My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 82 - Perang Ibu Hamil



Hempaskan dulu pikiran tidak berguna, saat ini Syakil ingin menuntaskan janjinya. Amara sudah bersikap amat manis bahkan sebelum mereka tiba di tanah air, akan tidak adil rasanya jika nanti Syakil tidak menghadirkan senyum di wajah sang istri.


Menjalani hidup sebagai pasangan biasa, ya kali ini Amara meminta tidak diikuti banyak mata. Dia bosan dan merasa risih dengan kehadiran mereka, berdua bersama Syakil saja dia sudah merasa aman.


Sebisa mungkin Syakil memanfaatkan waktu yang singkat itu. Keduanya tiba di kota kembang itu sekitar pukul 10 pagi, belum terlalu siang dan sepertinya Amara tidak ingin menunda waktu lagi. Air liurnya seakan sudah banjir lantaran kerinduannya dengan cemilan yang baru-baru ini naik daun.


Mudah sekali sebenarnya, akan tetapi yang Amara cari bukan cireng biasa. Ya, penjualnya harus hamil juga, sudah kali kesekian Syakil memastikan dan hampir semua yang dia temui penjualnya adalah anak muda yang ternyata belum menikah.


"Susah atuh, Aa kalau mau yang hamil mah. Teh Aida paling, tapi sudah melahirkan lima hari lalu."


Syakil mendengkus kesal, saran yang amat berguna sekali. Pria itu emosi rasanya, mendadak jiwanya terasa panas dan bubuk cabai di hadapannya menarik perhatian, rasanya sangat cocok sekali jika masuk ke mata pria berkumis tipis itu.


"Yang lain, aku bayar satu juta sekarang juga."


Syakil tidak sesabar itu untuk menemukan wanita hamil yang jual cireng. Dia menatap Amara yang tengah menungunya di dalam mobil, wajah istrinya sangat berharap, namun sayang yang kali ini tetap belum sesuai harapan.


"Waduh bukannya gak mau bantuin, Aa tapi memang susah ... kenapa nggak beli aja di sini, produk kami terjamin isinya juga full daging ayam, Aa suka rasa apa? Balado, pedas manis atau mau pedas merapi juga ada."


Bodo amat, Syakil tidak peduli dengan isinya. Yang Syakil cari penjualnya, pria itu bahkan berkerut kini. Bingung sekali kenapa sesulit itu ketika dicari, padahal hal semacam itu terdengar sepele.


"Terima kasih, tapi istriku mau penjual dan cirengnya sama-sama hamil, Mas."


Syakil tetap menolak baik-baik, meski batinnya tertekan dan ingin sekali terbang saat ini juga. Pria itu masih berpikir dua kali dalam bersikap terhadap orang asing, terlebih lagi ini bukan tanah kelahirannya.


Amara menatap kecewa kala Syakil menggeleng dan masuk mobil tanpa hasil apa-apa. Kasihan, tapi mau bagaimana dia maunya begitu. "Sabar ya, kita cari lagi."


Amara mengangguk pasrah, dia masih bisa makan yang lain sementara cireng hamil tersebut belum mereka temukan. Amara paham, sekesal-kesalnya dia tentu lebih kesal lagi Syakil.


"Kamu nggak capek?" tanya Amara heran kenapa Syakil masih bisa tersenyum padahal mereka sudah berkeliling cukup lama, pria itu menggeleng karena memang faktanya dia tidak lelah.


"Kata Mama direpotkan calon bayi itu sebuah anugerah, nikmati karena tidak semua pasangan bisa merasakannya," jawabnya seakan pria paling sabar di dunia, padahal menurut penuturan Kendrick Syakil bisa segila itu jika marah kepada karyawannya.


"Dewasa sekali pemikirannya, aku pikir bakal marah," ucap Amara seraya menarik sudut bibir, apa mungkin hal ini terjadi lantaran perjanjian mereka, pikir Amara kemudian.


"Kan memang sudah dewasa, Sayang ... sebentar lagi jadi Papa ya dewasa dong." Benar juga, jawabannya tidak salah dan Amara membenarkan hal itu.


.


.


.


Cukup lama mereka mencari, hingga mata Amara yang luar biasa jeli menemukan apa yang dia cari. Syakil menghela napas begitu leganya, Amara terburu-buru dan menarik pergelangan tangan Syakil.


"Maaf, boleh saya tanya? Tetehnya hamil kan?" tanya Syakil spontan, pertanyaan baik-baik namun anehnya wanita itu salah paham.


"Ih nggak punya mata ya? Udah tau mlendung gini masih nanya."


Sialan, penjualnya emosian. Syakil dibuat ciut dengan mata tajam wanita itu. Amara mendongak dan menatap Syakil sendu, sungguh tidak rela ada wanita lain yang membentaknya.


"Aduh maaf, Kang ... istri saya lagi hamil, mohon maklumi ya."


Beberapa saat setelah Syakil disemprot wanita itu, pria bertopi menghampiri mereka seraya mengatupkan telapak tangannya. Merasa amat bersalah pada calon pelanggan yang dia yakini dari kalangan atas itu.


"Hm, tidak masalah ... saya bertanya baik-baik karena istri saya ngidam cireng hamil yang penjualnya harus hamil," jelas Syakil pada intinya, dia malas harus basa basi karena sudah berjam-jam dia mencari.


"Istrinya hamil juga?" tanya pria itu sopan sekali, sikap istrinya membuat pria itu merasa bersalah kepada calon pelanggannya.


"Iya!! Udah tau ngidam masih nanya."


"Ya Tuhan, Sayang jangan begitu," bisik Syakil seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pria itu bingung kenapa istrinya seperti kesurupan begini.


"Dianya yang mulai ih, dia bentak kamu loh tadi," jawab Amara kesal, wanita itu tengah cari uang atau cari masalah, pikirnya.


"Itu salahku, sudah ... jangan diteruskan, masih mau nggak? Susah tau carinya yang hamil," ucap Syakil pelan, khawatir wanita yang tengah hamil besar itu kembali membentak dan bisa jadi Amara marah besar padanya.


"Mau."


Dia kesal, tapi masih menginginkannya. Amara menoleh ke sekeliling, berharap dia menemukan yang lain namun sejauh mata memandang dia tidak menemukannya.


"Kang, maaf ya ... istri saya emosinya tidak stabil, mohon dimaklumi."


Pria itu dapat mengerti, sebab di rumahnya sang istri lebih garang lagi. Jika hanya bentakan kecil dari Amara yang baru dia dengar barusan maka rasanya tidak ada apa-apanya.


"Santai saja, saya mengerti perasaan orang hamil, Kang."


Beruntung saja pria itu tidak mudah mengambil hati atas semua perkataan Amara, akan tetapi istri dari pria itu masih memandang Syakil penuh amarah. Hanya karena Syakil memastikan dia hamil atau tidak, hati wanita itu seakan hancur dibuatnya.


"Sayang mau berapa?"


"Segini," jawabnya mengangkat sepuluh jemarinya, entah habis atau tidak namun yang jelas Syakil akan menuruti kemauan Amara.


"Sepuluh, Kang. Tapi bisa kan yang goreng tetehnya." Syakil nekat, tidak peduli meski tatapan wanita itu seolah hendak mengulitinya, karena inti dari ngidamnya Amara adalah siapa yang menyajikannya.


"Ehm, harus ya, Kang? Istri saya tugasnya cuma buat isian ... saya teh kasihan kalau dia deket api," jawab pria itu bingung juga karena biasanya sang istri hanya menemani, bukan melakukan keseluruhan tugasnya.


Syakil mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan demi membayar jasa wanita itu, dia tidak tega melihat mata sang istri yang tiba-tiba menatap si penjual kecewa luar biasa.


"Tolong, Kang ... kami jauh-jauh datang hanya karena memenuhi keinginannya, mohon bantuan Akang sama Teteh." Syakil benar-benar merendah untuk hari ini, dia memohon begitu baik demi terpenuhinya keinginan Amara, sekalipun keluar uang banyak maka tidak masalah baginya.


"Aduh, jadi bingung euy. Gimana, Neng ... bikinin, atuh." Melihat uang sebanyak itu untuk harga sepuluh cireng jelas saja mereka semangat dan melakukannya tanpa banyak basa basi, wanita yang tadinya cemberut pada Syakil kini tampak sedikit bersahabat seolah lupa sempat menggertaknya.


"Mau yang isinya apa? Teteh gorengin deh sekarang," ucapnya mendadak lembut, memang benar bahwa wanita akan luluh ketika melihat mata uang.


"Semuanya ... tapi jangan yang terlalu pedas," jawab Syakil lebih dulu, karena jika Amara memilih jelas hanya memikirkan kenikmatan di mulutnya saja.


"Kok gitu? Aku maunya yang pedes banget-banget."


"No, nggak semua keinginan kamu aku izinkan ... maaf ya, Sayang aku memang kejam sesekali." Syakil bersikap semanis itu, beberapa orang yang ada di sana sontak menengadahkan tangan meminta sosok lelaki yang seperti Syakil di masa depannya.


"Heh!! Doa kalian jangan macam-macam ya, kalian pikir aku tuli?" Amara yang sejak tadi sudah emosi kembali dibuat emosi kala salah satu siswi berseragam SMA itu berharap Syakil duda dan dia akan menantinya.


"Tetehnya galak ih, lari ah!!"


"Sekolah yang bener, kawin aja pikiran!!" umpat Amara berkacak pinggang, Syakil sama sekali tidak malu dengan Amara yang begitu, pria itu sontak memeluk istrinya dan berusaha menenangkan Amara.


"Anak kecil, jangan dipedulikan, Sayang."


"Doanya sembarangan, masa nunggu kamu duda ... apa maksudnya coba." Amara mencebik tak suka, Syakil hanya menghela napas dan menggeleng pelan. Terdengar seperti candaan, namun dia mendadak ingin marah.


-Tbc-


Hallow, aduh aku kejer-kejeran nih, Bestie akibat ga up rutin kemaren-kemaren. Btw mampir ke novel temen aku sementara Syakil up, Babay.