
"Untuk kali ini Papa memang salah, maaf tapi tidak seharusnya Papa meminta hal tidak masuk akal begitu."
Baru juga tiba kemarin, Mikhail mendatangi kediaman Ibra demi menyampaikan kegelisahannya. Kanaya mengatakan jika Ibra tetap pada keputusannya, ya sebenarnya dia sedikit sebal lantaran pria itu tiba-tiba seperti bukan Ibra.
"Dia putri Wiranata, Khail ... dan Papa sudah bersum_"
"Sumpah pada siapa? Sebagaimana kita ketahui, sewaktu Amara masuk ke dalam rumah ini sama sekali kita tidak menduga dia putri Wiranata. Sumpah Papa itu hanya berlaku jika wanita yang dimaksud adalah Ganeta, bukan Amara.
Memusingkan sekali, Ibra berdecak sebal kemudian tampak berpikir. Sebenarnya dari kemarin-kemarin dia terfokus pada hal ini, akan tetapi ego dan gengsinya masih belum berubah walau tidak muda lagi.
"Kehidupan Syakil semakin baik setelah dia menikah, Papa jangan rusak kebahagiaannya ... atau Papa mau dia jadi pembangkang demi wanita seperti yang dulu Papa lakukan di waktu muda?"
Skak mat, Ibra bungkam. Memang lawan bicara yang paling bisa membuat Ibra terdiam adalah putra sulungnya. Ucapan Mikhail santai tapi berhasil membuat Ibra mati kutu, jurus andalan Mikhail memang membawa masa lalu Ibra.
"Mikhail kau ...."
"Aku serius, Pa ... di antara kita yang menjaga wanita sebaik-baiknya adalah Syakil."
Ibra tertohok mendengar ucapan putranya, memang benar yang tidak nakal di antara mereka adalah Syakil. Baik dari pergaulan maupun pertemanan, entah bagaimana doa Kanaya hingga putranya yang satu itu bisa berbeda.
"Satu lagi, jangan pernah menolak kehadiran anaknya ... bayi dalam kandungan Amara suci, bisa-bisanya Papa menolaknya," tambah Mikhail tidak habis-habis, sudah seperti menasihati anaknya.
"Untuk masalah ini Papa akui memang salah, tidak seharusnya Papa mengatakan hal itu pada Syakil. Tapi, entah kenapa Papa sulit sekali menerima fakta jika wanita itu putri Wiranata," usap Ibra menatap nanar tanpa arah, pria itu menghela napas kasar dan tampak bingung hendak bicara apa selanjutnya.
"Sudahlah, terima saja. Lagipula Amara sendiri tidak mengetahui hal itu sama sekali, Pa. Hal semacam ini tidak dapat Papa samakan seperti sebuah kebohongan," ujar Mikhail kembali menjurus ke arah sana, tampaknya pria itu takkan habis kata untuk menyerang Ibra.
"Bukan begitu maksud Papa, Khail."
"Apapun tujuan Papa, entah itu kesal dengan orang tuanya ataupun lainnya. Yang jelas bukalah hati Papa, terima dia sebagai putri Papa."
Bijaksana sekali, sampai Ibra dibuat berpikir keras kala putranya bicara. Memang Kanaya juga sempat mengatakan hal yang sama, dan ketika Mikhail yang berkata dia semakin merasa bersalah.
"Iya, Papa paham bahwa kalian berdua memang tidak akan bisa usik jika perihal pasangan ... pertahankan pendirian kalian yang seperti ini," ungkap Ibra menyerah pada akhirnya, pria itu menarik napas dalam-dalam kemudian dia hembuskan perlahan. Ada senyum tipis yang dia perlihatkan di sana, ya meski hampir tidak terlihat tapi mata Mikhail tidak dapat dibohongi.
Ibra lupa jika dirinya juga begitu, watak keras kepala dan memegang teguh pilihan itu adalah warisan yang paling abadi untuk putranya, terutama Mikhail.
"Terima kasih, Pa ... aku akan sampaikan pada Syakil, kasihan dia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak sejak kembali dari Indonesia karena memikirkan keinginan Papa yang ada gila-gilanya itu," tuturnya kemudian dan membuat Ibra mendelik, seakan tidak punya kalimat lain, pikir pria itu.
"Papa saja yang sampaikan, agar tidak diperpanjang dan tidak juga ditambah-tambah ... sekaligus agar kau tidak minta biaya admin dari informasi yang kau berikan itu."
Mikhail tersedak ludah seketika, pria itu menganga begitu mendengar ucapan sang papa.
"Astaga, aku tidak begitu, Pa."
"Ck, Papa tau isi otakmu. Kasihan Syakil terus-terusan kau cekik seperti itu."
Ibra paham otak putra sulungnya, bingung juga kenapa semuanya harus jadi uang. Walau Syakil tidak mengadu, tapi semua yang terjadi cukup jadi jawaban betapa tengilnya dia.
Sepertinya sama-sama saling membuat diam tak berkutik, Mikhail seakan tertangkap basah sebelum bertindak dan Ibra selalu saja didesak dengan mengulik masa lalunya.
.
.
.
"Papa hanya ingin mengatakan itu, jaga istrimu baik-baik. Papa suka pria tegas sepertimu, soal Wiranata Papa tidak akan peduli mau bagaimana dirinya. Keputusan ada di tanganmu saat ini, Syakil."
Syakil yang baru saja bangun tidur jelas saja dibuat terkejut dengan telepon dari sang papa. Dia seolah mendapatkan jawaban dari usahanya, matanya bahkan membasah tanpa terduga.
"Pa? Papa tidak salah bicara kan?"
"Hm, tidak."
Bicara irit, hanya pada intinya dan tidak banyak tingkah adalah ciri khas sang papa jika sudah serius. Dada Syakil berdegub tak karuan, dia menggigit bibirnya lantaran menahan air mata pagi ini.
Meski tidak ada wejangan lain yang lebih panjang dari Ibra, akan tetapi dia bersyukur sekali mendengar kabar sebaik ini. Tanpa memutuskan sambungan teleponnya dia menghambur pada sang istri yang kini baru saja selesai membersihkan diri.
"Sayang!!"
Amara yang tiba-tiba diserang bertubi dengan kecupan berkali-kali itu jelas saja terkejut. Amara bahkan bingung mengambil napas kala suaminya ini berulah.
"Ih kamu kenapa sih?"
Syakil baru sedikit menjauh ketika Amara mendorong bibirnya, bingung sendiri kenapa tiba-tiba dia bisa begini.
"Love you, Amara ... aku bahagia sekali hari ini," ucapnya dengan mata berkaca-kaca, Amara yang memiliki berhati kapas itu jelas saja tersentuh dan khawatir tentang suaminya.
"Kamu kenapa? Mimpi buruk ya? Kenapa tiba-tiba menangis begini?"
Suaminya memang tersenyum, tapi mata Syakil yang membasah itu jelas membuat Amara khawatir. Meski sempat kesal diserang bertubi dengan ciuman mautnya, Amara masih menyeka air mata Syakil dengan lembutnya.
"Kenapa?"
"Aku hanya terharu, istriku terlalu cantik ... jangan pernah berpikir untuk pergi dariku ya, Sayang," tutur Syakil kemudian, semakin Amara menyeka air matanya semakin mengalir deras juga tanpa diduga.
"Kamu kenapa jadi cengeng begini. Sudah kukatakan tidak akan pernah pergi, kamu adalah tempatku pulang." Amara bukanlah wanita yang bisa memanjakan suami dengan setiap ungkapan begini. Dan kali ini hal itu sukses membuat tangis Syakil tidak bisa tertutupi.
"Syakil, Papa matikan dulu ya ... jika ada yang mau kamu bicarakan telpon saja nanti."
Hah? Suara siapa itu? Amara mendongak, dia menatap Syakil bingung. Begitupun dengan suaminya, dengan wajah yang saat ini memerah dia menatap bingung Amara.
"Handphone kamu," tuturnya kala menyadari jika di sana tampak sebuah panggilan sedang berjalan cukup lama.
"Hah? Astaga ... Papa?"
Syakil ketar-ketir sekaligus malu bercampur jadi satu. Akan tetapi, belum sempat dia bicara tawa renyah sang papa kemudian terdengar, hendak meminta maaf Ibra lebih dulu memutuskan sambungan teleponnya. Matilah dia, jelas saja papanya mendengar apa yang dia lakukan beberapa saat yang lalu.
"Ih kamu lagi telepon Papa cium-cium begitu, aku kan malu."
"Ma-maaf, Sayang ... maaf ya." Bicara malu, dia juga sama sebenarnya. Jika di hadapan Mikhail saja mungkin masih bisa, tapi jika sudah berhadapan dengan sang papa mana mungkin dia biasa saja.
- To Be Continue -
Hai-hai, apa kabar semua? Maaf ya, aku terlambat sekali. Alasannya bukan karena ada Mikhayla yang harus dipegang, tapi memang hari ini aku sibuk menyelesaikan segala sesuatu di RL ku. Mohon dimaklumi ya, secepatnya aku akan tambah up Mikhayla dan juga Syakil. See You