My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 80 - Perintah Papa



"Yang benar saja, berapa lama kalian di sana? Kenapa tiba-tiba sekali, Syakil ... lagipula Kendrick ada, kenapa jadi aku yang repot?"


Niat hati menenangkan pikiran, akan tetapi yang Mikhail dapatkan kini justru berbalik. Jangankan liburan, baru juga beberapa minggu mereka di sini, akan tetapi yang Mikhail lakukan masih tidak jauh dari kerja kerja dan kerja.


"Tidak lama, Kendrick jaga Ganeta ... jangan pelit lah, bayaranmu bahkan lebih besar dari gaji Kendrick," ungkap Syakil menghela napas pelan, sudah dibayar sejak awal dan dia merasa keberatan ketika diminta tetap memantau perusahaan sementara Syakil menuntaskan keinginan Amara.


"Ganeta ganeta ganeta, orang tuanya masih lengkap ... lagipula untuk apa kau masih peduli padanya? Katamu dia gila, serahkan ke rumah sakit jiwa saja apa susahnya."


Menyebalkan sekali, padahal Syakil sengaja membuat kakaknya tetap tinggal demi kenyamanan dia dan Amara. Ada beberapa kemungkinan yang akan membuat Syakil kesal nantinya jika sampai Mikhail ikut, pertama jelas saja biaya kesana akan jadi tanggung jawab Syakil. Sementara yang kedua, bayaran yang sudah diterima Mikhail tersebut tidak mungkin akan dia kembalikan.


"Sudahlah, Mas. Lagian tugas kamu nggak berat-berat amat, anggap aja jadi bosnya ... di kantor juga banyakan tidur," tutur Zia menghampiri kakak beradik yang tengah rapat paripurna itu, berharap sekali perannya bisa membuat keduanya damai.


"Tapi kan, ah ya sudahlah ... lewat seminggu perusahaanmu jadi milikku lihat saja," ancam Mikhail tak tanggung-tanggung, kebiasaan sekali bicara seenak dengkul dan di luar nalar Zia.


"Nikmati waktu kalian, sejak menikah belum bulan madu kan? Amara juga butuh waktu berdua sama kamu, serahkan semuanya pada Mas Mikhail, aku juga bisa bantu sedikit-sedikit, Kil."


Benar-benar berhati malaikat, Syakil tersenyum hangat mendengar ucapan kakak iparnya. Aneh sekali kenapa manusia sesabar dan sebijak Zia harus mendapatkan suami seperti Mikhail, pikir Syakil heran.


"Terima kasih, Zia ... kamu memang sahabat terbaikku," tutur Syakil memberikan senyuman terbaiknya, sementara Mikhail sudah memperlihatkan wajah masam luar biasanya.


"Puas kau?" Mikhail berdecak sebal kemudian menegak kopinya, sangat panas tapi dia berusaha santai seolah aman-aman saja. Padahal, lidahnya seakan terkelupas saat ini juga.


"Tentu saja, Kak ... aku terharu kak Zia sebaik itu ternyata."


Terserah, Mikhail sebal luar biasa dengan ungkapan Syakil. Niat hatinya satu bulan, akan tetapi setelah merasakan bagaimana kehidupannya di sini, Mikhail jadi berpikir dua kali.


Di tengah pembicaraan mereka, Amara baru bergabung dan memecah pembicaraan. Ada yang berbeda dari adik iparnya hari ini, Amara mendelik kala menyadari mata Mikhail tertuju padanya.


"Wih adik ipar baru keluar kamar, banyak serangga di kamar kalian ya?" tanya Mikhail tanpa basa-basi, Amara yang baru saja duduk di sisi Syakil sontak mendongak dan menatap bingung kakak iparnya.


"Serangga?"


"Hem, itu leher istrimu merah semua."


Uhuk


Amara tersedak tiba-tiba, dia benar-benar lupa dan tidak memastikan lebih dulu jika serangan Syakil tadi pagi terlalu kentara. Wanita itu menunduk dan menepuk dadanya berkali-kali, sungguh dia malu sekali.


"Minumnya hati-hati, Sayang."


Syakil berdecak sebal menatap Mikhail yang kini tersenyum tipis seraya menaikkan alisnya. Wajah Syakil yang memerah menjelaskan jika dia seolah tertangkap berbuat salah.


"Adik ipar kenapa? Apa tenggorokannya gatal? Ganas juga serangganya kalau sampai menyerang dari dalam."


Tidak akan pernah habis kalimat Mikhail menggoda adik iparnya. Meski sudah Zia cubit agar berhenti suaminya masih saja begitu, jika di posisi Amara mungkin Zia juga akan malu luar biasa.


.


.


.


Setelah drama panjang menuju keberangkatan, kini Amara bisa tersenyum lega kala hari dimana dia akan menejelajahi jalur langit itu tiba juga.


Tanpa godaan Mikhail, tanpa masukan Zia dan keduanya kini benar-benar bersama. Sepanjang perjalanan Amara lebih banyak tidur, sementara Syakil sibuk memandangi wajah sang istri


Tidak berhenti membuat Mikhail repot, Syakil juga meminta bantuan pada Kanaya agar seseorang menjemput mereka di bandara. Jika dia sendiri sebenarnya tidak butuh jemputan begitu, hanya saja Syakil membawa Amara dan akan lebih aman.


"Kalian berdua saja?" tanya Ibra begitu menyadari jika di sisi mereka tidak ada Mikhail dan juga Zia.


"Iya, Pa ... berdua saja."


Wajah Ibra terlihat berkerut begitu mendengar jawaban Syakil. Tampaknya ada sedikit kekecewaan kala yang pulang hanya satu putranya saja.


"Hm belum, kenapa memangnya, Pa?"


"Papa dan Mama sudah tua, anak-anaknya yang luar biasa nakal itu ada di rumah sejak awal mereka pergi ... kepala Mamamu sering sakit akhir-akhir ini, Kil."


Dia mengeluh, Ibra memang sayang cucu. Akan tetapi, tak jarang kedua putra Mikhail membuat kericuhan dan menguji kesabaran Kanaya.


"Karena Sean?"


"Dua-duanya, Kil ... kamu tau sendiri bagaimana mereka. Papa sarankan kalian tinggal di apartemen saja jika tidak mau pusing."


"Lalu Mama bagaimana, Pa?"


"Mama bisa datang kapan saja," tutur Ibra dengan suara khasnya.


"Baiklah jika begitu, aku ikut kata Papa saja."


Bagi Syakil, tidak ada keputusan paling bijaksana selain keputusan sang papa. Pahlawannya ini memang pria paling luar biasa yang pernah Syakil kenal, wajah seriusnya benar-benar memancarkan kharisma yang tidak bisa terkalahkan.


"Kenapa Papa sendiri yang jemput? Bastian dimana?"


"Ada, Papa sudah lama tidak keluar, Kil ... sesekali tidak apa kan?"


Syakil mengangguk pelan, sebenarnya dia bahagia saja jika sang papa justru menyempatkan waktunya hanya untuk menjemput mereka berdua. Biasanya Ibra paling malas jika keluar rumah, kini hanya untuk menjemput dia dan Amara di bandara pria itu rela.


"Tidak masalah, Pa. Selagi Papa tidak keberatan, aku setuju saja."


Papanya tidak lagi menjawab, pria itu fokus dengan kemudinya. Hendak bertukar posisi namun Ibra menolak dan mengatakan jika ini adalah kemauannya.


"Syakil, bagaimana kehidupanmu di sana?" tanya Ibra tiba-tiba, biasanya pria itu tidak akan bertanya seperti ini, sungguh aneh sekali.


"Ehm baik-baik saja, Pa ... seperti biasa."


"Beberapa waktu lalu orangtua wanita itu menghubungiku, dia mengatakan jika kalian sudah bertemu. Apa benar begitu, Syakil?" tanya Ibra kemudian, pertanyaan santai nammun ini terdengar amat serius untuk dibahas menurut Syakil.


"Maksud Papa?"


"Jawab saja, Papa yakin kau mengerti apa yang Papa maksudkan, Syakil." Ibra menekan setiap kata-katanya, sejak kemarin dia ingin membahas hal ini akan tetapi seorang Ibra tidak suka membahas segala sesuatu via telepon.


"Iya, tapi hanya sebentar ... ada apa, Pa?"


"Tidak ada, Papa hanya memastikan saja." Ibra masih terlihat tenang seperti biasa, hingga ada satu kalimat yang membuat Syakil termangu dan ragu untuk menjawab. "Syakil, boleh Papa minta sesuatu?"


"Ap-apa, Pa?"


"Jauhi wanita itu," titah Ibra dingin dan dengan tegas Syakil menjawab jika sama sekali dia tidak berniat menerima Ganeta kembali.


"Bukan Ganeta yang Papa maksud, tapi istrimu." Bak petir di siang bolong, Syakil terkejut bukan main dengan perintah Ibra. Pria itu menatap sang istri yang tengah telelap di bahunya, berharap Amara tidak mendengar percakapan ini.


"Pa?"


"Lepaskan dia, tidak seharusnya kau memperistri wanita itu, Syakil."


"Hentikan, Pa ... bicarakan lain kali, jangan bercanda atas pernikahan Syakil." Syakil bergetar seraya menggenggam erat jemari Amara, giginya bergemelutuk dan berusaha untuk tidak marah pada sang papa.


-Tbc-


Rekomendasi Novel buat dibaca ntar malem, silahkan😗