
"Agha yang suka, Ganeta suka bintangnya."
Tunggu, Kendrick tidak salah dengar? Malam ini dia menjawab meski tidak menatap. Kemarin-kemarin dia benar-benar bungkam, baru malam ini Ganeta menjawab pertanyaan dengan suara yang luar biasa langka bagi Kendrick.
"Kamu suka?"
"Suka, semesta aku suka ... tanpa sisa," jawab Kendrick menatap lekat Ganeta yang sam sekali tidak membalas tatapannya.
Beberapa waktu lalu, Syakil meminta agar Ganeta dirawat di rumah sakit jiwa saja. Akan tetapi, hati Kendrick berkata lain dan dia menolak hal itu tanpa membicarakan hal ini pada Syakil, beberapa orang menganggap Ganeta benar-benar gila, akan tetapi hati nuraninya sama sekali tak tega.
"Semesta? Apa tidak terlalu luas?" tanya Ganeta kemudian, pertanyaan ini menunjukkan jika dia mampu berkomunikasi meski memang tidak setanggap orang normal.
"Tidak," jawab Kendrick mantap kala mata bulat Ganeta tertuju padanya.
"Aku yang menginginkan bintang saja tidak tergapai, padahal kecil." Dia berucap masih dengan tangan yang seolah hendak menggapai titik cahaya itu.
"Bintang?"
"Iya bintang yang selalu bersinar, seperti dia."
Beberapa menit berlalu, Kendrick tidak lagi menjawab ucapannya. Pria itu kemudian menatap pergelangan tangan kirinya, sudah sangat larut dan ini sudah seharusnya Ganeta tidur.
"Tidurlah, sudah berapa jam kepalamu mendongak begitu ... apa tidak pegal?" tanya Kendrick penasaran, sungguh dia dibuat bingung kenapa bisa hal semacam ini bisa terjadi.
"Lalu bintangnya? Kalau pergi bagaimana?" tanya Ganeta menatap datar Kendrick, mata sendunya sangat-sangat membuat hati Kendrick terluka jika sampai disebut gila.
"Tidak akan, percaya padaku ... bintang akan terus mendatangimu," tutur Kendrick pelan berusaha membuat Ganeta percaya.
"Tapi ...."
"Tidurlah, sudah malam ... nanti dokter marah, mau?" tambah Kendrick melakukan hal semacam ini padahal dia sangat-sangat tidak suka.
"Jangan, mereka menakutkan seperti Papa," jawabnya kemudian menatap nanar ke sembarang arah dan kini menyudahi kegiatannya. Dia merebahkan tubuh di tempat tidur dan membelakangi Kendrick yang sejak beberapa hari lalu selalu berada di sisinya.
"Bintang yang kamu maksud mungkin takkan kembali, tapi jangan lupa bahwa bintang tidak hanya satu ... tapi ribuan, Ganeta."
Kendrick berucap demikian kala Ganeta kini mendengkur perlahan. Baru juga beberapa menit, kini dia sudah tidak berdaya dan begitu lelap dalam tidurnya. Melihat dia yang bisa menikmati lelap tidurnya tanpa harus dipaksa dengan obat tidur, Kendrick merasa berguna sebagai manusia.
Tidak sia-sia dia bersitegang bersama Wiranata beberapa waktu lalu, tidak peduli meski dikatakan tidak punya hak sekalipun, Kendrick melayangkan ancamannya untuk menjebloskan Wiranata ke dalam penjara atas dasar penganiayaan terhadap Ganeta.
.
.
.
Jika saat ini kemungkinan Ganeta perlahan mulai tenang, berbeda dengan Amara yang tiba-tiba menggila. Pagi-pagi buta Syakil dibuat bingung karena dia tiba-tiba bangun dan meminta hal tak masuk akal bagi Syakil.
Berbulan-bulan hanya diam, jelas saja dia bosan. Manusiawi sebenarnya jika Amara merasa bosan, tetapi untuk yang kali ini entah kenapa rasanya tidak manusiawi lagi.
"Sayang, jangan dadakan begini ... kita cari yang lain saja ya?"
"Maunya itu, ayolah aku setengah mati pengennya," rengek Amara menarik tangan Syakil yang baru saja tersadarkan beberapa menit lalu.
"Ya Allah, Amara."
Selama ini Amara tidak memiliki keinginan yang aneh-aneh. Akan tetapi, kali ini dia menginginkan cireng hamil yang penjualnya juga harus hamil, kemana Syakil mencarinya? Jelas saja ini membingungkan.
"Minta buatin kak Zia mau? Kan dia hamil juga," tutur Syakil berharap sekali Amara mau hingga tidak terlalu menyulitkannya.
"Nggak mau, Kak Zia bukan penjual cireng ... aku maunya tu beneran dijual sama teteh-teteh yang lagi hamil," ucap Amara dengan mata penuh harap Syakil bisa mengabulkannya.
"Harus teteh-teteh?"
"Iya harus, boleh ya?"
Bisa saja sebenarnya, akan tetapi kenapa harus begitu. Tidak adakah keinginan lain yang bisa Amara pakai sebagai opsi lain? Selama beberapa bulan ke depan sama sekali Syakil tidak punya rencana pulang, dan kini dengan Amara yang tiba-tiba merengek, mau tidak mau Syakil harus megosongkan jadwal untuk beberapa waktu ke depan.
"Kalau aku kabulkan, kamu mau bayar pakai apa?"
"Yaah kamu kok gitu, kan udah tau aku uangnya dari kamu ... masa minta bayaran," tutur Amara pesimis, wajahnya murung seketika kala Syakil berkata demikian.
"Yang lain lah, aku juga nggak butuh uang kamu sekalipun ada."
Syakil menggerak-gerakan kakinya, pria itu menopang dagu dan menatap Amara yang kini tengah duduk di lantai sembari mendongak ke arahnya.
"Terus apa?" tanya Amara dengan kening yang kini berkerut dan bisa dipastikan emosi mulai naik karena memang kesabarannya hanya setipis kulit lumpia.
"Menurut kamu apa?"
"Ya apa!! Jawab yang bener maunya apa, aku lagi hamil loh ... perutnya rada nggak nyaman, kamu ngomongnya nggak jelas," keluhnya benar-benar merasa sebal dengan Syakil yang selalu menggunakan kode sementara dia malas sekali berpikir.
"Kalahkan romantisnya Zia, bisa?"
Gleg
Agak berat, Amara tidak seluwes itu dalam memanjakan seorang suami. Jam terbang Zia memang sudah tidak perlu diragukan lagi, jujur saja Amara bahkan dibuat kagum dengan kehangatan pasangan suami istri yang menikah sepuluh tahun lalu itu.
"Bisa nggak? Kita berangkat secepatnya kalau kamu bisa," tutur Syakil tanpa basa-basi, melihat istrinya terdiam dan mati kutu pria itu hanya menghela napas pelan.
"Aku hitung sampai tiga, keputusan ada di tanganmu, Amara."
Syakil memandangi istrinya yang tampak bingung memberikan jawaban. Dari sorot matanya terlihat jelas jika sang istri benar-benar menginginkan cemilan itu, sebenarnya tidak tega jika harus dengan imbalan. Akan tetapi, ini adalah kesempatan emas demi terpenuhinya sebuah simbiosis mutualisme dalam pernikahan.
"One ... Two ... Th_"
"Iya bisa!! Deal ... aku terima," ucap Amara yakin seratus persen, hanya hal semacam itu kecil saja. Di awal pernikahan juga dia sudah mulai melakukannya, tentu takkan sesulit itu, pikir Amara.
"Yakin?"
"Iya, yakin ... lebih romantis dari kak Zia, gampang ini mah."
Demi mendapat kepastian cireng hamil itu, Amara berani sekali memproklamirkan diri betapa mampunya dia memanjakan pasangan, jika hanya seperti Zia takkan sulit.
"Bagus, tapi sebelum itu harus di tes dulu ... mampu nggak," ucap Syakil mengada-ngada, padahal tadi tidak ada seleksi dan tahapan beginian.
"Kok jadi ada tesnya?" tanya Amara tidak terima, yakin betul dia tengah dibodohi Syakil, pikirnya.
"Ya ada dong, kamu tanya aja kak Mikhail dulu Zia juga di tes, Ra."
"Tes gimana? Apanya yang di tes?"
Perjuangan sekali, padahal dia ngidam begitu juga akibat ulah suaminya. Bisa-bisanya ketika Amara ngidam Syakil curi-curi kesempatan.
"Semuanya lah, sini naik," ucap Syakil seraya menarik jemari Amara dan menuntunnya untuk duduk di pangkuan Syakil.
"Mulailah," titah Syakil pasrah dan membuat Amara bingung apa yang harus dia lakukan pertama kali.
"Mulai dari mana?"
"Bibir lah, pagi-pagi bibir suami tu jangan dianggurin, setelah itu terserah kamu. Gunakan kesempatan sebaik-baiknya, keputusanku di akhir ... kalau memuaskan, kita benar-benar pulang," bisik Syakil pelan seraya mengedipkan matanya.
-Tbc-