
"Kamu gila, Mas? Kamu tau Amara sedang hamil? Jangan rusak kebahagiaan Syakil hanya karena egomu yang luar biasa itu!!" Sentak Kanaya dengan tubuh bergetarnya, napas wanita itu bahkan sama sekali tidak teratur.
Mengetahui jika Ibra benar-benar mengutarakan keinginannya pada Syakil, Kanaya marah besar tentu saja. Untuk pertama kalinya dia membentak Ibra setelah bertahun-tahun rumah tangga mereka berjalan begitu harmonis.
"Kamu lupa siapa Wiranata? Ingat bagaimana cara dia mempermalukan Syakil waktu itu? Kamu lupa?" tanya Ibra dingin dan menatap tajam Kanaya, istrinya kali ini benar-benar keras dan tanpa takut dia berani membantah hanya demi menantunya.
"Mas harap kamu tidak lupa, Nay ... dan kamu ingat kesalahan tanpa maaf menurut Mas apa? Kamu paham tanpa perlu Mas jelaskan, Kanaya."
Ingat, dia sangat-sangat ingat. Bagaimana Syakil yang bahkan mogok makan selama beberapa minggu juga Amara sangat ingat. Akan tetapi, semua sudah terlanjur dan apa yang dahulu pernah Syakil alami bukan salah Amara sama sekali.
"Mas!! Empat tahun lalu ... sudah seharusnya kita tutup buku, saat ini berbeda, Amara sama sekali tidak salah dan dia tidak ada hubungannya dengan kejadian itu," balas Kanaya tidak kalah tegas dari Ibra, menurut Kanaya siapapun Amara sama sekali dia tidak bersalah.
Empat tahun lalu Amara belum mengenal Syakil, dia tidak menyentuh dunia Syakil sama sekali. Akan sangat tidak adil jika tiba-tiba Amara dianggap sama halnya seperti Ganeta.
"Tidak ada hubungannya katamu? Dia dan Ganeta sama-sama putri Wiranata!! Kamu lupa sumpah Mas pada semesta dulu bagaimana?"
Kanaya terdiam, dia bungkam sesaat dan kembali mengingat ucapan Ibra empat tahun lalu. Sakit hati Ibra terlampau dalam, dia bahkan bersumpah tidak akan pernah sudi berhubungan kembali dengan anak cucu Wiranata sekalipun tidak lagi tersisa manusia di dunia ini.
"Atas dasar apa Mas percaya Amara putrinya?"
"Mas bukan pria bodoh, Kanaya ... sekalipun Wiranata mengaku tapi Mas tidak menemukan buktinya, semirip apapun mereka Mas tidak akan percaya. Akan tetapi, apa yang Bryan ungkapkan tidak bisa Mas tolak ... istri Syakil adalah putri badjingan itu, dan Mas tidak sudi cucu kita lahir dari rahimnya."
Ibra mengepalkan tangannya, pria itu memang anti direndahkan. Salah satu kesalahan yang tidak bisa dia maafkan adalah ketika seseorang merendahkan orang lain, jelas terjadi pada Adrian sewaktu menghina Kanaya dulu.
Penghinaan Wiranata terhadap putranya hingga detik ini tidak bisa Ibra terima. Dia bukan pria pemilih, kedua putranya dibebaskan memilih kebahagiaan tanpa harus memandang status wanita itu. Akan tetapi, untuk Amara kali ini dia benar-benar tidak punya alasan untuk menerimanya.
"Istighfar, Mas ... sekalipun dia benar putra Wiranata tidak seharusnya Mas memandangnya sebelah mata, putra kita bahagia bersama Amara ... wanita itu adalah hidupnya, sampai kapanpun kamu nggak punya hak memisahkan mereka!!" sentak Kanaya berapi-api, dia paham ketika Ibra sudah berkata demikian maka akan sangat sulit untuk mengembalikan keadaan. Akan tetapi, selagi dia bisa maka Kanaya akan berusaha berdiri sebagai wanita untuk Amara.
"Dia putraku dan aku berhak menentukan penamping yang pantas, seribu wanita di dunia ini siap jadi istri Syakil."
"Iya, kamu mungkin bisa bicara begitu ... seribu wanita siap jadi istri Syakil, tapi apa kamu yakin Syakil bersedia menjadi suami dari salah satu di antara seribu wanita itu, Mas? Tidak akan!!" ucap Kanaya menekan setiap kalimatnya, mana mungkin Syakil akan terima semudah itu. Terlebih lagi kini istrinya megandung dan kebahagiaan Syakil hampir saja sempurna.
"Menurut kamu, jika kenyataan berkata lain bagaimana? Mumpung pernikahan mereka belum lama, Syakil masih bisa mendapatkan wanita yang terlahir dari keluarga baik-baik selain dia," ungkap Ibra menatap tajam tanpa arah, tawa Wiranata yang menggelegar di telinganya kemarin masih begitu terbayang.
"Mas kamu kenapa setega ini? Amara sendiri tidak mengetahui jika Wiranata adalah ayahnya ... akan tidak adil sekali jika kamu tiba-tiba memisahkannya dari Syakil," ungkap Amara tidak habis pikir kenapa suaminya menjadi begini, padahal sejak pertemuan pertama Amara sudah menyebutkan nama ayahnya dengan mantap dan itu bukanlah Wiranata.
"Setelah ini dia akan tau sendiri, Kanaya ... Wiranata menginginkan anak itu kembali, berikan saja secepatnya dan jangan pernah bawa kembali ke rumah ini," tutur Ibra datar dan benar-benar membuat Kanaya lelah.
Kanaya berlalu meninggalkan Ibra yang masih tetap duduk di ruang tamu. Sejak awal firasat Ibra memang sudah berkata lain, akan tetapi hendak melarang dia tidak bisa karena kala itu putranya terlampau bahagia.
Apa yang Ibra khawatirkan di masa lalu benar adanya, semua terjadi begitu saja dan kini putranya sudah terlanjur mencintai wanita yang tidak seharusnya. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyesal baru mengetahui hal sepenting ini sekarang.
"Jika memang kamu tidak mau, Papa yang akan bertindak, Syakil."
.
.
.
Jauh dari jangkauan Ibra dan Kanaya, saat ini pasangan yang tengah hangat-hangatnya memadu asmara tengah dikelilingi kebahagiaan tiada habisnya. Keduanya duduk berdampingan di tepian danau dengan Syakil yang berperan sebagai pendengar dan Amara yang bercerita panjang lebar tentang masa lalu orang tuanya.
"Kamu sering kesini berarti ya?" tanya Syakil merapikan anak rambut sang istri, pria itu tersenyum hangat seraya menunggu cerita apalagi yang akan dia bawakan.
"Nggak juga ... biasanya hari minggu Papa bakal ajak aku sama kak Eva jalan-jalan. Kesini mungkin dua bulan sekali sih," tutur Amara sembari menerawang ke jauh sana, dia merindukan wajah pahlawananya.
"Jalannya kemana?"
"Kemana saja, yang penting pergi dari rumah."
Jawaban sederhana yang sangat sesuai dengan keadaannya dahulu. Amara memang bukan hidup di keluarga yang kaya raya, akan tetapi bukan pula kaum menengah kebawah. Dia termasuk manusia mampu dan sang Papa selalu mengajarkan Amara tentang kesederhaan yang membuat dia mampu beradaptasi dengan cepat kala sang papa tutup usia.
"Oh iya, kak Eva apa benar-benar tidak menghubungi kamu lagi?"
Syakil menggeleng, dia malas sekali membahas wanita itu sebenarnya. Setelah dia membaca chat pribadi antara sang istri dengan kakak iparnya, Syakil memutuskan untuk memblokir nomor ponsel wanita jallang itu. Hanya saja, Amara mengira jika Eva marah padanya. Padahal, Syakil lah sebab wanita itu tidak bisa lagi berkomentar apapun pada istrinya.
"Terserahlah, mungkin uang dariku kurang." Syakil berucap demikian dan hal itu sukses membuat Amara berpikir sejenak.
"Ah lupakan, kenapa jadi inget dia ... kamu sih."
Dia yang mulai dan dia juga yang membuat Syakil menganga. Dasar kaum wanita, memang selalu bisa membuat kaum pria berada di posisi salah.
-To Be Continue-