My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 32 - Candy



Sama-sama pemula, Syakil mencari di berbagai artikel terkait kondisi Amara. Karena tidak mungkin dia menanyakan hal ini pada Mikhail, bukan hanya Amara yang malu tapi bisa jadi Syakil yang diledek habis-habisan oleh sang kakak nantinya.


"Mau kemana?"


Syakil meletakkan ponselnya segera kala Amara hendak beranjak dari tempat tidur. Sejak tadi siang, Syakil benar-benar memperlakukan Amara layaknya orang sakit, hanya boleh berdiam diri di sampingnya tanpa melakukan apa-apa.


"Lapar, aku boleh makan dulu kan?"


Terlalu perhatian dengan rasa sakitnya sampai lupa jika ini sudah hampir sore. Mata Syakil membola kala mendengar bunyi perut Amara.


"Ya Tuhan, aku lupa kamu belum makan ... tadi kita nggak jadi sarapan ya?"


Malang sekali nasib Amara, setelah tadi malam dibuat tak berdaya ditambah paginya seakan habis tenaga, sekarang Syakil justru melupakan hal sepenting itu.


"Iya, nggak jadi."


Amara mengerucutkan bibirnya, pria itu bukannya segera mengajak istrinya untuk makan siang melainkan tergelak tak berkesudahan.


"Maaf, Sayang ... aku benar-benar lupa," tutur Syakil penuh sesal, dia bisa lupa lantaran selalu merasa kenyang hingga detik ini, sungguh hal yang aneh.


Amara berdecak sebal, sebenarnya Syakil benar-benar tidak peduli atau bagaimana. Dalam keadaan begini, mau dia dipeluk pangeran Inggris sekalipun ya tetap saja bisa merasakan lapar.


Cup


"I'm sorry, Honey."


Permintaan maaf sengan sejuta jurus modusnya. Syakil kembali mencuri kesempatan di bibir tipis Amara, kedipan mautnya sontak membuat Amara terdiam.


Perlakukan dia semanis mungkin, minimal kecupan saja ... tidak perlu meminta izin atau menatapnya terlalu lama, sekalipun dia anggap messum tidak masalah, lagipula kamu berhak atas dirinya.


Benar, Syakil berhak sebagaimana pernyataan Mikhail. Tidak mendapat balasan tidak masalah, karena wanita jika baru menikah belum berani berulah. Ya, begitulah kira-kira pesan Mikhail yang hanya Syakil baca tanpa berniat membalasnya.


"Manis," puji Syakil lembut, istrinya masih mendongak dan menatap Syakil penuh tanya. Mungkin heran kenapa suaminya tiba-tiba begini, meski memang kemungkinan Syakil juga pria normal pada umumnya, tapi ini cukup membuatnya terkejut.


"Bibirku bukan buah," ucap Amara kemudian, pria itu tertawa sumbang merasa jawaban istrinya terlalu menggelikan.


"Ya, but this is candy."


Menyesal sewaktu pelajaran bahasa Inggris Amara sering bolos lantaran tidak terlalu menyukainya. Kini, ungkapan dari bahasa asing begitu kerap kali dia dapatkan.


"Pelan-pelan saja, sepertinya masih sakit sekali."


"Iya, aku juga belum bisa jalan cepat," tutur Amara singkat, padat dan cukup jelas.


Langkah keduanya benar-benar pelan, Amara masih sedikit sulit, namun menolak untuk digendong. Sementara Syakil tidak tega jika harus meninggalkannya.


"Sudah kukatakan makannya biar aku ambilkan saja, Ra."


Berlebihan sekali, Amara hanya menghela napas pelan kala Syakil memegangi pundaknya dengan alasan khawatir sang istri terhuyung.


Jauh dari keberadaan Syakil dan Amara, di kediaman Mikhail kini si kembar tengah bertengkar lantaran motor-motoran yang menjadi favorit Sean tenggelam di kolam renang.


Kanaya yang sudah tidak sekuat itu lagi merasa lelah lantaran menghadapi dua cucunya ini. Sungguh, demi apapun mereka luar biasa mengerikan.


"Oma motor Sean tenggelam ambilin," rengek Sean seenak jidat, sudah paham omanya tidak bisa berenang masih saja meminta hal tersebut.


"Tunggu Papa kalian saja ya, Oma takut ... lagian kenapa juga bisa masuk ke kolam begitu?" tanya Kanaya tak habis pikir kenapa bisa hal semacam itu bisa terjadi.


"Zean yang lempar, marahin sekarang, Oma!!"


"Hadeeuh jangan teriak-teriak, Sean ... kuping Oma sakit loh," tutur Kanaya begitu lembut dan benar-benar berusaha agar mereka tidak lagi persis reog begini.


"Isss Omaaa!!! Ambilin!!" Bukan hanya dengan ucapan tapi juga dengan tindakan, Sean berguling-guling di lantai sementara Zean terbahak di atas penderitaan orang.


"Zia!! Mama mau pulang, putramu benar-benar melelahkan!!" teriak Kanaya tidak mampu lagi untuk berkata-kata lembut saat ini.


Mikhail datang di saat yang tepat, jika sampai misinya mengamankan sang mama di rumah ini jelas saja dia tidak bisa meminta hadiah yang lainnya dari sang adik.


"Hei, kalian ini kenapa? Jangan teriak-teriak begitu Sean ... nggak sopan namanya."


Tumben sekali, Kanaya bahkan melongo tak percaya dengan apa yang dia dengar. Biasanya Mikhail akan diam kala Sean dan Zean berulah, kini berbeda.


"Anak kamu buat Mama pusing, Khail ... masukin salah satunya ke pesantren," ungkap Kanaya asal-asalan namun kemudian menjadi bahan pertimbangan Mikhail dalam hitungan menit.


"Boleh juga, kalau sudah waktunya," tutur Mikhail santai, putranya kini sudah tampak lebih tenang kala Mikhail mulai mengeluarkan suara beratnya.


"Papa mana? Mama mau pulang, Khail."


"Besok atau lusa saja, Ma ... aku khawatir mobilku nanti mogok semua," ungkap Mikhail sekenanya, janjinya pada Syakil untuk menahan sang mama harus benar-benar dia realisasikan.


"Kenapa bisa begitu?"


"Mama nggak percaya? Jalan di depan sana banjir karena hujan semalam," ujar Mikhail pandai sekali mengarang cerita, padahal dia sendiri baru saja mengambil mobil dari kediaman Syakil dan jalanan aman-aman saja meski semalam memang hujan.


"Iya juga ya, semalam hujan."


Seperti biasa, Kanaya memang tetap percaya meski anaknya adalah pembohong kelas kakap yang setiap ucapannya tidak ada yang benar.


Tbc


Sementara Up, boleh mampir kemari.