My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 56 - Masa Lalu



Belum terlalu baik-baik saja, akan tetapi Syakil tetap berusaha lebih baik menjalani harinya. Demi bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan yang sejak lama dia incar, Syakil memutuskan untuk menerima tawaran pemimpin perusahaan tersebut.


"Aku nggak ikut ya," ucap Amara merapikan kerah kemeja sang suami, trauma lantaran pernah menerima ciuman panas Syakil di keramaian adalah alasannya.


"Hm, lagipula hanya makan siang ... nanti malam kita berdua makan di luar, kamu istirahat saja dulu siang ini."


Syakil menarik sudut bibirnya tipis, meski Amara diam dan tidak menyinggung alasannya pria itu jelas saja paham maksud hati Amara. Sayang sekali istrinya terlihat sedikit lelah kali ini, andai saja Amara baik-baik saja kemungkinan Syakil tetap akan membawa serta istrinya.


"Iya, tapi kamu yakin sudah enakan?"


"Ehm mualnya masih berasa sebenarnya, tapi mau gimana? Kata Nathan kehamilan simpatik nggak cuma sehari dua hari," tutur Syakil kemudian, kemarin-kemarin dia menolak diajak periksa manusia bernama Nathan itu, akan tetapi pada akhirnya masih butuh juga.


"Aku udah masukin minyak anginnya ke saku kamu, oles aja kalau mulai mual atau pusing ya."


Syakil mengangguk dengan wajah datar dan masih berpikir bagaimana cara memusnahkan benda itu. Cukup kemarin kulitnya dibuat seakan terbakar, Syakil tidak akan pernah mau masuk ke lubang yang salah setelah ini.


"Kamu dengerin aku nggak sih?"


Hanya karena Syakil tidak bersuara itupun jadi masalah. Amara sebal karena memang tidak menatap wajah Syakil, mana tahu dia jika Syakil mengangguk.


"Denger, Sayang ... aku ngangguk dua kali malah," ujar Syakil membela diri, dia merasa tidak ada hal yang kurang dan sudah menjawab sebagaimana mestinya.


"Ditanya tu jawab, bibirnya dipakek buat ngomong bukan cuma nyosor ke istrinya."


Kehilangan kata-kata, sejak kapan istrinya jadi cerewet mengalahkan Kanaya begini. Dia memang suka Amara yang banyak bicara, akan tetapi jika sudah begini dia ketar-ketir juga.


"Iya, Nyai."


"Hah?"


Tidak terima dipanggil nyai padahal memang akhir-akhir ini dia cerewet dan cara bicaranya sudah seperti orang yang lebih tua dari Syakil. Hal ini semakin Syakil sadari dan rasakan setelah dia jatuh dari tangga.


"Apa tadi kamu bilang?"


"Iya, Sayang ... begitu."


Mata Amara sudah mendelik bahkan bola matanya seperti hendak keluar. Syakil benar-benar merasa istrinya selucu itu namun tidak berani untuk terbahak karena jika istrinya marah bisa memutuskan tali silahturahmi.


"Bibir kamu kering, sebentar."


Syakil menggigit bibirnya demi bisa menahan senyum yang akan terbuka lebar. Amara berlari mengambil lipbalm tanpa warna itu, mana mau Syakil jika bibirnya berubah merona.


"Ribet, begini saja."


Belum selesai Amara membukanya, Syakil menarik tengkuk lehernya dalam sekejab mata dan tentu saja pria itu mencuri kesempatan dibalik kebutuhan.


"Tolong rapikan," titah Syakil kemudian setelah melepas pagutannya, jantung Amara masih selalu berdetak tak karuan kala menerima perlakuan spontan suaminya yang kerap tanpa dia duga-duga.


"Licik banget," gumam Amara menghela napas pelan namun tetap dia turuti kemauan Syakil.


Melembabkan bibir dengan cara yang berbeda namun cukup berhasil sebenarnya. Amara mengusap pelan bibir Syakil dan berusaha terlihat biasa saja meski jantungnya seakan hampir copot menyadari tatapan pria itu yang tertuju hanya padanya.


"Dah, aku pergi ya ... nggak lama, kamu jangan lupa makan siang."


Baru juga beberapa waktu lalu dia melakukannya, kini sebelum pergi Syakil kembali memberikan satu kecupan manis sebagai tanda pamitnya. Pria itu melangkah cepat karena memang waktu yang ditentukan hanya beberapa menit lagi, akan tidak sopan jika di pertemuan pertama kesannya tidak sebaik itu.


.


.


.


Hanya butuh beberapa waktu untuk Syakil dan Kendrick bisa tiba di tempat tujuan. Keduanya melangkah dengan gagah menuju sebuah ruangan VIP di restoran ibu kota. Syakil menatap Kendrick sebelum kemudian memutuskan untuk masuk, sedikit aneh memang karena seseorang yang menunggu di sana hanya menginginkan Syakil masuk sendirian.


Ketika masuk, Syakil justru merasa semakin aneh kala menyadari seorang pria yang tengah menunggu dengan posisi membelakanginya, jika dia lihat dari perawakannya usia pria itu takkan berbeda jauh dari Ibra, sang papa.


"Maaf, Tuan ... apa saya membuat Anda menunggu lama?" Syakil bingung hendak menyapa bagaimana karena sepertinya pria itu sadar akan kehadirannya namun sengaja tidak menyapanya lebih dulu.


"Hm akhirnya kau datang juga, duduklah."


Deg


Suara itu? Syakil ingat jelas pemilik suara berat itu. Mata Syakil mencari ke sekelilingnya, pria itu hanya sendiri tanpa ada sosok putri yang selalu mengikutinya seperti empat tahun silam.


"Hahaha kau tumbuh menjadi pria dewasa seperti yang kuharapkan ternyata ... apa kabar, Syakil?"


Syakil mengepalkan tangannya, dadanya bergemuruh dan giginya kini bergemelutuk ketika pria itu justru tertawa dan menatapnya dengan wajah yang kini semakin tua.


"Sepertinya saya salah ruangan, permi_"


"Tunggu, Syakil ... kita sudah lama tidak bertemu, bukankah akan lebih baik kita bertukar kabar?"


Bertukar kabar? Syakil berdecih mendengar ucapan pria itu. Pria tua yang dulu seakan tidak peduli air mata Syakil di hari pernikahannya.


"Ck, kabar apa? Saya sudah menutup kisah hidup yang berhubungan dengan keluarga Anda ... jika Anda meminta datang hanya untuk bicara omong kosong, lebih baik saya pergi."


Syakil tidak sama sekali menurunkan dagunya, pria itu tengah memperlihatkan jika dia bukan lagi Syakil yang dahulu dianggap rendah dan hidup dibawah bayang-bayang Ibra.


"Istrimu cantik sekali, pintar juga cari ganti putriku rupanya."


Syakil membuang napas kasar mendengar ucapan Wiranata kali ini, setelah dahulu lepas tanggung jawab dan benar-benar tutup mata serta telinga, kini dia datang dan menyinggung masalah pribadinya.


"Iya, seperti yang Anda lihat dia cantik dan bukan pengecut seperti putrimu."


"Hahahahah pengecut katamu? Pengecut yang tidak bisa dilupakan sampai-sampai kau menikahi wanita yang sama persis seperti putriku Ganeta ... benar begitu, anak manja?" Pria itu tersenyum miring sembari mengetukkan jemari di atas meja, dia kembali merendahkan Syakil sama seperti beberapa tahun lalu.


"Jaga bicara Anda! Saya bukan anak manja seperti yang Anda maksud," ucap Syakil santai namun penuh penekanan, dia tidak akan terburu-buru ataupun menghadiahkan bogem mentah di wajah pria itu. Ya, Syakil bukan pria semacam itu.


"Yayaya bukan lagi, aku salut melihat perjuanganmu ... tidak pernah kuduga kau mampu tetap berjuang setelah putriku pergi," tuturnya santai seolah benar-benar mengagumi keberhasilan Syakil.


"Terima kasih, tapi aku tidak berharap pujianmu." Entah bagaimana pria ini sesungguhnya, Syakil sendiri bingung. Sejak dulu memang dia kerap merendahkan Syakil dan memuji Mikhail, hingga ketika Syakil meminta restu untuk menikahi Ganeta kesekian kalinya, Wiranata mengiyakan tanpa syarat apapun.


"Kau ... tidak ingin tahu kabar tentang putriku? Bukankah selama empat tahun terakhir kau masih mencarinya, Syakil?"


..... Lanjut.