
"Aku coba ah."
Ya, seperti yang Syakil katakan dia akan mencobanya. Pria itu memilih warna yang paling cocok dan kini terbitlah bibir sebegitu natural namun terlihat sangat-sangat menggoda.
"Heeh!! Kamu ngapain?"
Amara menarik paksa lipstik yang berada di tangan Syakil. Sejak kapan suaminya jadi begini. Jika para pasangan lainnya berebut bantal atau yang lain, mereka berebut lipstik.
"Cantik, kapan kamu belinya?"
"Kemaren, minta beliin Hercules ... kamu sibuk terus sih." Melihat hasil di bibir Syakil begitu cantik, dia juga tergoda dan kini Amara memoles bibir mungilnya, akan tetapi kenapa jadi lebih seksi di bibir Syakil, pikirnya.
"Warnanya dia tentuin?"
"Aku lah, masa dia paham beginian."
Syakil kira semua pria akan seperti dirinya, memahami hal semacam itu padahal tidak semua berjiwa sepertinya. Keduanya memajukan bibir dan adu keimutan di depan kaca, tidak lupa dengan pose layaknya model dewasa. Amara terbawa suasana dan dia bahkan lupa tujuannya adalah mencarikan baju untuk Syakil, anggaplah dia sedikit kurang waras kali ini.
"Next ... next pose!! Good job!!"
Dasar gila, kenapa juga Amara mau. Baru dia menyadari jika sudah terlalu dalam mengikuti jurang yang Syakil ciptakan. Pria itu tertawa sumbang kala melihat wajah cemberut Amara.
"Ck, dasar sinting. Udah sana pakek baju."
Hanya sebentar, Amara terlalu cepat sadar padahal Syakil baru mendapatkan tiga belas foto di ponselnya. Untung saja Syakil cepat tanggap dan merogoh ponselnya kala Amara mengikuti kelakuannya di depan kaca.
"Hahaha kamu asik juga ternyata," puji Syakil seolah baru pertama bertemu.
Asik kata dia? Bisa-bisanya memuji istrinya asik padahal sudah tahu segala seluk beluk Amara. Pria itu tersenyum simpul memandangi hasil fotonya kali ini, Amara yang penasaran kini berjinjit demi melihat hasil foto mereka.
"Kamu mau lihat?" tanya Syakil sebelum menunduk, khawatir jika Amara justru berniat menghapusnya.
"He-em, kamu nunduk dikit aku nggak kelihatan." Dia mengeluk, sepertinya tinggi badan Syakil adalah kutukan yang membuatnya selalu kesulitan.
"Iya, Sayang ... nih coba lihat, suka?"
"Ah cantik, aku suka."
Amara mengangguk berkali, pria itu hanya bisa menarik sudut bibirnya kini. Memang tidak akan habis alasan untuk tersenyum tentang Amara.
"Post ah ... aku tag ya?" Syakil menawarkan lebih dulu, khawatir Amara merasa tidak nyaman karena akun istrinya luar biasa suram.
"Emang tau Username aku apa? kita belum saling ikuti loh," tutur Amara menatap Syakil dengan manik indahnya, dia lupa siapa Syakil sepertinya.
"Tau dong, bahkan password semua akunmu aku tau ... haha."
Dasar menyebalkan, sepertinya privasi Amara sama sekali tidak ada semenjak mengenal Syakil. Tidak apa lah, selagi pria itu bertanggung jawab maka tidak masalah, pikirnya.
.
.
.
"Gimana, Pa? Apa dia sudah tau keadaan Ganeta?"
Harap-harap cemas, wanita cantik namun tidak lagi muda itu sangat berharap akan kabar baik dari suaminya. Dia tidak bisa berdiam diri terlalu lama, apa yang kini terjadi membuat mereka terpaksa membuang ego dan tidak peduli tentang harga diri.
"Maaf, Ma."
Baru beberapa menit lalu dia tersenyum senang mengetahui jika suaminya sudah bertemu Syakil, kini senyum Wulan luntur kala mendengar jawaban Wiranata, sang suami.
"Kenapa lagi kali ini? Kemarin-kemarin alasan kamu karena dia sulit ditemui!! Kini apa lagi?"
Wulan murka, benar-benar murka dan hidupnya kini dipenuhi amarah. Harapannya semakin sirna, hampir empat tahun putrinya hidup tanpa jiwa, hanya raga yang seakan mati.
Menyesal, sungguh dia benar-benar menyesali keputusannya yang kala itu mengikuti kehendak Wiranata untuk menculik Ganeta di pesta pernikahannya. Hanya karena karir Syakil yang belum secerah Mikhail, Wiranata berniat membuat mereka malu dan mengerti betapa mereka tidak sudi jika memiliki menantu seorang Syakil yang kala itu hanya membantu Mikhail di perusahaannya.
"Syakil ... tidak ingin mendengarnya, aku belum sempat bicara dan dia mening_"
"Dasar tidak bisa diandalkan!! Semua ini salah Papa, andai saja dulu Mama bantah dan izinkan Ganeta menjadi istri Syakil ... semua pasti tidak akan begini, Pa!!" bentak Wulan kembali mengeluarkan mulut jahatnya, semuanya sudah terlambat dan keduanya hanya saling menyalahkan dalam hal ini.
"Mama bisa diam sebentar!! Kita sama-sama salah ... Mama lupa semua ini kesepakatan kita berdua!!"
Sama-sama dikuasai amarah, ego keduanya terlalu tinggi hingga terlambat menyadari jika tindakan mereka sama halnya dengan membunuh putrinya secara perlahan.
"Mama tidak peduli, coba lagi dan kali ini tolong turunkan ego Papa. Bicara baik-baik kalau perlu Papa memohon agar diberikan maaf," lirih wanita itu melemah, tidak peduli seberapa tinggi dia merasa di atas Syakil, untuk kali ini Wulan benar-benar mengalah.
"Ma? Minta maaf? Cih, Mama gila!!"
Berniat bicara pada Syakil saja itu sudah membuat harga diri Wiranata tercoreng sebagai keluarga terhormat. Kini, Wulan justru memintanya memohon, jelas saja dia enggan.
"Pa!! Kalau memang Papa tidak bisa, Mama saja yang menemuinya!! Sejak dulu Papa selalu menunda waktu dan sekarang lihat, putri kita mengenaskan bahkan tidak layak lagi disebut manusia normal!!" Wulan mengungkapkan kekesalannya lantaran memang Wiranata yang sengaja menunda dan selalu menganggap Ganeta baik-baik saja.
PLAK
"Jaga mulutmu!! Putriku baik-baik saja dan Papa yakin dia bisa sembuh dengan atau tanpa bantuan Syakil," ungkap Wiranata mengepalkan tangannya, kemarahan yang kini membuncah semakin besar dan pada akhirnya malam ini kembali berakhir dengan cekcok parah begini.
"Sembuh Papa bilang hah? Lihat, sudah berapa lama dia dirawat dan hasilnya tetap sama ... aku bahkan tidak mengenali putriku sendiri, aku kehilangan Ganeta yang dulunya menjadi kebanggaannku. Semua ini karena siapa? Karena kamu!!" hardik Wulan benar-benar segila itu hingga berhasil membuat Wiranata semakin sakit kepala.
"Sudah cukup!! Bagi Papa tidak ada yang berubah ... Ganeta tetap Ganeta, jika Mama tidak suka silahkan tinggalkan kami berdua."
Setelah semua tidak terkendali barulah Wiranata berkata demikian, terlambat sebenarnya. Jika saja dari dulu dia memberikan ruang untuk Wulan melangkah, jelas dia sudah menemui Syakil dengan caranya sendiri.
Berita tentang pernikahan Syakil seakan membuat harapan Wulan pupus, akan tetapi demi membuat Ganetanya kembali baik-baik saja.
"Baik, dengan senang hati jika memang itu yang Papa inginkan."
Praank
Baru saja hendak mengambil langkah, lagi-lagi mereka dikejutkan dengan suara pecahan kaca yang hampir sama seperti beberapa hari kemarin.
"Lihat!! Baik-baik saja kamu bilang hah?" Wulan berdecak kesal dak kini melangkah masuk ke kamar putrinya, sudah bisa dipastikan hal gila seperti kemarin akan terjadi lagi.
-Tbc-