My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 41 - Belum Bisa Terima



"Kau gila?"


Belum apa-apa Syakil sudah dibentak pria tampan berkacamata itu. Dia bahkan menggeleng usai memeriksa kondisi Amara, sementara wanita itu hanya medongak karena terkejut mendengar pertanyaan Nathan.


"Kenapa?"


Bukannya menjawab, Syakil justru balik bertanya. Pria itu sudah keringat dingin sejak tadi sebenarnya, sejak Nathan menyentuh bekas gigitan di dekat leher Amara yang meninggalkan tanda kemerahan dan itu tidak bisa ditutupi karena Nathan pada nyatanya mencurigai adik sahabatnya ini.


"Kau apakan?" tanya Nathan tidak langsung membahas apa yang terjadi pada Amara.


"Jawab aku, Syakil!" gertak Nathan kemudian kala Syakil memilih diam dan terlihat bingung hendak menjawab pertanyaannya.


Seperti halnya Mikhail, pria ini tidak peduli seberapa berkuasanya Syakil. Sama sekali dia tidak takut karena Syakil takkan berani macam-macam padanya.


"Bukan urusanmu, katakan saja istriku kenapa."


Syakil tidak meninggi, pria itu bukanlah seseorang yang terbiasa menggunakan urat ketika bicara. Syakil masih bersedekap dada, menatap tajam Nathan dan tidak ingin menunjukkan jika benar-benar bersalah dalam hal ini.


"Mikhail tau kelakuanmu bagaimana? Kau sengaja hidup mandiri di sini agar bisa menyiksa istrimu begini?" tanya Nathan masih menatap tajam Syakil, pagi ini Nathan dibuat cukup terkejut dengan kelakuan pria lembut yang tidak tertarik dengan banyak wanita ini.


"Aku tidak menyiksanya, Nathan ... jaga bicaramu."


Syakil menggigit bibir bawahnya, pria itu menghela napas kasar kemudian mengacak rambutnya asal. Sungguh, ucapan Nathan membuat hatinya tercubit saat ini.


"Lalu ini apa? Belum saja aku periksa seluruh tubuh istrimu, Syakil." Nathan meradang dan ingin sekali mendaratkan pukulan di wajah Syakil saat ini juga.


"Jangan coba-coba, jauhkan tanganmu!!"


Dia masih sama, Syakil tetap pencemburu dan sontak meninggi kala Nathan hendak menyingkap lengan baju Amara.


"Baiklah, kali ini aku tidak akan ikut campur urusan kalian ... tapi ingat, untuk selanjutnya jangan coba-coba menyakitinya, kau bisa kehilangan calon anakmu, Syakil," jelas Nathan yang membuat Amara mengerutkan alis, dia terkejut dan merasa bingung dengan ucapan pria yang kini sudah bersiap-siap hendak pergi.


"Ma-maksudmu?"


Mata Syakil dibuat membola kala mendengar ucapan Nathan, pria itu menatap Amara yang juga sama bingungnya.


"Tunggu, Nat!! Jelaskan dulu, istriku kenapa?"


"Hamil," jawab Nathan singkat, melihat wajah Syakil hari ini dia mendadak kesal dan suasana hatinya rusak seketika.


"Iya, jika kurang puas tanyakan saja ke rumah sakit ... aku muak melihatmu."


Untuk pertama kalinya Nathan merasa kesal kepada keluarga pasiennya. Syakil yang tiba-tiba tidak dia kenali ini sungguh membuat Nathan tidak habis pikir.


"Hm, terima kasih."


Syakil tidak tersinggung kala Nathan menyatakan jika muak melihatnya.Tatapan pria itu kini sudah terfokus pada Amara, sang istri yang tengah berusaha sadar dalam lamunannya.


Brak


Andai saja bukan di situasi begini, sudah tentu Syakil akan mengejar Nathan yang berani membanting pintu kamarnya. Hanya saja, kabar yang disampaikan Nathan beberapa saat lalu membuat Syakil merinding.


Sepeninggal Nathan pergi, Syakil mendekati sang istri. Dia menunduk demi bisa menatap lekat wajah Amara, tangannya menyentuh perut Amara pelan tanpa meminta izin lebih dulu.


"Dengar sendiri kan? Kamu hamil," bisik Syakil kemudian mengecup bibir Amara yang kini masih membeku.


Amara berharap ini mimpi, entah kenapa rasanya dia tidak siap kala mendengar pernyataan dokter tersebut. Bukan berarti dia tidak suka bayi, hanya saja ketakutan itu tiba-tiba menjalar ke sekujur tubuhnya padahal saat ini Syakil tidak lagi menyakitinya.


"Apa yang salah, Amara? Kenapa menangis?"


Amara refleks menunduk kala Syakil hendak mengusap air matanya. Ketakutan Amara begitu nyata, Syakil mengerutkan dahi dan mengurungkan niatnya.


"Kamu takut? Apa aku sekasar itu, Ra?" tanya Syakil sedikit lirih lantaran sikap Amara membuatnya benar-benar bingung sendiri.


Masih perlukah dia jawab? Amara mengusap air matanya sendiri dan memilih untuk merebahkan tubuhnya, belum sempat Syakil bicara sang istri sudah membelakanginya.


"Aku mau tidur lagi, pergilah ... biasanya kamu sibuk," ucapnya dibalik selimut tebal itu, matahari sudah mulai meninggi, bisa-bisanya Amara berselimut hingga menutupi wajahnya.


"Hm, tidurlah ... aku siapkan sarapan, hari ini aku nggak akan kerja."


Mata Amara yang sudah terpejam beberapa saat lalu, tiba-tiba terbuka dan kesadarannya mendadak kembali kala mendengar kata sarapan. Sontak wanita itu membuka selimutnya, hanya saja Syakil sudah berlalu keluar dan Amara tidak memiliki kekuatan lebih untuk menghentikan suaminya.


"Sarapan? Aku bisa mati makan masakan dia lagi." Dalam keadaan suasana hatinya yang masih seburuk itu Amara masih sadar dan mempertimbangkan efek makan sarapan buatan Syakil, sungguh dia berharap sekali pelayan sudah selesai menyiapkan sarapan di meja pagi ini.


Tbc