My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 87 - Jalan Terbaik



Terlalu pusing dengan apa yang kini terjadi, Syakil memilih kembali lebih awal. Meski sempat mengundang tanya bagi Amara, pria itu mampu menjelaskan dan memberikan penjelasan bahwa mereka harus benar-benar kembali.


"Pulanglah, Mama akan berusaha melunakkan hati Papa ... jangan terlalu dipikirkan, Papa hanya sedang emosi saja."


Amara mulai mencium aroma tidak beres, pasalnya kali ini yang mengantar ke bandara hanya Kanaya saja. Selain itu, janji Syakil untuk membawanya ke rumah utama tidak terealisasikan.


"Sayang, Papa marah ya? Sama siapa?"


"Aku, sebenarnya kita belum diizinkan pulang ... tapi mau bagaimana lagi, kamu tahu sendiri kan jika Mikhail yang ada di sana bagaimana nasib perusahaan," tutur Syakil lembut, takkan pernah dia ungkapkan sebab marahnya Ibra.


Kanaya juga tampak mendukung kebohongan putranya kali ini. Bukan berarti jahat, hanya saja hal itu terpaksa mereka lakukan demi kebaikan Amara sendiri. Ada kalanya sesuatu harus tetap disembunyikan demi menjaga batin satu sama lain.


"Iya, Amara. Kamu tau sendiri kan Papa sangat-sangat mengharapkan kedatangan kalian, sekalinya pulang eh cuma sebentar."


Amara tersenyum hangat mendengar perkataan Kanaya. Dia merindukan sosok papa, sudah lama tidak dia rasakan seseorang yang merasa takut akan kepergiaannya.


"Maaf, Ma ... nanti pulang lagi. Iya kan, Sayang?"


"Ehm, pasti! Mama tunggu saja."


Syakil menatap kelu senyum kebahagiaan Amara. Sejak awal menginjakkan kaki ke tanah air, Syakil sudah bersusah payah menjaga hati Amara di saat hatinya sendiri remuk tak berbentuk akibat ego sang papa.


"Dah sana, Amara jaga makannya ya. Ngidamnya jangan yang aneh-aneh, sama Syakil juga jangan ditengokin tiap hari, capek istri kamu tau nggak?!"


Di saat-saat begini Kanaya masih bisa melayangkan serangan mautnya. Sebuah kalimat yang tiba-tiba membuat Syakil panas sendiri, terbakar perasaan malu lantaran Bastian mengejeknya tanpa henti.


"Nggak apa-apa dong, Nya ... biar lahan sawitnya subur kan harus disiram terus. Iya kan, Den?" tanya Bastian mencairkan suasana, dia bingung kenapan akhir-akhir ini keluarga Megantara tampak tegang sekali.


"Ck, Mama kenapa harus bawa dia kesini."


"Eh, Den ... namanya juga sudah dewasa santai saja lah."


Pria itu mengabdi cukup lama sebagai sopir pribadi keluarga kecil Mikhail. Jelas saja dia mengikuti pertumbuhan Syakil hingga beranjak dewasa. Putra Ibra yang dia kenal sebagai anak baik dan terhindar dari pergaulan bebas itu akhirnya merasakan juga kebahagiaan sesungguhnya.


"Diam, Om. Lebih baik jaga baik-baik culamu itu ... nanti ditangkap bahaya, Om kan sudah langka," ungkap Syakil datar dan berhasil membuat Kanaya mendelik tak suka.


"Heh nggak boleh gitu, Om Babas udah baik loh masa kamunya nggak sopan."


Putranya sudah dewasa, aneh sekali diejek begitu dia memerah. Padahal yang seharusnya malu adalah Amara, bukan dirinya. Syakil kesal luar biasa dengan ejekan Babas yang membahas masalah lahan sawit di hadapannya, sungguh tidak indah sama sekali.


"Ya dia bilangnya lahan sawit segala, memangnya istriku apa?"


"Ah udah-udah, kenapa jadi serius bahas lahannya. Sudah sana, nanti kalian terlambat." Sebelum pembahasan itu terlanjur dibahas lagi, secepat mungkin Kanaya menghentikan pembicaraan konyol Babas dan putranya.


Amara terkekeh kala Kanaya justru dibuat repot oleh dua pria berbeda usia itu. Terkadang dia berpikir alangkah tidak adilnya dunia, Syakil mendapatkan segala kesempurnaan dalam setiap aspek hidupnya. Harta, kasih sayang dan lingkungannya orang baik semua. Sementara dia, kenapa harus merasakan pahitnya kehilangan di saat dia tidak punya kesiapan.


Jika Kanaya tengah berusaha mengontrol hati Ibra. Maka lain halnya dengan Mikhail, pria itu bertindak cepat begitu mendapat penjelasan dari sang adik. Untuk kali ini dia tidak meminta bayaran ataupun lainnya, karena urusannya berat dan melibatkan Ibra.


"Ck, licik sekali ... kenapa justru kau yang datang?" tanya Wiranata dengan marah lantaran merasa usahanya untuk memancing kedatangan Syakil dan Amara sia-sia.


"Kenapa memangnya?"


Sudah Mikhail duga jika Wiranata akan bereaksi demikian. Pria itu tampak kecewa ketika menyadari yang kini duduk di hadapannya bukanlah Syakil dan Amara. Melainkan, Mikhail bersama sosok wanita di sampingnya. Tunggu, dia sendiri tidak yakin jika yang ada di samping Mikhailn adalah seorang wanita.


"Adikku hanyalah anak kecil seperti yang kau katakan dulu. Bicarakan saja padaku, apa maumu? Dan juga, untuk apa kau coba-coba menyerang Papaku, tua bangka!!" sentak Mikhail sama sekali tidak memiliki kesabaran dalam hidupnya. Jika saja tidak berdosa, mungkin dia akan menghajar pria itu hingga tidak lagi bernapas.


"Hahahah oh sudah tahu rupanya? Baguslah ... agar kau juga paham jika Ibrahim adalah pecundang yang menjilat ludahnya sendiri."


Mikhail mengepalkan tangannya, jangankan Ibra, dia saja marah ketika kalimat itu lolos dari mulut Wira. Usai berucap dia tampak begitu santai tanpa rasa bersalah, dan lebih menyebalkannya lagi Wiranata terbahak dan suaranya membuat telinga Mikhail terasa sakit.


"Bangga sekali, pria sinting sepertimu kembali datang setelah dahulu membuat hidup adikku kacau. Kenapa rupanya? Apa kau mulai menyadari jika adikku bukan pria biasa?"


"Hm dugaanmu tidak salah, tapi tidak benar juga ... kehadiranku kembali ke hidup adikmu hanya untuk membawa kembali putriku, jangan lupa adikmu sama sekali belum mendapatkan restuku," tuturnya kemudian, wajah liciknya tertangkap jelas oleh Mikhail. Jelas saja pria itu ingin mejadikan Amara sebagai tangga untuk menjerat Syakil dalam kehidupannya.


"Cih? Restu katamu? Adikku meminta Amara baik-baik dari keluarganya, setahuku yang namanya orangtua itu ada sejak anaknya lahir ke dunia, bukan ketika sudah menikah ... jika memang kau ayahnya, kenapa tidak sejak dulu mengakuinya?"


Bukannya menjawab, Wiranata malah tertunduk sebentar kemudian menghela napasnya kasar.


"Pentingkah bagimu? Hal semacam ini hanya berhak diketahui Syakil dan putriku, apa alasanku meminta orang lain menjaga dia mereka akan paham nantinya."


"Percaya diri sekali, kau kira adikku masih bisa diperintah layaknya bayi seperti yang dulu kau katakan? Jika Syakil mau, nyawamu bisa saja melayang tanpa jejak bahkan istrimu sendiri tidak akan mengetahuinya sama sekali." Mikhail berucap santai dengan tatapan penuh intimidasi, keberanian yang tadinya menggemu kini seakan hilang begitu saja.


"Berusahalah semampumu, Amara adalah istri Syakil, dia tanggung jawab Syakil dan sama sekali kau tidak berhak membawanya kembali ... tidak ada satupun dokumen tercatat yang sah di mata negara menyatakan bahwa kau adalah ayahnya, dengan kedatanganmu yang tiba-tiba begitu kau pikir kami akan percaya?"


"Jika hanya terobsesi untuk mengganti putrimu yang kini terganggu mentalnya, tidak dengan cara ini," lanjutnya kemudian, menurut Mikhail alasan dia ingin mengambil Amara dari Syakil jelas saja karena putrinya tidak lagi sempurna seperti dahulu.


Mikhail beranjak dan meninggalkan meja itu, diikuti dengan wanita berpakaian seksi dengan kaki jenjang yang terlihat kaku sekali menggunakan sepatunya.


"Tunggu, Tuan!! Sepatunya sempit sekali, astaga ... dibayar berapa aku sampai harus berdandan begini," gerutunya mengikuti langkah cepat Mikhail, hanya demi menjerat Wiranata datang Mikhail memaksa Kendrick menggunakan pakaian seperti Amara, tentu saja dia mencuri pakaian di lemari adiknya.


"Cepat Kendrick, jalanmu seperti transgender jika begitu," kesal Mikhail kala Kendrick tampak mendalami perannya, padahal sepatunya bisa dilepas agar jalannya lebih cepat.


-Tbc-