My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 75 - Kena Batunya (Mikhail)



"Dasar sinting, suami istri sama-sama kurang se-ons ... susah payah aku cari sampai dua jam jadi sopir, ternyata cuma di kamar mandi?"


Kali pertama Mikhail merasa gagal menjadi manusia. Dia berdecak sebal dan menatap datar pemandangan di kamar adiknya. Bukan terharu, sama sekali tidak. Hanya saja, Mikhail kesal luar biasa kala mengetahui jika Amara sebenarnya tidak benar-benar pergi.


"Mas, yang namanya panik begitu ... lagipula Amara sama sekali nggak punya rencana ngerjain Mas sama Syakil loh," ungkap istrinya seraya mengelus dada sang suami, sejak tadi dia sudah berusaha menahan Mikhail yang ingin masuk dan menepuk kening Amara dengan telapak tangannya.


"Halah!! Dua-duanya drama, menyebalkan sekali ... kopiku jadi dingin karena mereka berdua, Sayang," ucapnya seakan tengah tertimpa musibah yang begitu luar biasa, menderita sekali.


"Kan bisa buat lagi, gitu aja dipermasalahkan. Syakil trauma, wajar saja dia panik tadi pagi." Hari ini tampaknya Zia akan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa untuk Syakil, pria itu masih terus memperlihatkan wajah masamnya.


"Trauma ya trauma, cuma ya dia harusnya waras dikit lah ... pastiin dulu di kamarnya, masa nggak hafal sama kebiasaan istri pagi-pagi gimana, otak Syakil sepertinya beku akhir-akhir ini."


Ya, setelah sebelumnya mengatakan jika Syakil kurang se-ons, kini pria itu mengutuk Syakil sebagai pria dengan otak beku. Tanpa dia ketahui jika Syakil juga kerap mengejek fisiknya yang persis badak itu.


"Ck ah udah balik ke kamar, kamu kalau di sini terus bisa-bisa hipertensi, Mas."


"Biarkan saja, stroke sekalian biar Syakil puas!!"


Plak


"Heeh!! Jaga mulutnya ya," bentak Zia usai suara geplakan itu terdengar amat renyah dari bibir Syakil, pria itu mengerjapkan mata dan kaget dengan aksi Zia.


"Ya Allah, Zia ... kamu beneran bela dua cecunguk itu? Aku suami kamu loh, Sayang," desisnya seolah-olah merasa dipojokkan, padahal memang dia yang salah.


"Bukannya bela mereka berdua, cuma untuk kali ini kamu memang harus pahami posisi Syakil dan Amara bagaimana, kita di sini sebagai pasangan yang dewasa seharusnya bimbing mereka ... bukan malah dikata-katain begitu, Mas," tutur Zia mencoba memberikan pengertian dan berharap Mikhail dapat menempatkan diri sebagai seseorang yang lebih dewasa di sini.


"Bukannya ngata-ngatain, tapi memang fakta mereka berdua nggak ada warasnya ... semalem berantem, sekarang teriak-teriak nggak jelas, Mama dulu hamil dia ngidam apa sebenarnya," ucap Mikhail seraya berlalu dari kamar Syakil masih dengan perasaan dongkol dalam benaknya, sungguh dia sebal sekali hari ini.


"Yang pasti nggak ngidam paus bakar, Mas."


Zia asal menjawab, mengingat itu adalah keinginan ketika dia hamil Sean dan Zean. Ngidam yang hingga saat ini belum juga berhasil Mikhail kabulkan karena keinginan Zia sedikit sulit diterima akal.


"Itu ngidamnya siapa ya, Mas lupa ... Rani kalau nggak salah ya?" Karena khawatir ditagih lagi, Mikhail mengalihkan pembicaraan. Cepat-cepat dia melangkah agar Zia tidak kembali meminta hal segila itu.


"Iya, Rani."


"Ahahah itu karena suaminya yang persis paus, Babas kan gendut," ucapnya biasa tidak sadar diri, padahal berat badannya mungkin sama dengan Bastian, beruntung saja dia tinggi jadi tidak begitu terlihat lemak semua.


"Mas itu yang di kaca siapa ya? Sampe nggak muat begitu," tutur Zia menunjuk pantulan diri Mikhail di sudut ruangan, wajahnya sontak berubah kala Zia menampilkan senyum manis dengan gigi-gigi rapihnya.


"Becanda, Mas ... walau gendut aku tetap suka, sumpah." Jujur saja geli sebenarnya kala Zia harus merayu sang suami dengan cara begini, akan tetapi jika tidak begini maka biasanya Mikhail akan marah satu minggu lamanya.


.


.


.


Sementara di dalam kamar mandi, dua insan yang tadinya sempat menghebohkan semua orang di sini, kini lebih heboh lagi jika sudah berdua.


"Aaarrrgggh pelan-pelan, Sayang.


"Ini udah pelan," tutur Amara lemah lembut sebagaimana gerakan tangannya.


"Sakit sumpah."


Dia yang memaksa minta ditemani nun dia juga yang berteriak ketika Amara benar-benar turun tangan membantunya mandi kali ini. Amara menggosok tubuh Syakil pelan, namun entah kenapa teriakannya sudah seperti dianiaya ibu tiri.


"Diem, nggak bersih kalau banyak gerak," tutur Amara kemudian kembali melanjutkan aksinya, sudah terlanjur basah dan dibuat mandi dua kali Amara kini memandikan Syakil dengan alasan tidak suka ada bekas cakaran wanita lain di tubuh suaminya.


"Aku bisa sendiri, Ra ... kamu dendam atau bagaimana?" Syakil sudah menggigil, namun sejak tadi tahap penggosokan ini tidak juga berhenti.


"Nggak bisa, katanya tadi temenin yaudah ini aku temenin sampai selesai," tutur Amara agresif luar biasa, ekspetasi Syakil tidak begini. Dia ingin membangun kemesraan di bawah guyuran air, bukan penyiksaan tiada akhir begini.


-Tbc-


Hai-hai, yang belum vote jan lupa ya, Bestie😗 Aku up pendek-pendek biasanya banyak karena idenya lebih ngalir.