My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 94 - Ganeta Sesungguhnya.



Di hadapan Syakil dia malu-malu tapi lain halnya jika di belakang. Seperti yang Syakil duga jika tujuan Kendrick adalah Ganeta, bukan ibunya apalagi ayahnya yang sudah tiada itu. Dengan senyum tipis dia masuk ke ruangan Ganeta, wanita itu tampak menoleh ketika dia masuk.


"Hai ... kamu menungguku?" tanya Kendrick percaya diri sekali, pria itu mendekat dan memilih duduk di tepian ranjang.


"Tidak," jawabnya singkat, jantung Kendrick seakan pecah rasanya mendengar jawaban singkat Ganeta.


"Hm aku pikir ditunggu."


Tidak ada jawaban, Ganeta hanya tersenyum melihat ekspresi Kendrick. Pria yang hampir satu bulan ada di sisinya ini memang kerap membuat senyumnya terbit tanpa aba-aba.


"Aku tunggu, dari mana memangnya?"


"Menemui Syakil, seperti yang kamu tau aku hanya asisten pribadinya ... jadi aku tidak bisa semaunya."


Keyakinan Kendrick terkait kejiwaan Ganeta benar adanya. Walau Syakil kekeuh mengatakan dia gila, namun sejak awal dia menatap mata Ganeta hatinya sudah berkata wanita ini baik-baik saja.


"Agha baik-baik saja? Apa luka bekas gigitanku waktu itu sudah sembuh?" tanya Ganeta kembali dan sukses membuat Kendrick mengerutkan dahi. Kejadian itu adalah awal Syakil menemukan Ganeta kembali. Tragedi gigit-gigitan yang bermula akibat Syakil memeluknya itu ternyata dapat Ganeta ingat dengan jelas.


"Kamu ingat itu?"


"Tentu saja ... malam itu aku bingung hendak bagaimana, menatapnya aku merasakan sakit. Pura-pura gila hampir empat tahun ternyata percuma, bahkan rasanya aku benar-benar gila malam itu."


Kendrick terpaku, dia diam membisu dan butuh waktu beberapa saat untuk memahami wanita itu.


"Kamu baik-baik saja, tetapi kenapa pura-pura seakan gila sungguhan?"


"Awalnya cara itu aku pikir bisa membuat orang tuaku luluh dan menyesali keputusannya. Sejak aku dipisahkan dari Agha, Papa benar-benar membatasi ruang gerakku. Aku hanya stres sebenarnya."


Tebakan Kendrick tidak meleset, padahal dia hanya mengumpulkan info sedikit demi sedikit dengan bertanya pelan-pelan bagaimana perlakuan orang tuanya. Kini tanpa perlu dia bertanya banyak, jelas sekali Ganeta membuka jati dirinya.


"Sekarang, apa perasaanmu masih sama? Hatimu, apa masih sakit, Ganeta?"


"Sakitlah, dan juga malam itu aku melihat seseorang yang mirip sekali denganku ... aku bahkan sampai tidak berhenti menatapnya karena merasa itu hanya mimpi belaka, tapi setelah melihat interaksinya bersama Agha aku mengerti jika Agha mencintai wanita lain tanpa sepengetahuanku."


Ganeta tersenyum getir, hidupnya benar-benar hancur malam itu. Bahkan keesokan harinya dia masih terbayang sosok Syakil yang sempat memeluknya, namun setelah Ganeta pahami Syakil memeluknya hanya sebagai perbandingan, dada Ganeta terasa sakit luar biasa.


"Amara namanya, aku juga hampir tidak percaya kalian begitu mirip."


"Hm, beberapa tahun lalu di saat aku mulai mencari cara melemahkan Papa dengan pura-pura gila, Papa sempat membahas masalah adikku bersama Mama ... mereka sering berdebat, tapi Mama selalu menolak kehadirannya."


Ganeta adalah saksi yang dianggap bisu dan tuli oleh orangtuanya. Semua yang terjadi dan cekcok apa yang dialami orang tuanya Ganeta sangat mengetahuinya. Hal itu terus berjalan hingga Ganeta merasa betah untuk bersikap seperti orang kehilangan akal.


"Adik atau Kakak?"


"Entahlah, dari yang aku dengan kami saudara kembar ... sempat tidak percaya, tapi setelah malam itu aku percaya Papa tidak berbohong."


Ganeta tidak lagi terfokus pada Syakilnya. Melainkan wanita yang kini jadi pilihan Syakil, Amara. Tidak ada dendam Ganeta untuk Amara, sama sekali tidak.


"Saat ini apa yang kamu mau? Tidak mungkin terus-terusan di rumah sakit kan?"


"Tulang kakiku retak, kepalaku luka dan itu karena kamu yang tabrak ... harusnya tidak perlu bertanya," jawab Ganeta dingin tiba-tiba, sungguh dia sebal sekali rasanya.


"Maaf, bukan sengaja. Syakil yang memintaku lebih cepat hari itu, mana aku tahu kamu tiba-tiba lari begitu."


"Pulanglah, kenapa kamu selalu di sini? Aku bisa sendiri, selagi tidak diganggu Papa ataupun Mama aku baik-baik saja," ucap Ganeta kemudian, dia sedikit bingung kenapa Kendrick seperti tidak punya urusan lain.


"Tidak, kamu tanggung jawabku ... kamu begini karena aku," jawabnya sedikit berbohong, pria itu menjaga Ganeta karena perintah Syakil sebenarnya. Akan tetapi, dia menjawab dengan kalimat lain karena tidak ingin terlihat menjaga Ganeta karena perintah orang lain.


"Tagihan rumah sakit bagaimana? Kamu juga?"


"Untuk itu, tentu saja Syakil ... uangku belum sebanyak itu, maaf ya."


Jawaban sederhana yang membuat Ganeta tersenyum begitu indah. Kendrick yang terlihat seperti malu dengan keadaannya entah kenapa justru terlihat lucu.


.


.


.


Kondisi Ganeta yang semakin baik itu tidak lupa Kendrick kabarkan pada Syakil, meski sempat terkejut dia merasa ini adalah hal baik. Akan tetapi ada hal yang dia sesali tentu saja, ya memeluk Ganeta malam itu.


"Sayang, kamu lagi chat siapa?"


"Hah? Kendrick," jawab Syakil jujur namun kemudian dia tampak menghindari Amara.


Amara yang memiliki tingkat kepo luar biasa itu berjinjit demi bisa membaca percakapan mereka. Syakil terkekeh melihatnya usahanya, tanpa diduga Syakil justru memberikan ponselnya tanpa khawatir Amara akan marah.


"Sudah bacanya?"


Amara tampak bingung, wajahnya terlihat sedih dan tatapan tajam itu dia berikan pada Syakil. Benih keributan sudah muncul, sontak Syakil menelan salivanya lantaran gugup yang tiba-tiba berkuasa.


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Sedih," jawab Amara mencebikkan bibirnya, sungguh hal ini benar-benar tidak bisa dia utarakan lagi kini.


"Hm? Kok sedih, apa yang salah?"


Padahal percakapan dia dan Kendrick sudah ke arah candaan sebenarnya. Rasanya tidak ada hal yang membuat Amara menangis.


"Nggak ngerti bahasanya," jawab Amara begitu polos dan hal itu sontak membuat Syakil terbahak. Lucu sekali, jawaban yang di luar dugaan bahkan tidak dia duga jawabannya akan sesederhana itu.


"Ih!! Kok ketawa sih?!"


"Hahahah lucu dong," ejek Syakil tanpa dosa menjitak kening Amara hingga bibir wanita itu maju beberapa centi.


"Licik banget sih, kenapa juga harus pakai bahasa alien begitu."


Syakil dan Kendrick sebenarnya terbiasa bicara dengan berbagai bahasa, dan kali ini memang Kendrick yang gila, berbicara dengan bahasa thailand dan itu jelas tidak bisa Amara pahami.


"Hahah ya sudah, nanti belajar ya, Sayang ... aku gurunya, santai saja tidak perlu dibayar." Syakil mengelus puncak kepala Amara, istrinya yang terlihat sebal dan merasa tidak percaya dengan tulisan-tulisan itu hanya termenung dibuatnya.


"Nggak perlu lah, otakku mampet. Bahasa inggris aja susah, apalagi khap-khap begitu," jawabnya kemudian, diminta belajar bahasa Inggris saja dia sedikit tertekan, apalagi yang lainnya


- To Be Continue -