
Hari berganti, berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang berbeda dan semua terasa sama, terutama bagi Amara. Syakil yang semakin perhatian bahkan hanya karena hal kecil, begitupun dengan Mikhail yang mendadak luar biasa peduli padanya Amara yakini sebagai berkah yang dibawa bayi dalam kandungannya.
Hari ini dia meminta izin keluar bersama Zia, tentu saja menghabiskan waktu dan juga uang. Tepatnya belajar menghabiskan uang, Zia akan menjadi guru yang baik untuk Amara hari ini.
"Sesekali boleh, jangan tiap hari aja, Ra."
Sebagai seorang wanita yang sama-sama dianggkat derajat melalui pasangannya, Zia selalu menekankan hal itu dalam hidupnya. Memiliki suami kaya bukan berarti membuatnya lupa daratan, tampaknya prinsip ini juga di pegang Amara dengan begitu teguhnya.
"Kak Mikhail kasih kakak uang berapa sebulan?"
"Hm nggak tentu, dia nggak membatasi ... malah yang pegang atmnya ya aku. Syakil gitu juga enggak?" tanya Zia kemudian, sebelum Mikhayla lahir memang Mikhail sebegitunya. Bahkan seluruh aset yang Mikhail miliki atas nama Zia semua, jadi tidak heran jika dia terkadang seolah manusia paling miskin di dunia jika sudah berhadapan dengan Syakil.
"Enggak, aku juga nggak berani, Kak."
Sudah Zia duga, wajah-wajah Amara adalah wanita yang tidak memiliki keberanian untuk mengusik hal semacam itu pada suaminya.
"Beruntung banget Syakil dapat kamu," puji Zia benar-benar jujur, sempat khawatir lantaran dahulu Syakil hampir jadi pasien rumah sakit jiwa, kini semuanya benar-benar membaik. Apalagi ketika Amara hadir dalam hidupnya.
Keduanya pergi diiringi Mike dan dua orang lainnya tentu saja. Mana mungkin dua bidadari ini dilepaskan begitu saja, pangerannya takkan pernah rela.
"Aku yang beruntung dapat dia ... dulu aku pikir cuma bercanda, walau sempat patah karena dia memilihku hanya karena wajah yang mirip Ganeta, tapi kini aku merasakan bagaimana tulusnya," tutur Amara tersenyum hangat, ice cream yang sudah mencair itu tetap nikmat baginya.
"Lupakan masalah itu, yang terpenting sekarang kalian sudah mengerti bagaimana perasaan masing-masing, Syakil tu susah jatuh cinta, sekalinya cinta susah juga lepasnya ... dari dulu gitu, anaknya keras kepala, Ra."
Memang benar Syakil keras kepala, beberapa bulan jadi istrinya saja Amara paham betapa keras kepala sang suami meski sikapnya terkadang selembut tahu sutra.
"Ngomong-ngomong apa kakak pernah memiliki hubungan spesial sama dia?"
Masih penasaran, beberapa kali Syakil kerap membuatnya terbakar kala menyebut Zia cinta pertama. Walau sudah dijelaskan itu bercanda, namun Amara tengah membutuhkan jawaban dari pemeran utama dalam masa lalu Syakil.
"Nggak, Kami memang dekat, tapi cuma temen ... kaget juga dulu pas dibawa ke rumah sama mas Mikhail malah ketemu Syakil, malu banget aku."
Jika dia ingat-ingat lagi, Zia merasa geli hingga pori-pori. Mengingat bagaimana dia yang dahulu sembunyi di kamar demi menghindari Syakil lantaran malu dengan keadaannya. Sungguh sangat tidak baik untuk diulang masa kelam itu.
"Kirain beneran ... soalnya dia bilang cinta pertamanya kak Zia, makanya aku tanya."
Sebenarnya mungkin saja, tapi demi menjaga hati Amara. Wanita itu hanya menggeleng pelan seraya terkekeh geli, bisa-bisanya Syakil berani mengatakan hal semacam itu pada istrinya sendiri.
"Eh, Kak ... tapi akhir-akhir ini suami kita jadi sohib banget gitu kenapa ya? Aneh banget. Biasanya suamiku bakal ngomel-ngomel setiap masuk kamar karena nggak suka kak Mikhail ganggu, tapi akhir-akhir ini mereka malah terlihat dekat banget."
Amara menyadari perbedaan itu, akan tetapi hal itu jelas saja tampak sebagai hal yang baik. Sebagai wanita yang juga penasaran jelas ingin mengetahui alasan sesungguhnya.
"Mereka memang begitu, deketnya musiman. Paling juga berantem bentar lagi," jawab Zia seraya menarik sudut bibir, sebagaimana arahan Mikhail bahwa Amara dilarang ikut berpikir dengan apa yang terjadi. Cukup mereka saja yang direpotkan perkara kebenaran tentang asal-usulnya.
"Bisa gitu ya?"
"Iya lah, buktiin aja ucapanku ... mereka mah biasanya gitu, kalau salah satu lagi dirundung masalah biasanya akur, Ra."
Ups, keceplosan. Mata Zia mendelik dan panik sendiri usai bicara demikian. Sementara Amara yang menyadari hal itu sontak mengerjapkan mata dan tampak berpikir yang bermasalah siapa.
"Masalah apa, Kak?"
"Biasalah, mas Mikhail banyak pikiran sekarang ... jadi dia benar-benar butuh Syakil sebagai penolongnya." Ya, istri seorang pembohong akhirnya ikut berbohong. Tidak masalah, daripada adik iparnya dibuat sakit kepala, lebih baik dia cemarkan sedikit nama suaminya.
"Ho bener, iya itu efeknya."
Melamun apanya, Mikhail yang kadang diam di sofa ruang tamu bukan karena melamun. Tapi keberatan lemaknya, dan hal itu biasa dia lakukan ketika sedang sendirian.
.
.
.
.
"Hasilnya bagaimana?"
Setelah beberapa hari mereka menunggu, membuktikan sesuatu yang sebenenarnya sudah dapat ditebak memang agak buang-buang waktu. Akan tetapi, untuk saat ini Syakil tidak ingin melakukan sesuatu tanpa berkesudahan.
"Sesuai tebakan awal, mereka sedarah."
Syakil tidak menjawab, pria itu hanya terdiam kemudian menatap Mikhail penuh datar. Kakaknya banyak bergerak sejak beberapa waktu lalu, kasihan sebenarnya.
"Ck, responmu hanya begitu? Datar sekali ... terkejut kek, apa kek!! Aneh."
Dia kecewa melihat adiknya yang diam persis kanebo kering, tanpa memperlihatkan reaksi apa-apa. Padahal, hal ini bukan seratus persen berita baik, karena ini sama halnya dengan memperjelas bahwa ucapan Wiranata benar adanya.
"Lalu kau maunya aku bagaimana?"
"Setidaknya terkejut seperti di sinetron-sinetron itu ... ini adalah sebuah fakta besar, Syakil!!" teriak Mikhail meninggi bahkan terdengar seperti menggunakan toa masjid, ya memang begitu.
"Aku tidak lagi berpikir tentang itu, sejak awal memang sudah mencurigakan. Yang kita tidak mengerti di sini alasan Amara bisa kehilangan orangtua kandungnya ... itu saja." Syakil menatap nanar tanpa arah, jika perkara ekonomi rasanya sangat tidak mungkin.
"Ya mungkin malas jaga malam, atau apa kita kan tidak tahu," jawab Mikhail menduga sekenanya, Syakil berdecak sebal dan menganggap jawaban kakaknya sedari tadi ngasal dan hanya membuatnya kian sebal.
"Apa tidak ada jawaban selain itu?"
"Ada!! Maybe mamanya khawatir air susunya kering kalau pengeluaran double." Semakin aneh dan Syakil memutuskan untuk tidak lagi bertanya pada Mikhail, tugas kakaknya cukup sampai di sini karena khawatir hanya akan berspekulasi sesuai dengan otak tengilnya saja.
"Terima kasih untuk ini, kau menginginkan apa sebagai hadiah atas jerih payahmu, saudaraku?"
Peran Mikhail sangat-sangat membantu, dan Syakil bukanlah orang yang tidak tahu terima kasih. Jelas saja pertanyaan itu serius dan begitu adanya.
"Aku tidak menginginkan apa-apa, ujianmu akhir-akhir ini sudah begitu banyak ... anggap ini sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menjadi orang baik untuk Zia beberapa tahun lalu," ungkapnya bijaksana sekali, Syakil hanya menatap kagum pada Mikhail. Sungguh ini adalah hal paling langka yang pernah ada, mencurigakan.
"Serius?"
"Hm, lagipula tidak selamanya aku bisa selalu ada di sisimu ... sebelum aku dan Zia pulang, setidaknya bermanfaat untukmu," jawabnya kemudian begitu santai dan entah kenapa hati Syakil mendadak melow mendengarnya.
"Mimpi apa semalam? Aneh sekali," tutur Syakil kemudian, tidak bisa dipungkiri ini memang sedikit aneh.
"Mimpi beli rumah di samping mansionmu, sepertinya kosong ya?" Menyesal Syakil bertanya, sudah dia duga ucapan Mikhail sama sekali tidak ada benarnya.
-To be continue-