hamil Mikhail Mama nggak kesel sama papanya malah mirip seratus persen, sampai sifatnya diambil semua," tutur Kanaya kemudian, sontak Amara menghela napas lega. Setidaknya ada kemungkinan bayinya takkan mirip Mikhail, kakak ipar meresahkan yang sudah menguji mentalnya sejak awal perkenalan.


Hingga, beberapa waktu Kanaya baru tersadar jika di belakang mereka sang putra tengah berdiri seraya bersedekap dada. Kanaya tersenyum kemudian pamit undur diri karena merasa tugasnya sudah selesai, lagipula sejak tadi mereka hanya nonton televisi.


"Sayang, Mama pulang dulu ya ... Papa sendirian di rumah, besok-besok Mama datang lagi," ucap Kanaya yang berhasil membuat Amara mengerutkan dahi, kenapa mertuanya harus pamit, pikirnya.


"Kok cepet, Ma?"


"Ini sudah jam berapa, Mama lupa siapin makan siang buat dia ... bisa marah ntar," jawab Kanaya sedikit mengada-ngada, sebenarnya Ibra tetap bisa makan siang meski tanpa dirinya.


"Titip salam buat Papa ya, Ma."


Kanaya mengangguk dengan senyum hangatnya, mata polos Amara benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Wanita setulus ini tidak pantas Ibra pandang sekecil itu, Kanaya bisa merasakan jika Syakil benar-benar menyayangi anak ini.


"Iya, Mama pulang dulu. Tuh suami kamu udah nunggu dari tadi."


Amara menoleh, baru menyadari jika Syakil sudah berdiri di sana. Wajar saja mertuanya buru-buru pulang, pasti akibat kedatangan suaminya, pikir Amara.


Langkah Kanaya membawanya menghampiri Syakil lebih dulu, dia perlu memastikan apakah putranya terluka atau tidak. Karena tidak jarang Ibra main pukul pada kedua putranya.


"Pipi kamu kenapa?"


"Bukan apa-apa," jawab Syakil singkat sembari memalingkan wajahnya.


"Ya seperti dugaan Mama, kayak nggak tau Papa aja." Syakil menjawab dengan malas dan hal itu hanya ditanggapi dengan helaan napas kasar oleh Kanaya, sudah dia duga Ibra akan begini.


"Kamu kurang ajar, Syakil?"


"Mama tanya sama Papa saja, sudah pulanglah ... Babas sudah siap dibawah," jawab Syakil kemudian, dia menolak untuk menjelaskan. Hanya seuntai senyum dia berikan, karena kemungkinan besar mamanya akan marah jika Syakil jujur.


.


.


.


.


Setelah kepergian Kanaya, saat ini hanya ada mereka berdua. Amara menyambut kedatangan sang suami sebagaimana perjanjian ketika mereka masih di sana. Ya, peluk seerat-eratnya kalau perlu sampai Syakil mengeluh sakit dan minta dilepaskan.


"Pipi kamu kenapa?" tanya Amara menyadari jika wajah Syakil terlihat berbeda, rasanya tidak mungkin jika itu akibat perubahan cuaca.


"Hm, biasalah ... tadi di jalan ada ibu-ibu marah karena diserobot antirannya, jadi ditampar deh dua-duanya."


Syakil berbohong jelas saja, mana mungkin sungguhan alasannya itu. Dia mencebik dan memperlihatkan betapa kacaunya hari ini, akan tetapi seorang Amara tidak semudah itu percaya dengan ucapan suaminya.


"Kamu bohong ya? Jawab aku ... ditampar Papa?"


Amara memang tidak mengetahui tujuan suaminya menemui sang papa untuk membicarakan apa. Akan tetapi, kemana tujuannya sempat Syakil utarakan padanya beberapa waktu lalu.


"Bukan, Sayang. Aku anak kesayangan Papa mana mungkin Papa tega nampar begini," jawab Syakil lagi, dia tidak mau Amara berpikir macam-macam lebih dulu. Terpenting untuk saat ini dia membuat Amara percaya bahwa Ibra takkan mungkin menyakitinya.


"Tapi bekasnya begini," ungkap Amara seraya mengelusnya pelan. Aneh sekali jika itu adalah tamparan seorang wanita, terlihat jelas jika tamparannya sekeras apa.


"Lupakan, nanti juga sembuh sendiri ... tadi bicarain apa sama Mama? Aku denger sedikit, kayaknya seru." Memaskasan diri untuk terlihat baik-baik saja padahal batinya jengkel luar biasa.


"Banyak, aku sampai lupa. Mama asik banget ternyata, awet muda lagi," puji Amara kemudian diangguki oleh Syakil, fakta yang bicara memang mamanya terlihat awet muda.


"Itu karena Mama nggak suka marah-marah, awet muda ... kamu lihat, umurnya jauh beda dari Zia, tapi kalau mereka deketan malah seperti saudara," tutur Syakil hiperbola, padahal tidak semuda itu juga perbandingannya.


"Maksud kamu aku bakal cepat tua gitu?"


"Ya enggak, kan aku nggak bilang kamu suka marah," ujar Syakil menarik sudut bibir, mudah sekali istrinya panas, baru begini saja dia sudah menerka yang tidak-tidak.


"Ih tapi arahnya kesana kan?"


"Sama sekali bukan keasana istriku, cintaku ... sudah aku mau tengokin anak kita, kangen juga." Syakil mengalihkan pembicaraan karena merasa sudah berada di garis ancaman.


"Heh!! Siang-siang begini masa?"


"Apasih, Ra? Cuma lihat dari luar, bukan ngajak gituan sekarang," ucap Syakil menjitak jidat Amara, tampaknya sel-sel di tubuh istrinya ini selalu menunjukkan reaksi ke arah yang iya-iya.


-To Be Continue-