
Pasca kejadian itu, Syakil lebih banyak menghabiskan waktu bersama Amara. Entah karena memang sudah bosan bekerja atau karena hal lainnya, akan tetapi saat ini Syakil memang berusaha menikmati waktu hanya untuk berdua.
"Peluk terus, istrimu itu bukan kelinci yang sewaktu-waktu bisa lari," tutur pria dengan tubuh berisi namun tetap terlihat tampan itu sembari menghampiri mereka di pagi yang cerah ini, merusak suasana adalah kemampuan paling mencolok dalam diri Mikhail.
"Kemarin kau bilang apa? Fungsinya istri buat apa kalau bukan buat dimanja?" tanya Syakil santai tanpa berniat merenggangkan pelukannya sama sekali, Amara hanya bisa pura-pura terlihat biasa saja padahal malu sudah menguasai dirinya.
"Iya juga ya, aku lupa."
Sejak dulu memang Mikhail tidak punya malu, jadi hal semacam ini terlihat biasa di matanya. Sekalipun dia menyaksikan pasangan bercinta di hadapannya, Mikhail tidak akan menganga ataupun memberikan reaksi berlebihan. Kehidupan di masa mudanya membuat Mikhail demikian, baginya bagaimana pun orang lain di hadapannya terserah.
"Lanjutkan saja, sesekali sarapan yang manis, Kill ... jangan cuma jadi makan malam saja," ucapnya santai namun keduanya paham jika makna sebenarnya bukan benar-benar perihal makanan.
"Sudah, aku sarapan kira-kira jam empat pagi ... kau bagaimana? Bukankah lebih banyak cuti sekarang?"
Pembicaraan macam apa ini, terlalu dewasa dan bahkan Amara merasa belum pantas dia dengar. Memang keduanya sama saja, sama-sama gila.
"Iya mau bagaimana, bayiku yang kali ini kurang suka ditengokin papanya ... beda sama kakaknya," jawab Mikhail yang membuat permasalahan ini semakin lebar saja, Amara sudah pura-pura tidak mendengarkan dan sengaja meletakkan gelas kaca itu dengan sedikit kekuatan demi membuat kakak beradik ini berhenti membahas hal semacam itu.
"Ah kasihan ... mungkin anakmu bingung yang nengokin ular piton atau paralon, Khail."
Wajah Mikhail sontak berubah datar, pria itu menatap kesal Syakil karena memiliki kalimat yang benar-benar berhasil membuatnya terhenyak.
"Pembicaraanmu terlalu dewasa, aku jadi takut."
Mikhail memilih berlalu dan kembali ke kamarnya. Meninggalkan dua insan yang sejak kemarin seolah tidak bisa dipisahkan, tepatnya Syakil yang selalu membuntuti keberadaan istrinya.
Ketika Mikhail pergi, Syakil bukannya melepas melainkan kian mengeratkan pelukannya. Beberapa kali dia juga mengecup kepalanya berkali-kali, rambut Amara benar-benar candu yang nyata bagi Syakil.
"Bisa lepas sebentar nggak? Aku mau buat susu sebentar aja." Amara meminta baik-baik, karena memang suaminya ini tidak terkendali bahkan membuat Amara menghela napas kasar berkali-kali.
"Kan tetap bisa, kita tetap begini."
Aneh sekali sebenarnya, Syakil yang senantiasa menempel begini justu membuat Amara berpikir keras tentang perubahan suaminya ini.
"Kamu tu sebenarnya kenapa? Apa aku buat salah sampai kamu begini?"
Lama kelamaan Amara resah, dia menyadari jika Syakil tampaknya memang berbeda. Sebelumnya dia memang posesif, akan tetapi tidak sebegininya.
"Bukan begitu, Amara ... nggak ada yang salah, aku cuma ingin menjadikan pundak kecil ini sebagai sandaran, Sayang ... nggak lebih." Syakil tengah meyakinkan dirinya, jika memang yang dia butuhkan adalah Amara. Meski memang wajah pertama yang membuatnya takluk adalah Ganeta, akan tetapi saat ini dia benar-benar memantapkan jika Amara adalah wanita yang berbeda dan tidak perlu dipermasalahkan.
.
.
.
"Saya tidak yakin wanita ini adalah wanita yang selama ini Anda cari ... dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, Ganeta tidak bisu kan?"
"Bisu?"
"Iya, benar-benar diam dan sama sekali tidak menjawab pertanyaanku ... Bukankah kekasih Anda itu gadis yang pintar, Tuan?" tanya Kendrick lupa keadaan dan mata tajam itu menatapnya seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.
"Berhenti mengatakan dia kekasihku, istriku dengar bisa-bisa mati aku."
Sebenarnya bukan hanya hal itu saja, Syakil memang cukup risih ketika dia mendengar kalimat itu. Sebelum memiliki Amara memang dia masih terus menanti kehadiran Ganeta dan di dalam benaknya, wanita itu tetap kekasihnya. Namun, itu beberapa bulan lalu dan tidak untuk sekarang.
"Maaf, Tuan ... lalu bagaimana dengan orang tua Ganeta? Apa Anda benar-benar menghubunginya?" tanya Kendrick cemas, jika sampai orang tua Ganeta mengetahui hal semacam ini jelas saja dia yang kena batunya.
"Belum, biarkan saja dia mengetahui sendiri ... mereka tidak akan diam saja jika Anaknya sampai pergi, Ken."
Sama sekali Syakil tidak berkeinginan untuk menghubungi Wiranata. Sekalipun pria itu mengetahui kabarnya, biarkan saja Wira mendapatkan info itu dari pihak lain.
"Sepertinya begitu, setelah saya lihat-lihat aku yakin Ganeta mengalami masalah dengan kesehatan mentalnya ... dia bahkan takut jika dokter mendekatinya, rasanya tidak mungkin dibiarkan pergi lebih dari 24 jam," tutur Kendrick kemudian, tanpa perintah Syakil memang dia menjaga wanita itu sejak satu minggu yang lalu.
"Lalu denganmu?"
"Tidak, tapi saya hanya berani bicara dari jauh ... matanya menakutkan, seperti ingin menelan musuhnya hidup-hidup, atau mungkin akalnya memang sudah tidak sehat lagi," tutur Kendrick mengingat bagaimana berontaknya Ganeta setelah siuman dari pingsan yang tidak berkelanjutan itu, sungguh dia masih bersyukur karena wanita itu tidak mengalami cidera yang serius.
"Gila maksudmu?" tanya Syakil kemudian, dia bahkan meletakkan kembali gelas minuman yang sejak tadi belum dia tuntaskan dengan sepenuhnya.
"Hm, kasihan sebenarnya ... seperti ada sesuatu yang dia cari tapi entah apa karena semua yang aku tanyakan selalu salah di matanya," keluh Kendrick sepertinya memang benar-benar selelah itu untuk saat ini.
"Ck, kepalaku semakin pusing saja."
Tampaknya dia hanya semakin gelisah jika tidak menuntaskan perasaannya. Beberapa kali dia coba tetap saja rasa bersalah kepada dua-duanya begitu nyata, perihal pilihan jelas saja Amara. Hanya saja, ada sesuatu yang ingin dia tuntas dan pastikan dengan sejelas-jelasnya, hati Syakil takkan bisa menjawab jika belum melakukan pembuktian.
Syakil beranjak dari ruang kerjanya, meninggalkan Kendrick yang masih duduk di sana. Dengan langkah panjang dia melangkah tanpa peduli jika ini adalah malam hari dan seharusnya dia menghampiri istrinya untuk tidur.
Dia hampir saja memutuskan untuk pergi sendiri dalam waktu cepat, akan tetapi langkahnya kini terhenti dan Syakil kembali ke kamarnya.
"Amara ... kamu sudah tidur?" tanya Syakil kala pintu kamar bahkan belum terbuka dengan sempurnya, kebetulan saat ini sang istri masih duduk di tepian ranjang tengah menungunya.
"Belum, aku masih nunggu kamu," jawab Amara sopan dan jujur seperti biasanya, dia bahkan sudah menguap beberapa kali namun demi Syakil dia tetap bertahan dengan rasa kantuknya.
"Ikut aku ya, masih bisa ditahan nggak ngantuknya?" tanya Syakil menepikan rambut Amara begitu lembutnya.
"Bisa, ikut kemana memangnya?" tanya Amara mengerutkan dahi, tumben sekali Syakil mengajaknya keluar, terutama di malam hagi begini.
"Rumah sakit, sebentar saja." Sebenarnya tidak tega namun entaj kenapa hati Syakil tergerak untuk membawa Amara kali ini.
............ Lanjut