My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 98 - Keraguan Kendrick.



Hari berganti begitu cepat, pasca pertemuan singkat itu, Amara dan Ganeta tampak hangat. Meski hubungan dengan orang tuanya belum membaik lantaran keduanya masih belum menerima Wiranata, akan tetapi Amara dan Ganeta sudah terlihat sangat manis.


"Jadi siapa yang Kakak?"


Sejak kemarin permasalahannya tidak usai juga. Kendrick masih mempermasalahkan siapa yang lebih tua di antara mereka, walau sejujurnya Syakil juga bingung sendiri saat ini.


"Jangan menambah beban pikiranku, Ken ... kemarin saja aku sudah dibuat pusing akibat Amara minta paus bakar," tutur Syakil kemudian, jujur saja dia hampir saja menyerah kemarin. Mungkin inspirasi dari Zia, hanya saja hendak marah pada sang kakak ipar tidak mungkin juga.


"Dapat?"


"Ya tentu saja tidak," kesal Syakil kemudian, pertanyaan Kendrick juga aneh sekali.


"Lalu bagaimana cara Anda membuatnya diam?"


"Terpaksa ganti pakai ikan lain, untung saja dia percaya itu daging paus," ungkap Syakil kemudian, memang akhir-akhir ini istrinya aneh sekali. Bukan hanya membuat Syakil panik tapi juga pusing sekaligus, dia juga tidak mengerti kenapa Amara seperti itu.


"Ahahaha lucu sekali, kenapa wanita hamil menggemaskan ya, Tuan?" tanya Kendrick tanpa sadar jika itu sangat-sangat sensitif.


Syakil mendelik, padahal Kendrick tidak menyebutkan secara spesifik wanita hamil yang mana? Bisa jadi seluruh wanita hamil di dunia. Cepat-cepat Kendrick mencari alasan agar bosnya ini tidak marah, jika dilihat dari sorot matanya nampak jelas Syakil ingin menelannya hidup-hidup.


"Maksudmu?"


"Seluruh wanita hamil maksudnya, bu-bukan Nona saja," tutur Kendrick sedikit gugup, pria itu menggigit bibirnya kemudian, dia sedikit khawatir telapak tangan Syakil mendarat di wajahnya.


"Alasan saja kau." Sebal sekali dia, yang boleh mengagumi istrinya hanya dia seorang.


"Hahah aku tidak sabar ingin melihat dia hamil juga."


Keluar dari pembicaraan adalah jurus andalan Kendrick, pria itu tersenyum memandangi interaksi dua bidadari yang tampak begitu hangat di taman rumah sakit.


Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya senyum Ganeta begitu tulus mendengarkan seluruh cerita Amara. Setelah cukup lama menghabiskan waktu di tempat tidur, akhirnya kini Ganeta diperbolehkan untuk menikmati udara segar di luar.


PLAK


"Jaga bicaramu!"


Niat hati mengalihkan pembicaraan agar tidak dipukul, kini Kendrick justru merasakan nikmatnya telapak tangan Syakil di keningnya. Jangan ditanya bagaimana rasanya, jelas saja sakit.


"Dia sembuh saja belum, kau mengharapkan dia hamil ... nikahi dulu sana," tegas Syakil menatapnya setajam itu, pria tampan itu tampak bingung dengan ucapan atasannya.


"Menikah, apa semudah itu?"


Syakil mengerutkan dahi, ada gurat kesedihan di sana. Kendrick terlihat tidak percaya diri, pria itu tersenyum getir kemudian menatap bosnya. Dia menggeleng pelan, sepertinya jiwa nekat Syakil memang tidak dimiliki Kendrick.


"Kenapa kau tampak ragu? Jika memang cinta, ungkapkan saja, Ken."


Mudah sekali memang jika bicara, hanya saja Kendrick sangat-sangat sadar diri siapa dirinya. Apalagi setelah mengetahui siapa orangtua dari Ganeta, jelas saja dia ciut. Belum lagi, pertemuan terakhirnya dengan Wiranata menyisakan sebuah kesan yang buruk. Salah dia sebenarnya, berani sekali membentak Wiranata sembari mengaku sebagai Psikiater wanita itu.


"Entahlah, ini cinta atau bagaimana? Akan tetapi, untuk menikah sepertinya tidak mudah, Tuan ... saya hanya butiran debu di hamparan padang pasir," tutur Kendrick tiba-tiba puitis sekali, pria itu menghela napas kasar kemudian menepuk pundak Kendrick kuat-kuat.


"Yakinkan dirimu, Ganeta butuh pendamping ... sejak awal aku yakin kau memiliki perasaan untuknya," ujar Syakil kemudian, kala mereka mengatakan Ganeta gila hanya dia sendiri yang yakin jika wanita itu sama sekali tidak gila, dan jelas terbukti jika Kendrick menempatkan Ganeta sebagai wanita baik dalam benaknya.


"Bagaimana aku bisa menghidupi dia? Ganeta terbiasa dengan kemewahan, apa tidak kasihan melihatnya dapat pria sepertiku?"


Memang benar, seorang pria akan merasa kalah jika status sosial wanitanya lebih tinggi. Pria itu merasa sangat kecil jika dibandingkan dengan Ganeta, seakan tidak ada apa-apanya.


Memang benar, Wiranata terlihat berubah dan dia menerima Syakil kemarin. Namun, di sisi lain Kendrick tetap berpikir jika hal itu wajar saja, mengingat Syakil bukan pria sembarangan dan memang tidak ada celah untuk membuat dia terlihat tidak sempurna.


"Perihal keuangan kau jangan khawatir, ada aku dan kita bisa kembangkan bisnis ini lebih besar lagi, Ken ... kau sahabatku, bukan hanya asisten pribadi, paham?"


Untuk pertama kalinya, setelah drama dibuat makan hati lantaran kehamilan simpatik bosnya, kini Kendrick menuai hasil dan merasakan betapa baiknya seorang Syakil. Andai saja tidak khawatir ditampar, ingin sekali dia peluk pria itu.


"Terima kasih, Anda baik sekali ... semoga anak kita nanti berjodoh," ucapnya asal dan sukses membuat Syakil menoyor kepalanya.


"Seperti tidak ada orang lain saja, kenapa kau jadi gila seperti Mikhail? Bayi belum kelihatan wujudnya sudah dibicarakan perkara jodoh."


Sungguh tidak habis pikir, Kendrick kali ini benar-benar hampir sama seperti sang kakak. Dahulu juga begitu, Mikhail bahkan menjodohkan putra kembarnya kala mereka masih bayi, dan itu termuat dalam sebuah perjanjian antara dua pihak.


"Berharap lebih tidak masalah kan?"


Terserah, Syakil enggan menjawab lagi. Kendrick memang biasanya akan seenaknya jika sudah diberi hati, pria itu kembali fokus menatap ke depannya. Wajah cantik Amara dan Ganeta benar-benar terpancar di sana, sungguh keji sekali dunia yang memisahkan mereka.


.


.


.


Sepulang dari rumah sakit, Syakil dan Amara kini tampak bersantai di halaman belakang. Keduanya duduk di tepian kolam renang sembari menikmati matahari yang kini perlahan tenggelam.


"Sayang," panggil Syakil kemudian sembari menoleh ke arah istrinya, hidup berdua seperti ini terasa amat menenangkan.


"Hm? Kenapa?"


Amara masih menikmati waktunya, bersantai persis di pantai dengan sengaja menggunakan bikini dan kacamata hitam, maklum saja Syakil belum memberinya izin untuk pergi liburan.


"Apa keinginan kamu sekarang?" tanya Syakil kemudian, dia menatap Amara sesaat dengan senyum hangat yang dia berikan kini.


"Hm apa ya? Untuk saat ini sepertinya hanya ingin bahagia sama kamu sampai nanti-nanti, sama bayi kita ... seperti halnya kak Mikhail dan kak Zia."


Sederhana sekali, tapi sungguh untuk mewujudkan kebahagiaan yang bertahan lama seperti itu butuh pengorbanan yang tidak main-main, perasaan diuji dengan berbagai keadaan dan mampukah Syakil mewujudkannya?


"Hanya itu?"


"Iya, hanya itu ... aku harap keinginan kamu juga sama," ungkap Amara menepuk pelan dada Syakil seolah dia tengah bicara pada batin pria itu.


Syakil mengecup sang istri kemudian, hanya kecupan tanpa maksud membuat Amara merasa tidak nyaman. Dia melihat sekeliling, memang tidak ada siapapun yang melihat namun Syakil tiba-tiba beranjak dan membopong istrinya kemudian.


"Eh mau kemana? Mataharinya belum tenggelam beneran loh."


"Di kamar saja, Sayang ... di sini terlalu terbuka, aku tidak tahan, Amara." Aneh sekali memang, padahal tidak ada hal aneh yang Amara lakukan, dan kini dia mengeluh mengatakan jika tidak lagi bisa menahannya.


"Tahan apa?"


"Ck, haruskah aku jelaskan keinginan suamimu ini, Sayang?"


- To Be Continue -


Wih, pasukan Babang Syakil mana nih? Kok rada sepi yaaah🦈