My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
Promo Novel Momy Ida - Cinta Pertama Membawa Luka



Judul : Cinta Pertama Membawa Luka


Karya : Momy Ida



Cuplikan Bab.


"Kamu tidak bekerja Dave?" Tanya Agung kepada anaknya.


"Tidak Ayah, Dave ingin melakukan sesuatu hari ini." Jawab Dave yang sudah ikut bergabung di ruang makan.


"Jangan aneh-aneh, Dave." Tegur Lila yang baru saja datang membawa lauk.


"Tidak Mah, Dave hanya ingin menemui Paman Handoko saja sekaligus bertemu Rose." Jawab Dave pelan.


Agung dan Lila tertegun sesaat mendengar jawaban dari Dave.


"Bagus Dave, lebih cepat di selesaikan lebih baik." Ucap Agung yang menepuk pundak anaknya.


"Benar, bawa Rose agar menjadi menantu keluarga kita." Kata Lila dengan wajah berbinar bahagia.


Dave hanya dapat tersenyum saja, Dave juga tidak tahu apakah mereka akan memaafkan Dave atau justru sebaliknya.


"Dave berangkat dulu." Panit Dave kepada kedua orang tuanya.


Dengan langkah lebarnya, Dave berjalan menuju mobil yang terparkir di garasi.


Dengan wajah tanpa ekspresi, pandangan mata yang tajam membuat ketampanan Dave berkali lipat hari ini.


Segera Dave menjalankan mobilnya dan menembus jalan raya.


Selama di perjalanan Dave berfikir bagaimana caranya untuk meminta maaf kepada Paman Nugroho.


"Jika aku mati di bunuh bagaimana." Gumam Dave dengan mengigit-gigit bibir bawahnya.


"Tidak mungkin, pasti Rose akan menolongku.. iya kan..." Lanjut Dave meskipun banyak keraguan.


Cukup lama perjalanan yang Dave tempuh untuk sampai di kediaman Amanda, terlihat seorang maid akan menutup gerbang.


Dave langsung membunyikan klakson mobilnya dan membuka pintu mobil untuk bergegas keluar.


"Cari siapa, Tuan?" Tanya Bi Asih.


"Rose nya ada Bi?" Tanya Dave sopan.


"Oh, Non Rose baru saja pergi Tuan." Jawab Bi Asih sopan.


"Baiklah, saya akan ke kampusnya Bi." Ucap Dave.


"Eh, Nona tidak kekampus Tuan." Jawab Bi Asih cepat.


"Kemana Bi!" Seru Dave yang langsung panik.


Bi Asih kaget karena perubahan pria tersebut.


"Bibi!!" Teriak Dave yang sudah mengguncang lengan Bi Asih.


"Ba.. bandara." Jawab Bi Asih terbata karena masih kaget.


"Apa." Ucap Dave lirih dan kaget.


Seketika tubuh Dave bergetar hebat, langkah kakinya perlahan mundur dengan kepala yang menggeleng pelan.


"Tidak."


"Tidak, Rose!"


Dave berteriak dan langsung masuk begitu saja ke dalam mobilnya tanpa bertanya tujuan Rose pergi kepada Bi Asih.


Bi Asih yang melihat mobil Dave mengelus dadanya pelan karena terlalu kaget dengan sikap implusif Dave.


"Ya Tuhan, lindungi Nona. Bibi harus menelfon Asep." Ucap Bi Asih.


Bi Asih tidak tahu tentang larangan kepergian Rose agar tidak di beritahukan kepada siapapun.


Segera, Bi Asih menutup rapat gerbang depan dan berlari kedalam mansion untuk menelfon Asep yang mengantarkan Rose dan Ayah Nugroho ke bandara.


Sedangkan Dave, sudah mengendarai mobilnya bak orang seperti kesetanan.


"Tidak Rose, jangan... jangan Rose. Aku mohon." Ucap Dave yang sudah menangis.


Di sisi lain, Rose dan rombongan sudah sampai di bandara.


Mang Asep segera turun dan membuka bagasi belakang mobil untuk menurunkan koper majikannya.


Sedangkan Rose sudah memeluk Ayah Nugroho, karena Rose melarang sang Ayah untuk mengantarkannya ke dalam.


"Apa kamu yakin, tidak ingin Ayah antar?" Tanya Ayah Nugroho kepada Rose.


Rose menggeleng dalam pelukan Ayahnya, "Rose takut nanti ingin ikut Ayah dan Mang Asep kembali pulang." Jawab Rose pelan.


Rose melepaskan pelukannya dengan wajah cemberut, "Kemarin Ayah bersemangat agar Rose pergi keluar negri, sekarang kenapa seperti tidak ikhlas." Jawab Rose.


Ayah Nugroho hanya terkekeh pelan, "Begitulah orang tua."


"Rose pergi kedalam dulu Ayah, jaga kesehatan Ayah. Jangan banyak lembur, Rose akan kembali jika sudah siap menggantikan Ayah." Ucap Rose dengan membenarkan dasi dan jas sang Ayah.


"Apa kamu akan langsung menetap disana?" Tanya Ayah Nugroho yang agak kaget.


"Iya Ayah, Rose takut di sini membuat Rose enggan pergi lagi." Jawab Rose dengan raut wajah sedih.


Ayah Nugroho memahami jika Rose belum bisa sepenuhnya melupakan Dave.


"Baiklah, Ayah yang akan mengunjungimu." Ucap Ayah Nugroho.


Rose meneluk tubuh Ayahnya sekali lagi dan menyeret kopernya untuk masuk ke dalam bandara.


Sesekali Rose menengok kebelakang, terlihat sang Ayah dan Mang Asep melambaikan tangan ke arah Rose.


Rose hanya dapat tersenyum tipis, lebih tepatnya tersenyum getir karena mengingat keputusannya kali ini.


"Sudah, Sep. Tidak usah menangis. Aku yang Ayahnya saja tidak menangis." Ucap Ayah Nugroho kepada sopirnya.


"Hikss.. Tuan, di mansion pasti akan sepi tidak ada teriakan dari Nona Muda lagi." Jawab Mang Asep dengan menyeka air matanya.


Ayah Nugroho hanya dapat mengenal nafas dalam dan menatap punggung Rose hingga hilang dari pandangannya.


Asep berjalan ke arah Ayah Nugroho dengan cepat setelah menerima telfon dari mansion, lebih tepatnya Bi Asih.


"Tuan, kata Bi Asih. Tadi di mansion ada seorang pria yang mencari Nona Muda." Ucap Mang Asep.


Ayah Nugroho hanya tersenyum miring, membuat Mang Asep yang melihatnya menjadintakut.


"Asep, jangan katakan kepada siapapun mengenai kepergian Rose. Jika ada seorang pemuda yang datang jangan pernah bukakan gerbang. Ayo kita langsung ke kantor." Jawab Ayah Nugroho mengintruksi Mang Asep dan berjalan ke atar mobilnya.


Mang Asep hanya mengangguk dan mengikuti majikannya, segera Mang Asep menjalankan mobil dan pergi dari area bandara.


Kepergian mobil keluarga Amanda bertepatan dengan datangnya Dave yang baru saja sampai di bandara.


Segera Dave keluar dan berlari masuk kedalam bandara.


Dengan langkah lebarnya kini Dave berada di tengah-tengah bandara. Dave mengedarkan pandangannya kesegala arah.


Dave berlari ke arah penerbangan dalam negri, dengan berdesak-desakan. Dave meloncat-loncatkan dirinya agar dapat melihat ke depan.


Tidak ada Rose disana, Dave berlari ke arah penerbangan luar negri yang jaraknya cukup jauh.


Dave kembali berlari sekuat tenaga yang dia miliki, penerbangan luar negeri cukup sepi tidak seperti penerbangan dalam negri.


Dave berhenti dengan nafas yang terengah-engah bahkan keringat sudah membasahi pakaian yang tengah Dave kenakan.


Dave kembali mengedarkan pandangannya, mencari gadis yang membuat dirinya menyesal.


Hingga suara dari pengeras suara berbunyi, menandakan seluruh penumpang untuk segera masuk karena penerbangan sebentar lagi akan berangkat.


Terlihat seorang gadis dengan langkah pendeknya berlari dengan menyeret koper dengan tangannya ada segelas minuman.


Dave terpaku, melihat pemandangan yang melewatinya. Gadis itu adalah Rose, Rose juga tidak sadar akan keberadaan Dave.


"Rose!!" Teriak Dave menggema di sana.


Langkah Rose terhenti dan membalikkan tubuhnya, terlihat wajah pria yang selalu Rose rindukan. Jika dulu wajah itu yang membuatnya jatuh cinta tapi kini mengingat semuanya membuat Rose sakit.


Rose tidak memperdulikan Dave, dia meneruskan perjalanannya dan segera cek in ke petugas.


Tetapi cekalan yang ada di tangannya membuat Rose berhenti lagi, petugas juga hanya diam karena tidak ingin ikut campur.


"Jangan pergi." Ucap Dave lirih.


Rose menatap mata Dave dengan lekat, terlihat jika pria tersebut habis menangis.


Rose melepaskan cekalan tangan Dave, "Rose pergi dan tidaknya bukan urusan Kakak." Ucap Rose yang berlalu dari hadapan Dave.


"Maafkan aku." Ucap Dave lagi.


Rose hanya tersenyum getir, dimana pria angkuh yang tempo hari dengan arogannya memperlihatkan pemandangan yang menjijikkan di hadapan Rose.


"Aku sudah memaafkan Kakak, tetapi... tidak untuk melupakan semuanya." Jawab Rose yang sedikit terjada namun penuh penekanan.


Dave masih terpaku di tempatnya, kepalanya menoleh melihat Rose yang tetap pergi ke luar negri.


Air mata Dave kembali luruh, merasa jika dunianya sudah hancur. Dave baru akan memulai tetapi Rose sudah pergi.


Sedangkan Rose, berjalan dengan menyeka air matanya dengan kasar. Bibirnya bergetar ingin menangis tetapi dia tahan.


"Lupakan Rose, cukup kamu mengemis cinta kepadanya." Gumam Rose untuk dirinya sendiri.


.................. Lanjutkan di lapak Momy Ida ya, Best❣️