
Belum juga sepuluh menit, Amara sudah benar-benar terlelap dengan kepalanya di pangkuan Syakil. Sempat menolak pada awalnya, namun Syakil yang tiba-tiba menariknya membuat Amara tidak bisa menghindar.
Seperti dugaan Syakil sebelum pergi, saat ini benar-benar hujan. Cukup deras bahkan Syakil mengurangi kecepatan demi membuat istrinya merasa nyaman.
Syakil tetap mengemudi sebegitu fokusnya meski sang istri tidur lelap di pangkuannya. Beberapa tahun lalu dia pernah merasakan hal ini, dengan wanita yang berbeda namun perasaan Syakil tidak berubah, ini persis sama dan pria itu seakan menemukan kembali cintanya yang menghilang beberapa tahun lalu.
"Kamu pergi kemana selama ini, Sayang ... apa yang sebenarnya kamu hindari waktu itu," tutur Syakil tanpa sadar kala membelai wajah Amara sebegitu lembutnya.
Perjalanan pulang yang terasa amat panjang, Syakil tiba di rumah ketika hari mulai gelap. Pria itu sengaja diam untuk beberapa saat menunggu istrinya bangun sendiri.
Gerakan halus mulai terasa, Amara nampaknya terjaga dan kini menggosok matanya perlahan. Pria itu mengulas senyum kala manik indah sang istri menatap ke arahnya.
"Kita sudah sampai?" tanya Amara menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya, baru juga membuka mata namun pria itu sudah berhasil membuat dirinya salah tingkah.
"Sudah, aku ganggu tidur kamu ya?"
Amara menggeleng, meski memang jemari Syakil yang terus menelusuri wajahnya adalah sebab kenapa dia terbangun beberapa saat lalu.
"Kamu kenapa liatin aku?"
Tatapan Syakil dan senyum tipisnya membuat Amara bingung sendiri. Kenapa suaminya mendadak senyum tidak jelas ketika dia sudah terbangun.
"Capek banget ya? Sampe pulas tidurnya," ungkap Syakil merapikan rambut Amara yang sebenarnya tidak begitu acak-acakkan.
"Nggak juga, lebih pulas pas malam," jawab Amara apa adanya dan berhasil membuat Syakil lagi-lagi tersenyum tipis, ini terlalu lucu bahkan ingin rasanya Syakil gigit.
"Masa? Tapi kamu sampai ngiler gitu," tutur Syakil dan membuat Amara refleks menyentuh sudut bibirnya, sungguh diluar dugaan dan percayalah malunya Amara sudah seluas angkasa.
"Astaga ... sejak kapan aku ...."
Habislah sudah, Amara yang tadinya memang sudah malu dibuat semakin tidak punya muka kala dia menyadari sebuah pulau di celana jeans Syakil sudah terbentuk begitu sempurna.
"Tisu mana?" tanya Amara panik dan bermaksud mengelap celana sang suami yang tampak basah itu.
"Buat apa? Jangan pikirkan, Ra ... lagipula ini air liur kamu, nggak masalah."
Syakil paham istrinya malu, akan tetapi sama sekali dia tidak masalah. Karena di detik ini, rasanya sekalipun darah Amara, maka bagi Syakil tidak menjijikkan sama sekali.
"Maaf, nanti aku cuci ... aku nggak sengaja, biasanya aku nggak ngiler kok, sumpah."
Amara bahkan mengangkat kedua jemarinya sebagai tanda kebenaran ungkapannya. Akan tetapi, Syakil justru mengangguk pelan seolah mengalah dengan pernyataan sang istri.
"Cuci baju bukan tugas kamu, Ra ... aku bukan menikahi kamu untuk melakukan hal semacam itu."
Terharu, bingung dan semua perasaan nampaknya Amara rasakan kini. Dia yang terbiasa melakukan apa-apa sendiri kala takdirnya berkata dia harus mandiri jelas saja dibuat terhenyak kala suaminya berkata demikian.
"Ayo turun, kamu bisa mandi abis itu tidur lagi kalau mau."
.
.
.
Kemarin-kemarin juga di kamar hanya berdua, akan tetapi entah kenapa malam ini rasanya berbeda. Mereka hanya makan malam berdua, jika biasanya akan ada perbincangan mertuanya, kini memang hanya dentingan sendok yang terdengar.
"Kenapa di sisihkan? Nggak suka?" Syakil memulai pembicaraan kala melihat Amara menepikan serpihan kacang tanah di piringnya.
"Nggak bisa, bukan nggak suka."
Dia alergi kacang tanah, sementara Ganeta tidak begitu. Di antara banyak kesamaan, Syakil menemukan satu perbedaan di antara mereka.
"Nggak bisa? Alergi, Ra?" tanya Syakil mulai sedikit penasaran tentang istrinya.
"Sejak kapan?" tanya Syakil lagi, jawaban Amara sebelumnya membuat perasaannya benar-benar merasa berbeda.
"Udah lama ... aku nggak ingat," jawab Amara masih fokus menghabiskan makan malamnya, semua pertanyaan Syakil selalu dia jawab demikian.
"Hm, habiskan makanmu."
Syakil masih terus menunggunya, meski pria itu sudah selesai sejak tadi, namun dia masih begitu setia menunggu Amara usai.
Cukup lama juga ternyata menunggu istrinya selesai, jika Syakil sendirian mungkin saat ini dirinya sudah terlelap di atas tempat tidur, entah kenapa justru kini dia betah sekali menunggu Amara beranjak.
Beruntung sekali Syakil memiliki mama seorang Kanaya, walau memang wanita itu benar-benar menyayangi ketiga cucunya, akan tetapi dengan dia yang selalu memberikan ruang berdua sudah menunjukkan jika dia memahami putranya.
Tiba di kamar, seorang Amara yang tadinya terlihat begitu lelah dan kurang tidur kini tampak segar, mungkin karena sudah selesai makan.
Berawal dari Syakil yang tiba-tiba merekomendasikan sebuah film baru yang kini tengah ramai diperbincangkan, keduanya kini menjadikan kamar layaknya bioskop dadakan.
Ini modus Syakil atau tidak disengaja sebenarnya Amara juga bingung. Dia yang tidak begitu suka menonton tidak berpikir jika sebuah karya bergenre romansa erotis Polandia isinya akan sepanas itu.
Matanya yang biasa dipakai menonton acara lawak mendadak membola kali ini. Ac di kamar mereka dingin, tapi kenapa setelah menonton film tersebut terasa sedikit panas. Bukan hanya Amara yang merasakan, tentu saja Syakil juga.
"Ra," bisik Syakil begitu dekat di telinganya, Amara yang berada dalam pelukan Syakil jelas saja dibuat bungkam kali ini.
"Iyaa, Apa?"
Dia balik berbisik, padahal di dalam kamar hanya ada mereka berdua, Amara terbawa suasana sehingga memilih berbisik demi menghargai pemeran utama film yang ditontonnya.
"Panas."
"Sama, aku panas juga."
"Lepas selimutnya boleh?" tanya Syakil menggigit bibirnya kemudian, dia tidak akan bertahan dalam selimut sampai film itu selesai, tidak akan.
Amara mengangguk lantaran memang selimut itu hanya membuatnya semakin tersiksa saja, beberapa saat setelah itu mereka masih merasakan hal yang sama, semakin bahkan kini Syakil mengacak rambutnya.
"Filmnya kenapa begini?" tanya Amara mulai resah, sungguh dia kira ini hanya full action, mana dia tahu kalau aksi yang diperlihatkan ternyata berbeda.
"Kak Mikhail bilang bagus, aku nurut saja."
Menyesal sekali dia mengikuti saran Mikhail, wajar saja pria itu menyarankan ditonton bersama pasangan. Kini, Syakil justru kepanasan sendiri bahkan Juno berontak dan berdiri seolah-olah ingin keluar dan turut menyaksikan film tersebut.
"Bahaya, aku didewasakan saran kak Mikhail," gerutu Amara kemudian, memang sudah dia duga pasti ada manusia itu di balik ini.
"Kan memang sudah dewasa, Ra ... kamu sudah punya suami, artinya lebih dari dewasa." Syakil mengacak rambut istrinya pelan, pria itu berusaha terlihat tenang meski adegan di film itu benar-benar membuatnya tersiksa.
Benar juga, Amara menghela napas pelan kembali menikmati alur film tersebut. Tapi, beberapa saat kemudian sentuhan Syakil ngajak ribut, pelukan yang sebelumnya di luar baju kini menelusup masuk dan mengusap punggungnya berkali-kali, dan itu luar biasa geli bagi seorang Amara.
"Kil ...." Amara menahan dada Syakil yang kini kian mendekat padanya.
"Hm? Kenapa?"
"Jangan diteruskan, aku belum bisa tanggung jawab," tutur Amara memahami apa maunya pria itu, sebelum terlanjur menggila lebih baik dia tahan sekarang.
"Damn it, aku lupa." Syakil gusar dan menenggelamkan wajahnya di dada Amara, dia benar-benar lupa tentang hal ini.
"Kurang-kurangin ngumpatnya, aku nggak suka."
Di beberapa keadaan Syakil akan mengumpat, dan itu cukup kasar di telinga Amara. Sering kali kata-kata seperti itu terdengar bahkan nama hewan sekebun akan Syakil sebutkan saat dia tidak suka dengan keadaan.
"Maaf, Sayang ... bukan maksudku begitu, ah sudahlah kita tidur saja. Filmnya jelek, sangat-sangat jelek!!" Memang tidak ada kasar, tapi sama halnya mengumpat juga.
Tbc