My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 31 - Pembohong



Janjinya hanya bantu Amara ke kamar mandi, namun nyatanya dia juga ikut mandi lagi. Syakil tidak sekuat itu pada nyatanya, iman Syakil yang dipercayai lebih tebal dari Mikhail tidak lagi berlaku ketika dia melihat tubuh Amara dibawah guyuran air.


Sakit akibat pertemuan pertamanya tadi malam bahkan masih terasa, Syakil kembali menambahkan rasa sakit itu untuk Amara. Meski istrinya menitikkan air mata, Syakil tidak bisa menahan dirinya dan kalimat tidak tega pagi ini hilang begitu saja.


"Sakit banget ya?"


"Banget-banget-banget-banget-banget!!" jawab Amara ketus kemudian mencubit lengan suaminya kecil-kecil hingga menciptakan sensasi sakit yang lebih terasa.


"Maaf, Ra ... salahin Juno lah."


"Juno siapa?" Amara mengerucutkan bibirnya sembari mengusap air mata yang kini masih saja keluar saja lantaran memang terasa perih bagi Amara.


"Dia, kamu sakit karena dia kan?"


Sama sekali tanpa merasa bersalah dan seolah tak berdosa, Syakil menunjuk adik kecilnya di hadapan Amara. Semakin membuat Amara geli saja, ingin sekali dia pukul sesuatu yang berada di balik handuk Syakil tersebut.


"Dih, ya tetap aja kamu pelakunya ... pakai nyalahin dia."


"Tapi kan dia yang buat kamu sakit, marah ke dia lah." Masih sebegitu kerasnya pendirian Syakil mengutarakan jika dia tidak bersalah.


"Ya itu punya kamu, kalau kamu nggak mau dia juga nggak bakal beraksi, Syakil."


Mereka berdebat, mempermasalahkan tentang kesalahan Juno. Pembicaraan yang sebegitu pentingnya, Amara membela sementara Syakil tetap yakin jika semua ini murni kesalahan Juno.


"Maaf ya, coba sini kulihat," tutur Syakil berlutut dan hendak melebarkan kaki Amara demi memastikan bagaimana keadaannya sekarang.


"Enggak, buat apa dilihat lagi."


Dia menolak, Amara benar-benar menyerah jika kali ini Syakil berani mencuri kesempatan darinya lagi. Pria itu masih saja memaksa disertai gelak tawa yang tiada habisnya, dia pikir ini lucu atau bagaimana.


"Jangan membantah, buka," titah Syakil tidak menerima penolakan, istrinya yang kini duduk di tepi ranjang hanya bisa pasrah ketika Syakil sedikit memaksanya.


"Kenapa bisa begini?"


Syakil melongo kala melihat aset berharga milik Amara kini memerah akibat ulahnya. Dia rasa tidak sebrutal itu, kenapa bisa keadaannya mengkhawatirkan begini, pikirnya.


"Su-sudah, berikan celanaku," pinta Amara mengulurkan tangannya, sejak selesai mandi memang Syakil meminta Amara untuk diam dan dia yang menyiapkan semua pakaian untuknya.


"Kamu masih malu?"


Malu? Jelas saja, mana mungkin dia tidak malu kala Syakil masih saja memandangi miliknya dengan tatapan khawatir. Mungkin Syakil baru sadar mungkin dengan akibat dari serangan bertubi yang dia berikan.


"Aku khawatir, kita ke dokter saja mau?"


Amara sontak menggeleng cepat, dasar gila!! Mana mungkin Amara memiliki muka di hadapan dokter dengan keadaan begini. Jalan keluar yang Syakil berikan sama sekali tidak membuat Amara tenang.


"Kenapa? Kalau kenapa-kenapa bagaimana?"


Dengan alasan apapun tetap saja tidak, Amara enggan dan dia lebih memilih menahan daripada kesakitannya diketahui banyak orang.


"Nggak usah, nanti sembuh sendiri."


"Aku tanya kak Mikhail saja ya kalau begitu," tutur Syakil kian membuat Amara ketar-ketir. Kepada dokter saja dia malu, apalagi kepada Mikhail.


"Apalagi yang itu, jangan pernah bicarakan soal ini pada siapapun ... terutama kak Mikhail." Amara memohon kali ini, sungguh ini adalah ancaman luar biasa dalam hidupnya.


"Tapi kamu kesakitan, Ra. Mama marah gimana?" Syakil sedikit khawatir Amara akan menyampaikan hal ini pada sang mama sebenarnya


"Nggak akan, kita sama-sama diam," ujar Amara kemudian menepis pelan tangan Syakil di sana.


.


.


.


"Diam, biar aku saja."


Syakil menahan tubuh Amara yang hendak meraih pakaiannya. Hendak menolak tapi tidak bisa lantaran Syakil sama sekali tidak memberikan izin untuknya mengenakan pakaian sendiri.


Amara menghela napas pelan, dia hanya sakit dibagian sana, bukannya stroke. Kenapa Syakil bahkan membantunya memakai baju seperti ini.


"Cepat, Syakil ... kapan selesainya?"


"Bentar, Ra, pengaitnya salah."


Banyak sekali drama Syakil, bukannya membuat langkah Amara kian cepat melainkan sebaliknya.


"Lama ah, aku sendiri saja," pinta Amara mulai sebal, sampai kapan dia menunggu jika bra saja hampir lima menit begini.


"Tunggu, Amara. Sabar sedikit apa salahnya," ujar Syakil menghela napas pelan, istrinya yang selalu berontak begini justru membuat konsentrasinya terganggu.


"Kelamaan, rambutku sudah kering begini," ungkap Amara mencebikkan bibirnya.


"Ck, bra nya jelek ... beli dimana? Kualitas begini kenapa dijual," omel Syakil kesal sendiri lantaran tidak juga berhasil memasangkan kacamata ajaib itu.


"Kamu aja yang nggak bisa, makanya sini."


Setelah sebelumnya berdebat perkara Juno, kini mereka berdebat masalah bra. Ya, memang sepertinya biduk rumah tangga mereka akan banyak sekali yang diperdebatkan.


Tok tok tok


Kebiasaan sekali, kenapa harus ada gangguan begini padahal Syakil tengah fokus dengan pekerjaannya.


"Sebentar, aku buka pintu dulu." Meski dia sekesal itu, Syakil tetap menyempatkan diri untuk membuka pintunya sebentar.


Ceklek


"Astaga!! Kenapa harus naik ke kamarku?!!"


Panik sekali dia kala melihat siapa yang kini berada di hadapannya. Mikhail bersedekap dada seraya bersiul-siul entah apa maksudnya.


"Jam segini baru mandi? Woah apa kabar adik iparku, Syakil?" tanya Mikhail santai namun benar-benar membuat Syakil seakan tertekan.


"Bukan urusanmu," celetuk Syakil sebal lantaran kehadiran Mikhail benar-benar membuatnya kesal hingga ke ujung rambut.


"Urusanku lah, sebagai mentor yang baik aku juga harus memastikan muridnya tidak melakukan kesalahan fatal ... bagaimana? Apa semalam berjalan lancar?"


Mikhail menaikkan alisnya, dia tengah menggoda sang adik yang baru saja merasakan bagaimana menjadi lelaki sempurna.


"Hm, apa yang kau mau? Kau minta bayaran kan?"


Sudah tertebak apa maksud Mikhail mengusiknya siang ini. Sebagai adik yang baik jelas saja dia mengerti watak sang kakak.


"Hahah bisa saja, aku tidak sepicik itu, Syakil ... pinjam mobil, Zia ngidam jalan-jalan berdua ke Bogor tapi pakai serba ungu, dan mobilku tidak yang ungu."


Mengatasnamakan Zia ngidam, padahal memang Mikhail yang sudah mengincar mobil kesayangan Syakil itu sejak lama. Mobil yang hanya dia gunakan beberapa kali dengan harga fantastis itu terpaksa dia berikan untuk sementara agar pria ini menghilang dari hadapan Syakil segera.


"Sebentar, aku ambil kuncinya."


"Aku ikut," ucapnya hendak maju dan secepat mungkin Syakil mendorong tubuh Mikhail, benar-benar tidak memiliki sopan santun, pikir Syakil kemudian.


"Tunggu di sini!!" titah Syakil sengaja menekan ucapannya.


"Iya, kenapa rupanya? Adik ipar belum pakai baju ya?"


"Kau mau mati, Kak?" Syakil berdecak kesal dan ini adalah hiburan paling nyata bagi Mikhail.


Tbc