
Menjelang siang Syakil mendatangi kediaman sang papa sendirian. Dia meminta Kanaya untuk menemani Amara, ya sebagai pria dia harus menyelesaikan masalah ini secara pribadi tentu saja.
"Hati-hati, Mama percaya sama kamu."
Dari raut wajahnya, Kanaya mengetahui apa yang terjadi. Pria itu mengangguk kemudian pamit pergi, sengaja dia keluar ketika istrinya tengah membersihkan diri.
"Titip Amara sebentar, Ma ... jangan katakan apapun padanya, istriku hamil Mama paham maksudku kan?"
Kanaya mengangguk, dia menepuk pelan pundak putranya. Setelah bahtera rumah tangga Mikhail yang dirasa kacau di awal, nyatanya rumah tangga Syakil lebih serius lagi.
Sebagai ibu Kanaya sudah berusaha untuk menjadi penengah agar hati Ibra luluh. Sayangnya, pria sekeras Ibra tidak semudah itu dilunakkan, sekalipun itu adalah Kanaya sendiri.
Syakil pergi sendirian, dia melaju dengan kecepatan tinggi dan dada panas yang berselimut emosi. Mengetahui papanya tiba-tiba begini, jujur saja hati Syakil sakit sebagai lelaki.
Kediamannya masih terlihat sama, sapaan orang-orang di sana masih Syakil jawab, senyumnya tetap dia berikan walau saat ini dia kacau luar biasa.
"Papa ada?"
"Di ruang baca, Den ... silahkan naik dulu."
Syakil mengangguk kemudian melangkah ke lantai dua. Menemui Ibra di tempat favoritnya, pria itu berjalan dengan langkah beratnya, ada sejuta harapan yang dia bawa ketika masuk ke rumah ini.
"Pa ... Syakil datang."
Seperti yang Kanaya tegaskan, mau semarah apapun berusahalah untuk terlihat sopan. Jangan sampai membuat Ibra marah besar, itu saja.
"Sendirian?"
Ibra bertanya dengan mata yang masih terfokus pada lembaran puisi di tangannya. Sudah lama dia menunggu, putranya kini datang juga meski dengan langkah yang tidak setegap biasanya.
"Iya, sendiri."
Beberapa menit keduanya sama-sama terdiam, Ibra bangkit dan menutup lembaran puisi karya istrinya beberapa puluh tahun lalu. Dia menatap datar putranya yang kini tertunduk lesu, kasihan jika dia hanya menatap syakil saja sebenarnya.
"Duduklah, kau putraku ... jangan bersikap seperti orang lain, Syakil."
Ibra melirik sofa di hadapannya, sebagai isyarat agar Syakil duduk di hadapannya. Pembicaraan yang akan mereka bahas cukup penting, rasanya akan tidak nyaman jika Syakil bicara sambil berdiri.
"Sebelumnya Papa ingin bertanya satu hal padamu." Ibra bersedekap dada dan menatap teliti mata putranya, wajah gugup Syakil tidak bisa disembunyikan dan itu tertanggap jelas oleh Ibra.
"Soal apa, Pa?"
"Lihat, berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk wanita yang bernama Eva ini dalam setiap bulannya ... kemauanmu atau keinginan istrimu?" tanya Ibra tanpa basa basi, hal ini dia ketahui secara tidak sengaja sebenarnya.
Syakil lupa, selama dia di Indonesia pria itu mempercayakan banyak hal pada Mikhail. Sementara yang memegang kendali apapun dalam hidup Mikhail adalah Bryan, jelas saja asisten pribadi Mikhail yang juga merupakan orang kepercayaan Ibra itu takkan tinggal diam ketika mengetahui segala sesuatu.
"Kemauanku," jawab Syakil mantap, walau memang Eva yang memintanya di awal tetap saja Syakil adalah pihak yang menyetujuinya.
"Apartemen, mobil dan uang yang wah ... kau menikahi adiknya tapi kakaknya juga jadi tanggung jawabmu, dan semua ini tentu atas persetujuan istrimu, benar kan?"
Niat hati hanya mencari tahu tentang identitas Amara. Akan tetapi, fakta ini dia daparkan tanpa sengaja dan sukses membuat Ibra luar biasa murka.
"Aku yang memberikannya pada Eva tanpa diminta, Pa. Amara tidak pernah setuju dengan hal ini, jangan salahkan dia karena keputusan itu aku ambil tanpa persetujuan darinya."
Syakil sedikit berbohong, dia tidak mau Eva semakin terlihat buruk yang nantinya berimbas pada Amara juga. Harga diri istrinya harus benar-benar dijaga hingga akhir menurutnya.
.
.
.
.
Sesaat Syakil balik menatap wajah Ibra, pria itu sejak tadi melemparkan tatapan maut untuknya. Syakil terdiam, apa maksud papanya bicara demikian.
"Maksud Papa?"
Ibra kemudian beranjak dan mengambil sebuah amplop dari atas mejanya. Pria itu melemparkannya pada Syakil dan tidak mengatakan apa-apa setelahnya.
Syakil yang juga dapat berpikir tanpa menunggu perintah dia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan satu persatu isinya. Matanya sejenak membola, beberapa kali Syakil menatap dan membacanya berulang kali.
"Papa membebaskanmu menikah dengan siapapun, Syakil ... tapi tidak dengan putri badjingan itu," tekan Ibra tanpa menatap ke arah putranya.
Syakil menggeleng, bukti-bukti semacam ini tidak bisa dia terima dan percayai begitu saja. Hanya karena beberapa foto bayi kembar dan identitas kedua orang tuanya tidak bisa menjadi penjelas bagi Syakil.
"Papa salah, tahun lahir mereka berbeda ... nama ayah Amara juga bukan Wiranata," jawab Syakil kemudian tidak lagi peduli dengan isi amplop yang susah payah Bryan dapatkan untuk Ibra beberapa waktu lalu.
"Dimana kau melihatnya? Identitas Amara kah?" tanya Ibra dengan nada sedikit meremehkan, sudah dia duga Syakil akan menjawab demikian.
Syakil mengangguk, dia memang hanya punya itu. Tidak ada yang dapat Syakil perlihatkan untuk melawan bukti yang Ibra berikan.
"Masalah identitas bisa saja direkayasa, Syakil ... kau lupa di dunia ini uang adalah solusi paling baik? Selagi uang bekerja, jangankan penulisan tahun lahir ... jenis kelaminpun bisa dirubah," jelas Ibra kembali mengingatkan pada Syakil betapa jahatnya dunia jika dia ingin mengetahuinya.
Syakil terdiam, dia menatap nanar isi amplop yang sudah tak lagi beraturan itu. Mengetahui hal ini, Syakil tidak begitu terkejut. Akan tetapi dia merasa lega, seolah jawaban yang memang dia cari sejak dulu namun penguatnya tidak dia temukan, kini rasa penasaran Syakil terbayarkan dengan sendirinya.
"Lalu kalau memang benar kenapa? Papa tidak bisa menyeret Amara dalam kesalahan yang sama sekali tidak dia lakukan, Amara hanya orang baru yang Syakil pilih sebagai pendamping ... Papa tolonglah, jangan dikaitkan dengan masa lalu yang tidak ada harganya itu. Sama sekali tidak ada hubungannya, Pa."
"Tidak ada menurutmu? Kau tau alasan Wiranata kembali menghubungi Papa karena apa? Karena kau menikahi putrinya yang lain, Syaki!" Napas Ibra bahkan menggebu, dia berhenti sejenak baru kemudian melanjutkan ucapannya.
"Dia merasa berhak atas wanita itu dan mengatakan Papa menjilat ludah sendiri karena pada akhirnya melanggar sumpah Papa beberapa tahun lalu ... kau tau malunya Papamu ini bagaimana, Syakil?" Ibra yang biasanya lebih memilih diam dan tidak banyak bicara kini tidak kuasa menahan gejolak dalam batinnya. Bukan hanya dia yang direndahkan tapi Syakil juga, jelas saja pria itu tidak terima.
Ibra semarah itu, namun tetap Syakil tidak bisa berada di pihak Ibra jika keinginan sang papa adalah kehancuran pernikahannya.
"Maaf jika Syakil membuat Papa malu, tapi yang perlu Papa ketahui istriku sama sekali tidak mengetahui asal usulnya, bukankah Papa terlalu kejam jika melimpahkan semua kemarahan Papa padanya?" tanya Syakil dengan suara yang terdengar lemas dan tatapan yang luar biasa sendu.
"Permintaan maafmu tidak Papa butuhkan Syakil, lepaskan istrimu karena Papa benar-benar tidak sudi kau kembali menjalin hubungan dengan darah daging Wiranata," ucap Ibra masih sama seperti kemarin bahkan kini lebih marah lagi.
"Papa sudi atau tidak, Amara akan tetap jadi istri Syakil ... dia mengandung anakku, Papa jangan coba-coba mengatur jalan hidupku."
"Syakil, dia bukan wanita yang pantas untuk kamu jadikan istri!! Gugurkan anak itu, Papa tidak menerima kehadirannya di keluarga kita."
Syakil mengepalkan tangannya, pria itu benar-benar merasa terluka kala Ibra menatap istrinya seburuk itu.
"Lalu anak yang bagaimana yang Papa terima sebagai cucu Papa? Apa harus anak yang dikandung tiga bulan sebelum menikah? Atau enam bulan, Pa?" tanya Syakil sarkas dan ini diluar kendalinya, merasa sakit lantaran sejak tadi Ibra menolak Amara dan calon bayinya Syakil mengabaikan pesan mamanya.
PLAK
"Tampar saja, Papa suka yang begitu kan?" Syakil masih bisa menarik sudut bibir meski tamparan itu luar biasa sakitnya.
PLAK
"Anak kurang ajar!! Berani kau bicara begitu?" Tangan Ibra bergetar usai mendarat begitu kuat di wajah tampan Syakil, bisa dipastikan rasanya amat panas dan mungkin saja terasa kebas.
"Fakta kan? Sewaktu Mikhail membawa Zia dalam keadaan hamil Papa begitu menerimanya bahkan takut sekali Mikhail menyakiti Zia. Jika Papa bisa baik kepada Zia lalu kenapa pada Amara tidak, Pa?" tanya Syakil dengan mata yang kini memerah, panas di wajahnya seakan tak lagi terasa untuk saat ini.
"Amara aku nikahi dengan cara yang baik-baik, aku bawa ke hadapan Papa dan Mama dengan niat yang baik ... jika Papa tidak bisa menerima anakku tidak masalah, kami masih bisa hidup bahagia walau hanya bertiga." Sakit sebenarnya, tapi Syakil tidak peduli akan semarah apa papanya setelah ini.
-To Be Continue-