
"Morning, Honey."
Kaget, wajahnya sontak bersemu merah kala Syakil tiba-tiba memeluknya dari belakang. Suara kecupan itu bahkan terdengar jelas dan membuat Kanaya menjauh seketika.
Pagi-pagi putranya sudah mengumbar kemesraan, setelah beberapa tahun lalu Mikhail begini, kini gantian putra bungsunya melakukan hal yang sama.
"Bikin kag_"
Cup
Melihat mamanya memberi ruang, Syakil semakin bebas dan merasa keduanya aman-aman saja. Sebelumnya Amara sudah cukup menggila kala Syakil mengecup pipinya, kini tiba-tiba pindah di bibir jelas saja dia sudah tidak bisa lagi berkata-kata.
"Manis, i like your lips," bisiknya kemudian berhasil membuat Amara meremang, merinding bahkan ingin rasanya guling-guling.
"Ehem, kamu baru bangun ya?"
Syakil mengangguk seraya mencebikkan bibirnya. Amara yang tiba-tiba meninggalkan dia di tempat tidur membuat Syakil sebal, kehilangan momen dan dia sangat tidak suka ketika bangun sudah sendirian seperti tadi.
"Kamu pagi-pagi sudah mandi, apa nggak dingin?" tanya Syakil memerhatikan sang istri dari atas sampai bawah, padahal pagi hari namun istrinya keramas.
"Nggak ... aku terbiasa mandi pagi," jawab Amara apa adanya, meski Syakil tetap tak melepaskannya, wanita itu tetap meneruskan tanggung jawabnya untuk menyiapkan sarapan pagi ini.
"Kamu wangi, padahal sabun kita sama." Syakil mengecup pundak Amara berkali-kali, padahal Amara sudah mengenakan pakaian yang cukup tertutup sebenarnya.
"Syakil hentikan, kalau ada yang lihat gimana?"
"Mereka pasti memaklumi, Mama saja mengizinkan, kamu kenapa panik sendiri, Ra," ucap Syakil kemudian, dasar aneh, pikirnya.
Jelas saja panik, pasalnya Syakil begini bukan di kamar mereka melainkan di ruang makan. Hanya karena kedua orang tuanya memaklumi bukan berarti mereka aman-aman saja.
"Diam, Ra ... sebentar saja," tutur Syakil sembari mengeratkan pelukannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Ibra kemungkinan sedang keliling komplek sepagi ini.
"Kamu mau apa sebenarnya?"
"Mau melanjutkan yang semalam, Sayang apalagi yuhuuu."
Suara siapa itu? Bukan hanya Amara yang terperanjat melainkan Syakil juga. Pria itu menoleh dan berdecak kesal kala melihat kakak kandungnya itu menghampiri dan menarik roti yang sudah Amara olesi selai itu tanpa dosa.
"Kalian pikir di rumah ini hanya ada kalian berdua saja begitu? Bulan madu sana, biar puas!!"
Julid sekali, padahal dulu ketika dia baru menikah juga hampir sama. Sama-sama curi kesempatan jika hanya berdua dan kerap kali Syakil mendapati keduanya tengah bermesraan dahulu.
"Ck, sejak kapan kau di sini?"
"Hm, sejak setengah jam lalu ... beras di rumahku hampir habis, ambil di gudang Mama tidak masalah kan? Masih banyak juga, Kil."
Benar-benar tidak mau rugi, padahal dia mungkin mampu membeli sawah puluhan hektar. Akan tetapi, melihat beras yang sempat Syakil beli beberapa waktu lalu membuatnya berpikir dua kali ketika hendak beli kebutuhan.
"Apa iya cuma beras? Sepertinya lebih dari itu."
"Detergen titipan Zia, permen untuk Zean dan Sean, shampo untuk Babas sama minyak goreng beberapa kemasan," jawabnya santai, Zia memintanya belanja bulanan di supermarket terdekat. Hanya saja, Mikhail berpikir uangnya lumayan jika sebagian keperluan dia ambil di gudang Kanaya.
"Ck, terserah kau saja lah."
Syakil duduk di sisi Mikhail, tentu saja lanjut sarapan tanpa memikirkan istrinya tengah di selimuti rasa malu akibat kepergok Kakak ipar tengah bermesraan bersama sang suami.
.
.
.
.
"Kalian berdua kapan perginya? Masih lama ya?"
Mengusir sekali, padahal Kanaya bahkan meminta kepergian mereka ditunda. Bisa-bisanya Mikhail bertanya demikian.
"Ngusir?"
"Bukan begitu, aku mau sekalian ajak Zia ke sana, bulan madu juga."
"Big no!!"
Sontak Syakil berteriak hingga membuat Amara terbatuk, dua manusia ini sama-sama sintingnya.
"Kenapa? Aku juga merindukan LA, Kil ... lagipula rumahmu di sana besar, berbaik hatilah pada kakakmu ini," rayu Mikhail tidak sepenuhnya bercanda.
"Kak Zia sedang hamil, bulan madu apanya, dengarkan aku Mikhail Abercio ... usiamu tidak muda lagi, ada baiknya memikirkan kehidupan akhirat dan kumpulkan amal sebanyak-banyaknya, hidup tidak selalunya tentang bulan madu."
Syakil mulai mengeluarkan jurusnya, meski masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri tapi tidak masalah.
"Lihat Amara, suamimu sepertinya sudah bangun pondok pesantren di California sana," ujar Mikhail sarkas lantaran Syakil yang tiba-tiba menasehatinya tentang agama.
"Jangan dengarkan, Ra ... manusia ini kebanyakan minum minum obat kuat," ungkap Syakil frontal sembari terus menikmati susu hangatnya.
"Siallan kau, besok-besok kalau kau juga sampai minum dua mobilmu yang di garasi untukku."
"Enak saja, memeras namanya."
Mengerikan sekali, baru saja beberapa hari menjadi bagian keluarga Megantara nampaknya Amara mulai memahami watak Mikhail. Selain bisa membuat mental seseorang, sepertinya Mikhail juga sangat ahli dalam mencari keuntungan.
"Ya sudah aku pergi saja, terima kasih sarapannya adik ipar," tutur Mikhail lembut dan mengulas senyum hangat kala menatap wajah Amara, dia sopan pagi ini.
Tbc