
"Kau harus pergi sekarang juga?"
Syakil bertanya sembari menarik sudut bibir, puas sekali melihat wajah Kendrick yang terlihat memerah pasca dia ledek sebagai calon adik ipar.
"Iya, Tuan ... ada sesuatu yang harus saya selesaikan," tuturnya berusaha tetap sopan meski jiwanya kesal luar biasa pada pria itu.
"Ah iya aku lupa, Ganeta sendirian ya?"
Kendrick kehilangan muka rasanya hari ini. Pria itu berusaha untuk bersikap tenang meski ingin sekali rasanya ingin sekali merobek mulut Syakil. Menyesal sekali dia bersikap sok pahlawan di hadapan Syakil tadi, mungkin ini adalah awal diejek berjilid-jilid.
"Ayah saya sakit, Tuan."
"Ayah? Bukankah ayahmu meninggal dua tahun lalu?"
Terlalu gugup sampai berbohong saja dia salah. Kendrick benar-benar salah tingkah sepertinya, dia bingung hendak mencari alasan apalagi karena memang sudah terlanjur salah bicara.
"Ay-ayah tiriku, ibuku menikah satu bulan lagi."
"Heh?"
Semakin mengada-ngada, lagipula sejak kapan ibunya berkencan dengan pria lain. Di usia senja rasanya tidak mungkin jika ibunya memiliki rencana untuk menikah lagi.
"Ck dasar aneh, sudah sana ... pastikan dia makan siang, kalau perlu disuapi."
Yayaya, kali ini memang Syakil yang menang. Pria itu juga tidak memiliki keberanian untuk balik mengejek Syakil. Tawa renyah Syakil hanya membuatnya semakin tidak betah, belum lagi ketika dia melihat pria bertubuh besar itu menghampiri mereka.
"Saya harus pergi, ibu saya sudah menunggu, Tuan."
Dia masih bicara begitu, padahal tugas menjaga Ganeta juga dari Syakil. Akan tetapi, kenapa bisa dia justru malu kala hendak melakukan tugasnya dengan segera.
Secepat kilat dia kembali masuk mobil, pria itu memacu laju kendarannya hingga meninggalkan wajah bingung Mikhail lantaran merasa dihindari secepat kilat.
"Dia kenapa?"
"Biasa, ada yang jadi prioritas Kendrick akhir-akhir ini," ucap Syakil menatap nanar ke depan sana, nampaknya ini adalah tugas pertama yang sama sekali tidak memberatkan Kendrick.
"Ganeta?" tanya Mikhail penasaran.
"Ehm, siapa lagi."
Pria itu terkekeh kemudian, tampaknya memang hari ini penuh kebahagiaan. Apa mungkin permasalahan mereka sudah selesai, pikir Mikhail.
"Salut, bertahun-tahun setia pada bosnya sampai tidak punya waktu untuk wanita ... sekalinya dapat malah mantan bosnya, hubungan kalian memang manis sekali."
Mikhail mengangguk-ngangguk pelan, dia adalah pengamat paling handal. Pria itu kembali menghirup susu hangat yang dia seduh sendiri di gelas super besar itu.
"Susuku?"
"Perhitungan, aku minta sedikit ... istrimu saja tidak pelit," jawab Mikhail sedikit culas, padahal ini pertama kalinya.
"Kau minum sebanyak itu? Itu bisa untukku lima kali minum, Mikhail. Kau minum susu karena haus atau bagaimana?" Bingung juga sebenarnya, kenapa harus sebanyak itu.
"Berlebihan, selagi aku masih pakai gelas kenapa marah?"
"Terus aku berhak marah ketika kau minumnya pakai apa? Ember?" kesal Syakil kemudian meninggalkan Mikhail, baru juga tadi pagi diajak olahraga. Siangnya dia minum susu sebanyak itu, wajar saja jika lemaknya merajalela.
"Minum langsung dari istrimu," jawab Mikhail seenak jidat dan membuat telapak tangan Syakil mendarat di perut bunting Mikhail.
BUGH
"Euughh!! Dasar kejam!! Adik durhaka," desis Mikhail hendak marah tapi memang salah dia. Sekalipun mengadu pada Zia juga percuma.
"Jaga kesehatanmu, jangan terlena hanya karena Zia menerima apa adanya, Kak. Memang masih tampan, tapi aarrgghh bajumu kekecilan semua apa tidak risih, Mikhail?"
Semakin bertambahnya usia kandungan Zia, semakin naik juga berat badan Mikhail. Bingung sekali kenapa mereka jadi balapan berat badan begitu, apa mungkin terlalu banyak makan daging merah, pikir Syakil.
Bahkan untuk kebaikannya sendiri dia juga menginginkan sesuatu. Syakil menghela napas pelan, di sisi lain dia merasa tidak tega lantaran sahabatnya memiliki suami sudah persis raksasa begini. Namun, di sisi lain dia juga kesal lantaran Mikhail selalu mengharapkan imbalan dengan cara apapun dari Syakil.
"Ponsel terbaru untuk Mikhayla," jawab Syakil kemudian, tentu saja dia memperlihatkan wajah datarnya.
"Aku yang usaha, kenapa hadiahnya untuk Mikhayla?"
Syakil tidak lagi menjawab ucapan kakaknya, pria itu memilih berlalu kemudian pergi secepat mungkin. Istrinya lebih penting, beberapa jam berjauhan membuat kerinduan Syakil begitu dalam.
.
.
.
.
Kembali ke kamar dengan perasaan menggebu, Amara tengah sibuk mengganti sprei yang sebenarnya belum kotor itu. Amara menatap ke arah sang suami dan sesegera mungkin menghampiri Syakil.
"Kamu baik-baik saja?"
"Hm, sesuai janji aku pulang untukmu."
Sempat pamit untuk menghampiri pengirim boneka siallan itu, Amara mengizinkan dengan perasaan yang tidak baik-baik saja. Tentu saja akibat otaknya terkontaminasi film yang dia tonton.
"Sudah? Siapa orangnya? Kenapa tega ngirim begituan?" tanya Amara beruntun dan dia benar-benar menginginkan jawaban dari Syakil.
"Biasa, orang-orang yang tidak suka dengan kebahagiaan kita ... kamu mau mengenalnya?" tanya Syakil lembut, di posisi ini dia belum memiliki pikiran untuk mengungkapkan apa yang terjadi pada istrinya.
"Enggak, aku takut. Dia jahat kan?"
"Tentu saja, orang baik mana yang punya pikiran segila itu, Ra." Syakil berucap santai dengan senyum teduhnya.
Amara mengangguk mengerti, mungkin setelah ini dia benar-benar tidak akan mau menerima apapun dari siapapun yang tidak dia kenali.
"Sudah jangan pikirkan, peluk dulu ... tubuhku sakit semua," ucapnya kemudian memeluk erat tubuh istrinya, menyalurkan kasih sayang yang dia rasa sebegitu besarnya untuk Amara.
"Aarrgh, jangan kuat-kuat ... kejepit."
Terlalu sayang atau bagaimana hingga dia lupa jika perut Amara perlu diperhatikan. Syakil terkekeh kala Amara meringis lantaran protes perutnya terasa sesak begitu.
"Maaf, Sayang."
Cepat-cepat Syakil menunduk dan mengelus perut Amara begitu lembut. Jika anaknya bisa bicara mungkin kata-kata mutiara akan Syakil dengar dari sana.
"Hati-hati makanya," kesal Amara namun sama sekali dia tidak bisa marah. Pria itu hanya bisa meminta maaf berkali-kali pada calon buah hatinya.
"Sudah, maafkan Papa ya ... jangan kenapa-kenapa, biar sehat terus nanti jadi kebanggaan Papa, Sayang." Bicara pada buah hatinya begini sungguh menenangkan bagi Syakil, pria itu mendongak menatap Amara yang juga tengah tersenyum menyaksikan tingkahnya.
"Oh iya, kalau nanti gede kamu mau jadi apa?"
"Jadi dokter, Papa." Kali ini Amara menjawab dengan menirukan suara Syakil yang dibuat-buat seperti balita.
"Dokter?" tanya Syakil mengerutkan dahinya, aneh sekali padahal suaminya nyata-nyata pengusaha dan Amara menjawab begitu tanpa pikir panjang.
"Iya, biar hebat kayak Opa, terus kalau Mama sakit aku yang sembuhin, Papa." Amara terkekeh geli, dia belum terbiasa berinteraksi dengan cara ini. Namun respon Syakil justru berbeda, dia nampak terdiam dan teringat akan ucapan Wiranata beberapa saat lalu.
"Boleh kan? Dia jadi dokter, aku suka karena mereka pahlawan untuk banyak orang, Sayang."
"Hem, boleh," jawab Syakil tersenyum simpul, apapun akan dia izinkan selagi Amara mau.
- To Be Continue -