
Jangan terlalu baik, biasanya akan dimanfaatkan. Ya, kalimat itu sangat familiar di telinga kita, semuanya memang jelas terbukti dan fakta bahwa kebaikan biasanya hanya akan dimanfaatkan oleh manusia tidak tahu diri. Sebagaimana ketakuan Amara, kali ini suaminya benar-benar diperalat kakaknya.
Semenjak Amara menikah, jelas saja dia menerima efek baiknya. Syakil benar-benar mengubah hidupnya selama dua bulan belakangan, hidup berfoya-foya dan setiap harinya hanya ada kesenangan, sungguh ini adalah hal yang tak pernah dia duga akan hadir dalam hidupnya.
"Memang pilihanku tidak pernah salah, kamu memang jago, Eva."
Menjadi budak naf*su seorang pria yang dia kagumi hanya karena ketampanannya, Eva tidak peduli meski Rega dahulu adalah kekasih adik kandungnya. Menurutnya bukan dia merebut Rega, melainkan Amara sendiri yang tidak bisa mempertahankan pria setampan Rega.
"Hahah kamu juga, Sayang."
Eva menegak segelas air putih itu hingga tandas, permainan yang mereka lewati malam ini cukup panas. Setelah pertengkaran kecil tadi siang, Eva mampu meluluhkan hati pasangannya hanya dengan membuatnya hangat di atas ranjang.
"Ambilin rokok dong," ucap Rega memerintah Eva yang berdiri tak jauh darinya, pria itu menunjuk ke arah meja kaca di depan sana.
Keduanya dibutakan dengan kesenangan sesaat, Rega yang memang haus buaian mendapatkan wanita dengan jam terbang yang tak patut diragukan lagi perihal ranjang ini tentu saja akan menyatu dengan begitu mudahnya.
"Kamu ngerokok terus, apa nggak sayang kesehatannya."
Eva bicara demikian padahal dirinya juga begitu. Wanita itu melemparkan sebungkus rokok beserta korek yang Rega inginkan, pria itu menangkapnya tepat sasaran. Dia hanya tertawa sumbang mendengar pertanyaan kekasihnya itu.
"Sekalian rusak, lagipula aku sudah merokok sejak SMA sehat-sehat aja tuh ... kamu kan pernah bilang, nikmati hidup dan jangan melewatkan kesenangan walau sekecil apapun."
Rega mulai menyesap zat nikotin yang secandu itu dalam hidupnya. Melemparkan koreknya asal, kemudian menghembuskan asapnya ke atas.
"Hm, iya sih."
Eva menarik sudut bibirnya tipis, wanita itu tampak berpikir beberapa lama kemudian memunguti pakaian yang berceceran di lantai kamar Rega. Sebuah hal gila yang dilakukan seorang wanita ialah datang ke kamar sang kekasih untuk menghentikan amarahnya dengan memberikan kenikmatan sebagai jalan tengah penyelesaian masalah, dan malam ini Eva melakukannya.
"Aku pulang ya," pamit Eva setelah selesai mengenakan pakaiannya, akan berbahaya jika dia berada di rumah Rega sampai esok hari.
"Aku nggak izinin, tetap di sini."
"Ga?"
Eva menghela napas kasar, sudah kali kedua Rega begini dan melarangnya untuk pulang. Padahal, di rumah ini Rega tidak sendirian, ada ibunya yang sebenarnya Eva takuti.
"Kamu mau ngelawan lagi, Eva? Tidur di sini malam ini, kamu mau apa pulang jam segini? Masih lanjut jual diri? Uang dari adik ipar kamu kurang?"
"Ya enggaklah, kehidupanku dibiayai Syakil, kamu juga rasain uang itu ... ngapain lanjut jual diri," gerutu Eva merasa tidak suka dengan pertanyaan Rega, padahal semenjak Syakil mengirimkan uang padanya Eva memang tidak lagi sebebas itu dalam berhubungan.
"Masih diakuin papanya?" tanya Eva tertawa sumbang kemudian mendapat tatapan tak senang dari pria bermata coklat itu.
"Bercanda, jangan terlalu serius."
"Alasan kamu izinin laki-laki itu jadi suami Amara apa?" tanya Rega menatap nanar, sedikit sakit di ulu hati ketika membahas Syakil sebenarnya.
"Tanpa aku jelasin kamu juga paham, Ga."
"Kaya?"
Jawaban tepat dan tidak meleset sama sekali, jelas saja itu alasannya. Beberapa kali kesempatan Eva untuk mendapatkan uang lebih melalui tubuh Amara selalu gagal lantaran ada saja cara untuk Amara bisa lepas, sementara kini hadir pria kaya raya yang bersedia membiaya hidup Amara sekaligus hidupnya, jelas saja Eva takkan menolaknya.
"Sudah kuduga, tapi nggak masalah ... selagi kamu nggak ikut berpaling ke dia, aku nggak keberatan," tutur Rega kemudian, secara nyata dia ketahui Eva adalah wanita yang mudah sekali berpindah hanya karena ada sesuatu yang menggetarkan hatinya, dan Syakil memiliki kemungkinan bisa membuat jantung Eva bergetar lebih kencang.
"Berpaling gimana? Dia suami Amara, segila-gilanya aku mana berani rebut kebahagiaan dia yang sesungguhnya," jawab Eva dan ini sungguh diluar dugaan Rega, dia berpikir sebaliknya dan mengira Eva yang lebih memilih berdiam diri di apartemen adalah demi menjauhinya dan mulai menyukai Syakil.
"Oh iya? Tapi kita ...."
"Kita berbeda, kamu yang dateng ke aku dan saat itu aku juga sedang kesepian, sementara Amara nggak bisa kasih kamu kebahagiaan."
Eva mengatakannya penuh percaya diri, padahal datangnya Rega juga karena dia yang kerap memancing birrahi kekasih adiknya. Sengaja mengenakan pakaian kurang bahan di hadapan Rega ketika masih kerap mengantar Amara pulang kerja adalah awal dari permainan gila mereka.
"Sudahlah, aku mau pulang."
"Ck, tetap di sini ... aku sendirian, Mama nggak bakal pulang sampai minggu depan, tenang aja."
Eva menatapnya berbinar, ini jelas saja kabar bagus. Sejak tadi dia tergesa-gesa lantaran khawatir ketahuan orangtua Rega.
"Kamu serius?" tanya Eva mendekat seolah mendengar kabar dia menang undian.
"Hm, kita nikmati malam ini ... bukan hanya Amara saja yang bisa bahagia, kamu juga," bisik Rega membuang puntung rokoknya asal-asalan, sesuatu di balik selimutnya sudah kembali menegang dan keduanya akan kembali mengarungi lautan madu dari sebuah hubungan terlarang yang benar-benar candu.
-Tbc-
Hai-hai cinta kasihku, selamat pagi menjelang siang. Semoga sehat selalu ya, hari ini aku mau merekomendasikan novel dari salah satu rekanku aseek (Banyak banget rekannya, Thor? Iya rada banyak)