My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 81 - Kenapa Harus Papa?



Lepaskan dia, tidak seharusnya kau memperistri wanita itu, Syakil.


Satu kalimat itu berhasil memporak-porandakan batin Syakil. Dia bahkan tidak banyak bicara pada sang papa ketika tiba di apartemen. Begitupun dengan Ibra, pria itu hanya menghela napas panjang menatap punggung putranya yang kian mengecil.


"Maaf, Syakil ... tapi untuk hal yang satu ini, Papa tidak rela, Nak."


Demi menjaga Amara dari kemarahannya, Ibra membuat mereka tinggal di apartemen. Sejak Wiranata kembali mengusiknya dan membawa sejuta fakta yang tidak bisa dia terima, pria itu bahkan menyesal telah menerima Amara sebagai bagian dari keluarganya.


"Bentar ... aku salim Papa dulu," tutur Amara baru sadar jika dia belum mencium punggung tangan mertuanya, akan tetapi secepat itu Syakil menarik tangannya dan menggeleng sebagai berntuk larangannya.


"Tidak perlu, Papa juga sudah pergi."


Syakil menoleh ke arah mobil sedan hitam yang kini berlalu dengan kecepatan sedang. Tatapan Syakil terlihat berbeda dan hal ini jelas saja menimbulkan tanya bagi Amara.


"Kamu kenapa? Papa nggak lagi marah kan?" tanya Amara benar-benar bingung dengan semua ini, rasanya tidak mungkin mertuanya marah dan berubah secepat itu.


"Lelah saja, ayo kita naik ... kamu juga masih ngantuk kan?"


Amara mengangguk pelan, memang dia mengantuk luar biasa dan rasanya ingin sekali dia merebahkan tubuh di tempat tidur dengan segera. Amara tidak biasa dengan perjalanan jauh, jadi wajar saja jika yang dia ingin hanya tidur untuk saat ini.


Memiliki mertua sebaik Kanaya, dia benar-benar merasa diratukan. Belum juga beberapa menit tiba di apartemen, Babas sudah mengirimkan makan malam yang sudah Kanaya siapkan untuk menyambut kedatangan Syakil.


Apartemennya juga tampak begitu bersih, tidak ada tempat lain yang Amara tuju selain kamar mandi. Dia merindukan tempat ini, tempat dimana dia sekhawatir itu Syakil benar-benar merenggut kehormatannya sebelum menikah.


"Lucu sekali, sepertinya aku salah menilai Papa."


Syakil mengusap wajahnya kasar, baru beberapa saat dia tiba di tanah air pikirannya sudah kacau balau. Pria itu menatap nanar pintu kamar mandi dan gemericik air yang terdengar samar, tampaknya istrinya masih menikmati guyuran air di sana.


Sementara Amara mandi, dia menyiapkan pakaian untuk sang istri. Sepertinya Amara gerah sekali hingga melupakan hal penting ini, meski pikirannya seakan tidak di sini, Syakil tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk istrinya.


Bukan hanya hati yang kau sakiti, juga hidupku ... diriku ini pasanganmu, bukanya musuhmu, tak perlu kau siksa aku.


Syakil menarik sudut bibir, suara istrinya terdengar merdu. Hiburan sekali di saat kepalanya sedang sakit begini, pria itu menoleh dan mengulas senyum kala istrinya menghampiri dengan penampilan yang kini tampak segar.


"Sudah? Mana ngantuknya, kok jadi seger gitu?"


"Sudah, kamu mandi sana ... aku mau angetin makan malam, laper kan?"


Amara yang polos sepertinya begitu bahagia bisa pulang. Wajahnya terlihat lebih sumringah pertanda dia nyaman di sini, Syakil tidak ingin merusak suasana hati istrinya dengan memperlihatkan perasaannya.


"Laper dong, aku kangen masakan Mama ... tunggu ya, aku mandi nggak akan lama," ucapnya kemudian berlalu dengan menarik handuk di pundak Amara, rasanya tidak puas jika tidak jahil.


Amara tidak marah kali ini, Syakil yang menuruti kehendaknya pulang kali ini adalah sebuah kebahagiaan bagi Amara. Sepertinya sejahil apapun Syakil akan termaafkan untuk kali ini.


"Hm aku berasa nggak pulang bertahun-tahun."


Amara memandangi kamarnya, beruntung saja dahulu Syakil menolak rencana Amara untuk menjualnya. Wanita menelusuri keseluruhan sisi kamar dan kini membuka tirai demi memanjakan matanya dengan indahnya suasana malam di ibu kota.


"Eva apa kabar ya?"


Amara memandang jauh ke depan sana, sebuah bangunan menjulang dengan beberapa lampu yang sudah tidak lagi menyala dia lihat dengan jelas di sana. Tidak dapat dipungkiri, Amara masih memiliki hati untuk ingin tahu kabarnya. Setelah marah besar lantaran uang yang Syakil kirimkan tidak sebesar dahulu, Amara dan Eva benar-benar tidak saling mengetahui kabar masing-masing.


Mandi malam, sebenarnya Syakil sedikit tidak mengizinkan. Akan tetapi dia sendiri risih apalagi Amara, keduanya kini saling berhadapan di meja makan. Amara begitu lahap seakan tidak makan sejak beberapa hari yang lalu, Syakil terkekeh melihat kelakuan istrinya.


"Pelan-pelan, Sayang ... aku segini cukup, sisanya kamu habisin juga nggak masalah," tutur Syakil seraya menggeleng pelan, belum pernah dia melihat mulut istrinya sepenuh itu.


"Kangen banget masakan Mama, kamu kenapa makannya dikit begitu? Katanya laper," protes Amara kala melihat makanan di piring Syakil seakan hampir tidak tersentuh.


"Ini aku makan."


Dia bukan tidak lapar, jujur saja ketika di bandara perut Syakil terasa perih. Akan tetapi, setelah mendengar ungkapan Ibra dia kehilangan kepedulian tentang perutnya.


"Aaaaa ... makannya begitu kapan habisnya."


Amara mengambil alih sendok di tangan Syakil, sejak tadi dia perhatikan tatapan sang suami hanya tertuju padanya.


"Liatin aku nggak bikin kamu kenyang, kalau nanti masuk angin gimana? Mau kuliatnya kepanasan lagi karena minyak angin?"


Syakil menggeleng pelan, dia menerima setiap suapan yang Amara berikan. Makan saja harus dengan bantuan, pikir Amara mendadak ingin marah namun jelas saja dia tak bisa.


Amara adalah wanita yang memegang kuat janjinya. Sebagaimana kesepakatan awal, dia harus mampu lebih romantis dari Zia.


"Baik sekali istriku, besok kita jalan berdua ya," tutur Syakil dengan mulut penuhnya, peduli setan apa kata Ibra beberapa saat lalu. Tujuannya pulang kali ini untuk membahagiakan istrinya, memenuhi keinginan Amara, itu saja.


"Bandung ya?"


"Kemanapun, aku turuti," jawab Syakil bertopang dagu, baru juga tiba dan istrinya sudah semangat sekali menentukan tujuan selanjutnya.


Senyum Amara adalah tanggung jawabnya. Dia laki-laki dan berhak memutuskan pilihan hidupnya, terlepas dari Ibra suka atau tidak. Wajah Syakil terlihat tenang, padahal kini dia tengah berpikir keras bagaimana cara untuk membuat perhitungan kepada pria bernama Wiranata itu.


"Tapi jangan dulu, kita belum ketemu sama Mama ... lusa saja ya?" Amara merasa tidak sopan jika tidak mengutamakan mertuanya, akan lebih baik jika mereka bertemu lebih dulu, pikirnya.


"Kapan-kapan saja ke Mama, yang terpenting keinginan kamu terpenuhi dulu, Amara."


Setelah mendengar ucapan Ibra, entah kenapa Syakil merasa lebih baik tidak bertemu lebih dulu untuk saat ini. Mendapatkan Amara bukan hal mudah, dan Syakil tidak ingin sikap Ibra membuat dia kehilangan segalanya, bukan bermaksud jelek. Hanya saja, ada saatnya berjarak lebih baik sementara dia memastikan kenapa Ibra bersikap.


"Sesulit itu aku memilikimu, Amara ... di antara semuanya, kenapa harus Papa yang ikut campur?" Syakil membantin, perkataan papanya melukai hati Syakil.


-Tbc-


Hai-hai, aku mau jelasin lebih dulu. Kenapa pada bingung Agha tu siapa?😂 Keknya kita butuh kenalan lagi ya, Bestie.



Syakil Agha Mahendra, putra bungsu mama Naya dan Papa Ibra. Suaminya Amara Nairy, adiknya Mikhail Abercio.


Syakil Versi Author, jangan pernah komen dia jelek karena ganteng itu relatif. Yang nulis merasa karakter Syakil hidup dengan dia sebagai fiksiku, bayangkan sendiri karena aku yakin selera kita berbeda. Maaf, othornya kapok karena Mikhail dikatain jelek. Dahal udah ganteng banget😂