My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 54 - Sama-Sama.



"Hoek ... hoek ... udah, Ra."


Syakil menggeleng kala Amara hendak menyodorkan segelas susu yang belum sempat dia habiskan, pagi ini perutnya mendadak mual dan pusing tak terkira. Amara bingung sendiri, tubuh Syakil tidaklah panas ataupun demam.


"Kamu kenapa sebenarnya?"


Merasa hilang arah, Amara berniat menghubungi Nathan. Namun, belum juga terjadi Syakil sudah menarik ponselnya dan melarang Amara menghubungi pria itu secepat mungkin.


"Cuma mual, sebentar lagi juga berhenti ... mungkin tadi malam terlalu dingin," ucap Syakil mengada-ngada, padahal tadi malam dirinya dan Amara tidur berbalut selimut tebal dan rasanya tidak mungkin bisa kedinginan.


"Tapi kamu sampai lemas begini, kalau Mama tahu bisa-bisa aku diomelin karena nggak becus urus suami, Syakil," tutur Amara luar biasa lembut dan khawatir sekali Syakil kenapa-kenapa, sejak suaminya jatuh dari tangga satu minggu lalu wanita ini benar-benar khawatir bahkan belum mengizinkan Syakil ke kantor walau hanya untuk memastikan kinerja karyawannya.


"Nggak, Ra ... aku cuma_ Hoek, ya Tuhan."


Syakil menutup mulutnya kuat-kuat, khawatir sekali jika dia tidak bisa menahannya. Pria itu berlari ke toilet dengan langkah yang masih terlihat pincang, dan tanpa bantuan Amara karena mungkin perutnya sudah benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.


"Ck, ada-ada aja sih, baru juga mau sembuh malah sakit beneran."


Amara sudah sedikit lebih tenang lantaran Syakil sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuannya, kini Syakil justru terlihat lebih mengkhawatirkan dari sebelumnya.


"Hoek."


Masih seperti sebelumnya, Amara memijat tengkuk leher Syakil berharap suaminya akan sedikit lebih baik. Jika dia lihat-lihat suaminya bahkan pucat dan matanya sudah memerah usai muntah beberapa saat lalu.


"Aaarrggh Mama!!"


Syakil memejamkan mata, perasaan ini sungguh tidaklah nyaman dan ingin rasanya dia mengutuk diri sendiri.


"Amara, maaf ya."


Pikiran Syakil sudah macam-macam, dia berpikir jika apa yang dia alami pagi ini adalah karma akibat dia pura-pura sakit selama satu minggu ini demi mendapat perhatian lebih dari sang istri.


"Jangan banyak bicara, kita ke rumah sakit sekarang kalau kamu nggak suka diperiksa dokter Nathan."


Syakil tidak suka tempat itu, aroma khas rumah sakit sangat dia benci sejak dahulu. Dia menggeleng meski Amara sudah mengatakan periksa ke rumah sakit jika memang tidak suka kinerja Nathan.


Sakit berjilid-jilid, nampaknya yang kali ini serius dan Syakil tidak main-main. Isi perut Syakil seolah terpaksa keluar semua, sarapan yang baru saja masuk hilang dalam hitungan menit saja.


Keringat kini membasah di keningnya, Syakil kembali duduk di tepian ranjang dengan memeluk sang istri dan menyembunyikan wajahnya tepat di perut Amara.


"Eehm!! Ra, parfum kamu pakai yang mana?"


Kening Syakil berkerut, sebenarnya sejak kemarin dia mulai merasa sedikit risih dengan aroma parfum Amara. Wanita itu menatap Syakil heran dan mencoba mencium pergelangan tangan demi memastikan apa mungkin dia menggunakan parfum yang salah.


"Yang biasa kok, kamu kenapa? Nggak suka wanginya?"


"What? Tikus kamu bilang?"


Amara dibuat terheran-heran dengan kelakuan Syakil. Padahal sebelum menikah pria itu kerap memuji dan mengatakan jika wangi Amara persis pramugari, kini kenapa justru disamakan seperti tikus got.


"Hm, ganti pakai parfumku saja ... aku mual, Ra, yang botol hitam."


Agak sedikit menyiksa, jika Syakil merasa tersiksa dengan aroma parfum Amara, istrinya justru tidak suka dengan aroma parfum Syakil. Dua insan ini sama-sama dibuat dilema sepertinya.


"Hoek, ewh nggak mau!! Yang itu kan?" tanya Amara seraya menunjuk botol parfum Syakil yang memang diletakkan asal-asalan dan tidak sesuai tempat awal.


Syakil mengangguk, saat ini mungkin hanya minyak wangi dari brand kenamaan asal Italia itu yang bersahabat dengan hidungnya. Sayangnya, hidung Amara justru beda selera semenjak hamil. Membayangkannya saja Amara sudah mual, dia merinding kala mengingat Syakil terakhir menggunakan itu.


"Ya Tuhan, tapi aku nggak kuat sama aroma parfum kamu, Sayang ... sumpah!!"


"Ya kamu pikir aku kuat sama parfum kamu? Nggak lah, kan terakhir kamu pakai itu aku hampir muntah," ujar Amara kembali mengingatkan kejadian dipagi hari yang mana dia mendadak mual ketika hendak memasangkan dasi Syakil akibat parfum itu.


Benar juga, Syakil menghela napasnya panjang. Pria itu juga bingung kenapa kini dia yang merasakan hal ini, yang hamil istrinya malah dia yang merasakan efeknya.


.


.


.


Jalan pintas paling baik, Syakil mengalah dan tidak memaksa Amara untuk menggunakan parfumnya, sementara Amara yang juga khawatir soal kondisi Syakil juga mengalah. Hingga akhirnya keduanya sepakat untuk menggunakan minyak angin demi bisa sama-sama nyaman meski Syakil agak sedikit tertekan dan terpaksa mengiyakan usul Amara.


"Nah kalau begini kan enak, kita berdua nggak mual deh."


"Hm tapi panas, Amara," keluh Syakil sudah meringis lantaran Amara memang mengoleskannya di punggung dan kening Syakil cukup banyak, sementara sejak dulu kulit Syakil tidak terbiasa menerimanya.


"Udah nanti juga nggak berasa lagi, sekalian biar kamu enakan," tuturnya lembut sembari mengoleskan minyak berlogo kapak maut itu ke perut Syakil dan jumlahnya tidak sedikit, suaminya menganga dan tengah meratapi nasibnya sepanjang hari nanti.


"Sayang, tapi?"


"Shut, percaya sama aku ... kamu bakal enakan setelah ini," ungkap Amara meyakinkan Syakil sebaik mungkin karena benar-benar mengira suaminya masuk angin.


..... Lanjut


Hallow, selamat malam semua ... malam ini aku bawa rekomen dari teman author lagi, mampir ya sekalian nunggu Syakil.