My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 63 - The King Of Drama.



"Kau tidak sedang mengarang bebas kan, Syakil?"


Pertanyaan paling konyol yang pernah Syakil terima. Mikhail kira semua orang itu persis dirinya, meski memang dia beberapa kali berbohong akan tetapi Syakil tidak selalunya membual dalam segala hal.


"Aku serius ... dia terlihat semakin tua." Syakil bersedekap dada, pria itu kemudian menghirup susu panas yang dia seduh untuk dirinya sendiri, mana mungkin dia membuatkan untuk Mikhail juga.


"Menurutmu dia juga ditinggalkan Ganeta?" tanya Mikhail sama sekali tidak yakin dengan hal ini, pria itu berdecih jika mengingat kejadian beberapa tahun silam itu.


"Hm seperti dugaanmu, setelah aku bertemu dengannya kemarin ... aku yakin dialah penyebab Ganeta pergi hari itu."


Pada akhirnya Syakil mengalah dan Mikhail merasa bangga dengan pola pikir adiknya kali ini, setelah beberapa waktu susah payah dia mengungkapkan jika Wiranata adalah dalangnya, setelah empat tahun baru Syakil percaya.


"Dia tidak merendahkanmu lagi?" tanya Mikhail menatap sendu Syakil, kasihan sebenarnya jika dia ingat bagaimana dulu adiknya dipandang begitu kecil di mata Wiranata.


"Tidak, bahkan kami hampir kerja sama ... Haha licik sekali dia, setelah lama membuatku kacau kini Wiranata kembali sebagai pemimpin Maovan Group, lucu sekali bukan?" Syakil menarik sudut bibirnya tipis, takdirnya memang selalu tidak diduga-duga dan hal semacam ini terasa amat aneh baginya.


"Iya lucu sekali ini, perutku bahkan sampai sakit ... hahaha." Itu adalah ejekan, wajahnya datar sedatar tawanya yang dibuat-buat.


"Ck, aku serius!!"


Makin lama bicara dengan Mikhail, dia hanya naik darah. Akan tetapi hendak menghampiri istrinya tidak bisa lantaran Amara meminta waktu untuk menonton drama bersama Zia dan itu tidak boleh diganggu.


"Lalu bagaimana dengan Ganetanya? Dia masih hidup atau bagaimana?" tanya Mikhail kurang niat sebenarnya, pria itu bertanya dengan menggerakkan kedua tangan seolah tengah presentasi di depan umum.


"Entahlah, untuk apa kau bertanya begitu ... Aku tidak ingin membahasnya," ujar Syakil kemudian menegak pelan-pelan susu panas itu karena khawatir lidahnya melepuh.


"Siallan ... kau yang membahasnya duluan." Dengan tanpa dosa, Mikhail sengaja mendorong gelas Syakil hingga susu panas itu tumpah dan membasahi wajah serta menurun ke leher dan dadanya.


"Aarrgh!! Dasar gila!! Kau mau membunuhku atau bagaimana?" sentak Syakil murka, wajah Mikhail yang benar-benar terlihat santai usai membuat kulitnya seakan terbakar itu sungguh memuakkan.


"Bukti jika kau sekolah di bawah batang ubi, mana ada cara membunuh seperti ini." Syakil kehabisan kata-kata, pria itu mengepalkan tangan bahkan gelas itu ingin dia hancurkan sebenarnya.


"Mikhail kau_"


"Mas," panggil Zia lembut dari jarak beberapa meter di belakangnya, Syakil menarik napasnya dalam-dalam dan berusaha menahan emosi yang kini hampir meledak.


"Sayang, udah nontonnya?" tanya Mikhail tanpa malu seperti biasa mengecup bibir istrinya, ya jika sudah ada Zia memang dunia ini hanya miliknya.


"Udah, filmnya sedih aku nggak suka." Zia mencebik, untung saja wajahnya masih cocok bermanja-manja begitu. Tidak pernah Syakil duga sama sekali jika sahabatnya akan benar-benar berubah seperti ini setelah mengenal Mikhail.


"Cup ... cup ... cup, kasihan sekali sayangnya Mas. Besok Mas tegur adik ipar, dia yang milih filmnya kan? Hm istriku yang cantik ini jadi menangis."


Interaksi dua sejoli ini berhasil membuat Syakil mual. Bukan karena kehamilan simpatik tapi sepertinya memang Mikhail yang selembut sutra itu membuatnya geli.


"He-em, Amara suka yang begitu ... aku nggak kuat, Mas ... Huaa," balas Zia sama dramatisnya, Syakil yang mendengarnya hanya bisa melongo dan berpikir positif mungkin saja itu bawaan bayi dalam kandungan kakak iparnya.


"Sampai kapan kalian akan begini di hadapanku? Umur kalian berapa sebenarnya?" tanya Syakil menghela napas panjang, rasanya dia juga mencintai Amara. Akan tetapi, tidak segila ini.


"Ck, iri!! Punya istri tu memang buat dimanja, bukan buat digigit sampai berdarah," tukas Mikhail membuat Syakil diam seribu bahasa.


"Hah? Maksudnya, Mas?"


"Kenapa, Syakil? Gigit gimana maksudnya?" tanya Zia benar-benae penasaran, dia juga menatap Mikhail yang kini memilih diam.


"Bukan apa-apa, jangan percayai suamimu sepenuhnya ... musyrik!!" ungkap Syakil kemudian berlalu meninggalkan mereka, sebelum rahasianya benar-benar dibongkar di depan Zia. Jika sampai Zia mengetahui hal itu bisa jadi amarah Kanaya akan terwakilkan olehnya.


.


.


.


.


Tiba di kamar Syakil menghampiri istrinya. Memperlihatkan baju yang kini kotor dan wajah melas persis bocah Tadika Mesra yang mengadu kepada orang tuanya. Amara yang juga baru masuk kamar beberapa menit lalu hanya melongo melihat suaminya pulang-pulang begini.


"Kamu dari mana? Kok basah begini?" tanya Amara menyentuh dadanya, dan benar memang sebasah itu.


"Susunya tumpah, kak Mikhail kurang ajar." Syakil menggerutu dan hendak mengelap lehernya dengan tisu basah, ini sedikit lengket namun dia enggan mandi dua kali.


"Ya Tuhan, sini lepas dulu bajunya ... biar aku yang bersihkan."


Memang maunya Syakil, pria itu tersenyum simpul kala istrinya mulai membuka pakaiannya. Bukan dalam misi bercinta malam hari, melainkan membersihkan noda di baju dan tubuh Syakil.


"Tadi susunya panas ya?" tanya Amara khawatir, karena setelah baju Syakil dia lepaskan, dada putih suaminya itu terlihat kemerahan dan sepertinya itu sedikit perih.


"Lumayan," jawab Syakil pelan, jika sudah diperhatikan begini rasanya disiram air panas sungguhan dia tidak masalah.


Amara membersihkan pelan-pelan leher dan dada suaminya dengan tisu basah. Tubuh atletis dan raga yang sempurna, impian setiap wanita termasuk Amara sejak lama.


"Perih nggak?"


"Sangat, Sayang ... pelankan lagi, aku nggak kuat," rengeknya luar biasa mendramatisir keadaan. Beberapa waktu lalu dia mengejek Zia dan Mikhail sebagai pasangan penuh drama, tanpa dia berkaca bahwa dirinya persis sang kakak.


"Kenapa juga bisa begini, Kak Mikhail juga bercandanya keterlaluan."


Dia menggerutu, mau bagaimanapun Syakil adalah suaminya. Jelas saja Amara marah, pria itu mual saja Amara ketar-ketir, kini kulitnya yang luar biasa sensitif itu mungkin bisa saja terkelupas.


"Memang dia begitu, maklumi saja ... aku harap kamu nggak menyesal kasih tau alamat kita," ungkap Syakil mencolek dagu Amara tiba-tiba, kebiasaan sekali menyentuh seenaknya dan membuat wanita itu panik seketika.


"Tunggu di sini, aku ambil bajunya dulu."


Syakil mengangguk, matanya kini tak lagi memerhatikan Amara. Melainkan terfokus pada semua hal yang ada di meja rias Amara. Sepertinya Amara mulai peduli dengan kecantikannya, entah dari mana dia dapatkan karena yang kali ini suda lebih lengkap.


"Coba ah." Syakil menggosok telapak tangannya, pria itu mulai menimbang yang mana dulu akam dia coba.


-Tbc-


Selamat malam, maaf ya best aku terlambat ... tapi malam ini akan tetap tiga. Jangan lupa mampir di karya temanku satu ini.