
Sudah hari kedua, kehidupan Syakil terasa normal-normal saja. Seperti yang dia duga hidup berdua memang lebih bebas dan nyaman tentu saja. Pria itu terbangun dengan wajah yang masih sembab dia sudah mencari kemana sosok Amara.
Sepertinya tadi malam Syakil tidur terlalu larut hingga jam segini dia baru bangun tidur. Pria itu menghampiri sang istri yang tengah menyiapkan sarapan paginya kali ini, seperti yang Syakil lihat pagi ini Amara memilih bubur ayam sebagai menunya.
"Diaduk atau nggak?"
Syakil menggeleng, dalam keadaan setengah sadar dan nyawa belum terkumpul seluruhnya Syakil meraih mangkuk bubur itu. Sudah lama dia tidak merasakannya, bubur yang dahulu Amara bangga-banggakan sebagai primadona di lingkungan ini.
"Kamu kenapa nggak bangunin aku, Ra?" tanya Syakil kemudian, meski memang satu minggu ini dianggap cuti tetap saja bangun jam sembilan itu bukanlah kebiasaan seorang Syakil.
"Kamu masih ngantuk, aku nggak tega," tutur Amara luar biasa lembut, tadi malam dia yang merasa pegal meminta Syakil memijit kakinya hingga dia tertidur begitu pulas, Syakil berhenti dia juga bingung kapan pastinya.
"Kita beneran belum mau ke rumah Mama ya?"
"Hm?"
Gerakan tangan Syakil terhenti, pertanyaan istrinya membuat Syakil terdiam untuk beberapa saat. Memang, dia sama sekali tidak berpikir untuk bertemu Kanaya, entah kenapa Syakil merasa ke sana adalah bencana untuk saat ini.
"Kemarin Papa sudah bilang, kalau misal Mama mau ketemu dia yang bakal datang. Jadi kita tunggu aja, paling juga ga sampe tiga hari Mama bakal kemari," ungkap Syakil kemhdian meneruskan sarapannya, bubur ayam di sini memang tidak terkalahkan. Istrinya juara dalam menentukan tempat makan.
"Kamu kangen Mama?"
Mendapati Amara yang terdiam, Syakil kini memberikan pertanyaan demikian. Amara mengangguk pelan, dia tidak menjawab lagi kemudian tersenyum dan melanjutkan makan buburnya.
"Aku telepon kalau kamu kange_"
"Eh jangan, nggak gitu maksudku ... cuma aneh aja, biasanya kamu bakal ajak ke rumah Mama sekarang kok enggak?"
"Di sana ada Sean dan juga Zean, kamu hamil muda aku khawatir anak Mikhail itu bodoh bercandanya, Amara. Kita turuti saja ucapan Papa ya, bukan berarti Papa nggak suka kita bertamu ke sana ... tapi Papa pasti takut menantunya stres kalau sudah berhaan dengan cucunya."
Meski pikiran sesunggugnya Syakil tidak begitu, tapi dia tetap mengutarakan hal baik-baik tentang sang papa di depan istrinya. Amara adalah seorang wanita perasa, hatinya mudah sekali menduga. Dia tidak ingin jika Amara berpikir terlalu macam-macam akibat hal ini.
"Iya, paham."
Pria itu tersenyum hangat ketika Amara mengangguk patuh padanya. Istrinya cukup mudah diatur, ketika Syakil mengatakan A dia akan menurut tanpa perlu menyanggah ini dan itu. Hanya saja, dibalik istrinya yang begitu watak keras dan suka balik marah dalam diri Amara juga ada.
"Kamu nggak suka kacangnya? Kok nggak bilang sih, kan aku bisa pisahin." Amara menyadari jika sang suami menyisihkan kacang dari mangkuknya, dia lupa dan juga Syakil tidak protes beberapa menit yang lalu.
"Kan aku bisa sendiri, Sayang ... lagipula hanya sedikit," ujar Syakil kemudian, Amara masih terus memandanginya tanpa melepaskan Syakil dari pandangannya.
"Kamu kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Syakil merasa tatapan itu sebagai bentuk bingungnya Amara akan sesuatu hal, Syakil meraba sudut bibir dan matanya, khawatir jika ada kotoran di sana.
"Amara, apa? Kenapa kamu liatin aku begitu?" Syakil gemas sendiri, bingung juga sebenarnya kenapa.
Tidak ada yang salah sebenarnya, Syakil yang panikan pada akhirnya hanya menjadi hiburan bagi Amara. Dia tertawa sumbang padahal sebelumnya juga tidak ada yang lucu.
"Belum cuci muka ya? Panik banget cuma dilihat gitu doang," tuturnya kembali menyuap sesendok bubur sembari terkekeh geli, mudah sekali membuat Syakil ketar-ketir sepertinya.
"Orang lain?"
Salah, maksud Syakil bukan begitu. Pria itu sontak meminta maaf lantaran membuat Amara sebal dengan kalimatnya. Memang lidah Syakil salah semua settingnya pagi ini, sepertinya ini adalah efek samping tidak sikat gigi.
"Lidahku kenapa sih, pasta gigi di kamar mandi itu sepertinya nggak cocok sama lidahku ... ganti ya."
Yang salah dia, yang dianggap penyebabnya adalah pasta gigi. Amara hanya mengangguk pelan seraya tertawa ringan dengan nada ejekan, paham sekali jika jawaban sang suami hanya sebagai caranya berlari.
"Nyalahin pasta gigi, memang lidah kamu aja yang ngawur ... kebanyakan ucap janji manis pasti."
Sudah biasa, bicara pada perempuan akan merambat layaknya ubi jalar kemana-kemana. Syakil tidak mau arahnya semakin jauh, pria itu mengacak rambutnya yang kini mulai panjang di bagian depan.
"Sayang," panggil Syakil kemudian bertopang dagu dan memandangi wajah Amara lebih dalam, istrinya yang masih begitu fokus dengan bubur ayam tersebut menggerakkan alisnya sebagai jawaban.
"Apa?"
"Dalam hidup, apa ada hal yang sangat-sangat ingin kamu lakukan sejak dulu dan belum tergapai hingga sekarang?" tanya Syakil tiba-tiba, dia bertanya serius dan berharap jawabannya juga akan amat serius.
"Hm apa ya? Ternak sapi sepertinya."
"Ehem, yang lain ... jawabnya yang serius." Syakil berdecak sebal usai mendengar jawaban super dari Amara, bisa-bisanya dia menjawab dengan begitu percaya diri jika menginginkan ternak sapi.
"Kamu maunya gimana sih? Keinginan aku yang nggak tergapai hingga sekarang ya itu, dulu sempat minta ke Papa ... tapi nggak dibolehin jadi cuma dibeliin kelinci doang," jawabnya kemudian, Amara tidak mengada-ngada dan itu serius apa adanya.
Menyesal Syakil bertanya, padahal yang dia maksudkan ialah sebuah momen dimana dia bisa kabulkan dan menciptakan kenangan bersama Amara untuk masa yang akan datang. Akan tetapi, jika jawabannya itu Syakil juga enggan mengabulkannya.
"Boleh ya?"
"Enggak, aku takut sapi."
Syakil bergidik ngeri, jangankan memelihara. Melihatnya saja dia luar biasa geli, kenapa juga binatang itu harus hidup, pikir Syakil.
"Semuanya aja kamu takut, lele takut, sapi juga takut. Hidup dimana sih dulu?" Bingung juga, padahal kehidupan Kanaya sepertinya normal saja. Papanya juga pencinta hewan, sungguh Amara dibuat bingung kenapa suaminya bisa begini.
"Memang takut mau bagaimana, kamu nggak takut? Mulutnya besar begitu, sangat-sangat tidak cantik sama sekali ... aku serius Amara, maksudku hal yang ingin kamu lakukan dan bisa kita lakukan berdua." Syakil memperjelas maksud dan tujuannya, Amara mengangguk mengerti kemudian terdiam sejenak.
"Tidak ada lagi, rasanya semua yang aku khayalkan terpenuhi ketika kita menikah," jawab Amara kemudian, tidak ada hal muluk-muluk yang dia idamkan.
"Yakin?"
"Iya, untuk saat ini tidak ada hal khusus yang perlu kita lakukan ... lagipula selama jadi istri kamu kita akan selalu berdua kan? Atau kamu punya rencana buat ajak seseorang gabung nih biar kita nggak berdua mulu?"
"Astaga!! Nggak begitu, Amara ... kamu jangan sembarangan bibirnya, aku cium sampai habis napas mau?" ancam Syakil terlampau gemas namun jujur dia sebal mendengar kalimat Amara barusan.
-To Be Continue-