
"Amara tunggu, Sayang!!"
Langkahnya terburu-buru mengejar Amara yang sebenarnya biasa saja, pria itu khawatir sang istri akan benar-benar mendiamkannya semalaman. Bukan hanya perihal takut tidak dapat jatah, akan tetapi Syakil tidak kuasa jika harus membujuk diamnya Amara.
Sudah seperti dugaan, Amara tidak sama sekali menoleh ke arahnya. Wanita itu tetap santai menuruni anak tangga tanpa memedulikan langkah Syakil di atas sana. Sudah hampir berlari, bukan lagi hanya berjalan biasa.
"Amara!! Tu_"
"Syakil hati-hati!!" sontak Amara berteriak namun semua sudah terlambat dan tubuh Syakil sudah berguling-guling dan pada akhirnya berakhir di lantai.
Akibat terlalu buru-buru, Syakil tidak begitu memerhatikan langkah hingga pada akhirnya terpeleset dan jatuh tepat di anak tangga ketujuh. Sungguh drama sekali bukan, mereka tidak sedang dalam adegan akan terpisah ruang dan waktu tapi sore ini Amara dibuat merasa bersalah atas dosa yang sama sekali tidak dia rencanakan.
"Aaarrrggghhhh ... Shiitt!! Anak tangga siallan!!"
"Malah nyalahin tangga, mata kamu nggak dipakek!!"
Meski Amara tengah kesal lantaran keputusan Syakil yang masih saja memberikan uang sebegitu besarnya untuk Eva, kali ini hatinya masih tercubit dan menghampiri sang suami dengan perasaan panik yang tidak bisa dia tutup-tutupi.
"Ya Tuhan, aku sudah tersiksa begini kamu tetap nggak ada lembut-lembutnya, istri siapa sih kamu?"
Syakil tidak bercanda ataupun cari perhatian saat ini. Tubuhnya memang terasa sakit dan sikunya teramat ngilu, kepalanya juga bahkan terasa pening dan butuh beberapa saat untuk menenangkan dirinya.
"Sakit ya?"
Dasar istri tidak punya perasaan, sudah tahu suaminya jatuh dan itu lumayan tinggi, harusnya Amara panik tapi kenapa justru terlihat biasa saja, pikir Syakil.
"Nggak, Ra ... enak, kalau perlu dorong aku sekali lagi."
Sama sekali tidak ada sisi romantisnya, Syakil benar-benar menyerah tentang istrinya ini. Wanita lain bahkan mungkin akan berteriak histeris ketika dia celaka, akan tetapi saat ini istrinya justru menarik sudut bibir.
"Ya kamu sih, matatu dipakek ... udah dikasih Tuhan dua masih aja, udah tau turun tangga pakek lari, nggak bakal ditinggalin juga."
Yaps, istrinya mengomel dan ini adalah hal yang Syakil inginkan. Semakin istrinya marah-marah, semakin Syakil merasa bahagia, hatinya bahkan berbunga padahal istrinya bukan merayu melainkan meluapkan emosi yang tengah menggebu.
"Cepetan bangun, cengo aja dari tadi," gerutu Amara lantaran Syakil sama sekali tidak berniat bangun melainkan terus saja memandanginya sejak tadi.
"Nggak bisa, sakit."
Alasan saja, padahal dia sedang malas dan terlalu betah memandangi sang istri dengan posisi telentang begini. Amara memeriksa kepala Syakil, mana tahu otaknya berceceran makanya jadi begini.
"Syukurlah," gumam Amara pelan kala dia selesai memastikan jika kulit kepala suaminya aman dan tidak ada kerusakan, pria itu masih begitu menikmati berada di bawah Amara, leher putih dan tahi lalat di dadanya membuat Syakil betah memandanginya.
Lama-lama Syakil memang tidak bisa diajak kompromi. Di rumah ini bukan hanya ada mereka berdua saja, meskipun statusnya bekerja akan tetapi Amara tidak nyaman jika Syakil mulai berulah di hadapan mereka.
"Biarkan saja," jawabnya enteng, Syakil menoleh sekilas ke arah bodyguard Amara dan seorang wanita paruh baya yang datang dengan masih mengenakan apron di sana, tampaknya dia panik akibat mendengar teriakan Syakil beberapa waktu lalu.
"Kalian pergilah, aku baik-baik saja ... ini hanya kecelakaan kecil," titahnya kemudian terlihat biasa saja dan seperti tidak merasakan sakit sama sekali.
"Anda yakin, Tuan?"
"Hm, sangat-sangat yakin."
"Tapi bagaimana jika tulang Anda menga_"
"Pergilah, aku tidak suka mengulangi ucapanku berkali-kali."
Panas dingin sang bodyguard dibuatnya, majikannya memang tidak tertebak. Dalam keadaan tertawa seceria apapun dia akan sangat berbeda jika bicara pada orang lain, pada nyatanya sesulit itu Syakil menerima orang asing.
.
.
.
Setelah kepergian mereka, barulah Syakil berniat bangun dengan bantuan Amara tentu saja. Tubuh tinggi dan berat luar biasa bagi Amara amat sangat menyulitkan, akan tetapi dia tidak menggerutu meski tubuhnya seakan hendak remuk kala membantu sang suami.
"Katanya nggak sakit?"
Sarkas sekali, Amara berbicara santai kala menyadari langkah kaki Syakil terlihat pincang dan begitu lambat, kemungkinan suaminya terkilir, atau bisa jadi patah tulang.
"Sedikit," jawabnya masih mengulas senyum kemudian menggigit bibir bawahnya lantaran menahan sakit yang entah kenapa terasa sangat luar biasa.
"Aku hubungi dokter Nathan saja ya?"
Syakil menggeleng, dia belum memiliki keinginan untuk bertemu Nathan. Amarahnya pada pria itu masih benar-benar bersarang dan Syakil khawatir dia tidak bisa menahan diri dan justru terjadi perang badar di sore ini.
"Kenapa? Kalau kakimu patah gimana?"
............... Lanjut