My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 42 - Kabar Baik



"Biarkan aku saja, kalian kerjakan yang lain."


Perintah Syakil sifatnya mutlak, maka dari itu, meski pekerjaan belum selesai wanita paruh baya itu memilih pergi meninggalkan ruang makan.


Syakil menatap menu sarapan pagi ini, dan sepertinya sang istri tidak akan selera hanya sarapan roti. Meski sudah sempat Amara katakan untuk tidak lagi membuat sarapan, nampaknya Syakil belum menyerah dan berpikir jika kegagalan adalah sebuah keberhasilan yang tertunda.


Kali ini dia tidak ingin berjuang sendiri, pria itu menghubungi sang mama tanpa peduli Kanaya sedang apa. Syakil berdecak sebal lantaran sang mama yang tidak jua mengangkat teleponnya.


"Hallo, Ma!!"


Biasa saja kan bisa, baru juga tersambung dia sudah berteriak memanggil Kanaya. Beruntung saja Syakil memiliki seorang mama yang kesehatannya luar masih terjaga meski sudah tua.


Hmm? Kenapa, Sayang? Mama tadi tidur, tumben telepon malam-malam begini?


Terlalu bersemangat, Syakil bahkan lupa jika ini adalah jam tidur Kanaya, sedikit menyesal namun mau bagaimana dia ingin memberikan yang terbaik untuk Amara pagi ini.


"Amara meriang, aku lupa cara bikin bubur yang benar ... Mama bisa bantu?" tanya Syakil memerika bahan makanan, memang tidak begitu sulit, namun untuk hal ini nampaknya Syakil tidak bisa jika hanya pakai insting seperti biasanya.


"Meriang? Kenapa bisa?"


Kanaya terdengar sekhawatir itu, bahkan wanita itu tersedak setelahnya. Terlalu khawatir dengan keadaan sang menantu. Heboh sendiri, Syakil memang butuh waktu sendiri dan tidak menginginkan bantuan para maidnya di saat begini.


"Bawaan bayi sepertinya," tutur Syakil jujur, dia tidak memberitahukan beritanya secara langsung kepada sang mama jika istrinya hamil, hanya saja dengan kalimat Syakil yang begini jelas saja Kanaya bahagia luar biasa.


"Maksudnya? Menantu Mama hamil?"


"Hahaha iyalah, Mama." Sama sepertinya, Kanaya juga tampak terkejut dengan berita bahagia ini.


"Yang bener?!! Syakil kamu?!!" teriak Kanaya bahkan telinga Syakil terasa sakit dibuatnya.


"Iya, Mama kenapa? Bukannya dari dulu memang menunggu cucu dariku?" Syakil tertawa sumbang, pertanyaan ini sejenis candaan karena memang Kanaya berkali-kali mengutarakan ingin punya cucu dari Syakil karena pabrik Mikhail sudah produksi berapa kali dan Syakil belum memperlihatkan tanda-tandanya waktu itu.


"Ya, Tuhan ... ka-kamu nggak ngarang kan?!"


"Nggak, ini memang benar-benar terjadi, Amara hamil seperti yang Mama inginkan sejak awal pernikahan kami."


Syakil menatap nanar ke luar jendela, membayangkan bagaimana reaksi sang mama saat ini. Mungkinkan dia melompat-lompat dari tempat tidur atau berjoget seperti mendengar pengumuman kelulusan sang putra dahulu dahulu kala.


"ALHAMDULILLAH! MAMA BAKAL PUNYA CUCU DARI ANAK MAMA YANG PALING WARAS INI, EMUAAACH!!"


Syakil hanya terkekeh mendengar ungkapan bahagia sang Mama, hanya saja Syakil tengah menunggu respon sang papa yang sejak tadi belum juga dia dengar.


"Astaghfirullahaladzim, Kanaya!! Kamu ngapain loncat-loncat begini?"


"Papa?"


Baru saja dipikirkan suaranya sudah terdengar oleh Syakil, nampaknya kelakuan sang mama tertangkap basah oleh Ibra hingga membuat pria itu sampai istighfar.


"*Aku ganggu ya, Mas? Aku loncatnya nggak kuat kok, maaf."


"Masih tanya? Tulangmu apa nggak sakit? Sudah tua persis anak kecil begitu, ingat cucumu itu sebentar lagi lima*!!"


Omelan sang papa terdengar gurih di telinga Syakil. Baru juga beberapa minggu meninggalkan mereka, akan tetapi kenapa kerinduan ini sudah begitu terasa, pikir Syakil.


"Benarkah?"


Agenda masak-masak Syakil kini justru tertunda. Tampaknya kedua orang tuanya terlalu bahagia, Kanaya bertanya banyak hal tentang Amara. Sang papa yang awalnya terdengar kesal lantaran Kanaya heboh sendiri kini mengalihkan panggilan video demi bisa menyapa menantunya secara langsung.


"Be-besok saja, Pa ... tadi Amara tidur, aku nggak tega ganggu dia."


Jelas saja Syakil bohong, dia khawatir sang papa menyadari kejanggalan pada istrinya. Lebih baik dia mencari jalan aman lebih dulu, Syakil belum mau bunuh diri tentu saja.


"Yaaah padahal Papa dan Mama merindukan dia, Kil." Ibra menghela napas pasrah kala Syakil tidak bisa mengabulkan keinginannya.


Merasa tidak punya pilihan Ibra menyerah dan membiarkan Kanaya lanjut membantu putranya untuk menyiapkan sarapan pagi Amara, dahulu dia sempat menolak kehadiran Amara, namun setelah melihat bagaimana bahagianya Syakil setelah bersama Amara, Ibra berubah pikiran.


.


.


.


Beberapa waktu dia menunggu, pengorbanan pagi ini cukup banyak. Bahkan tangan Syakil terbakar namun berusaha tidak begitu dia pedulikan. Setelah cukup lama bergelut di dapur, Syakil kembali ke kamar dengan membawa semangkuk bubur mahakarya dirinya bersama sang mama sebagai pemberi arahan.


Sengaja dia memilih bubur ayam meski biasanya sarapan semacam itu tidak tersedia di kediamaannya setiap pagi.


"Makan ya ... kata Mama harus tetap makan walau nggak enak."


Ekspresi wajah Amara sepertinya terlalu terbaca hingga membuat Syakil sadar diri ketika hendak menyuapi Amara. Entah karena perasaan tidak nyaman akibat kepala pusing atau penampakan bubur itu membuat selera Amara semakin kacau, dia juga tidak mengerti.


"Aku kenyang," tolaknya lembut, perutnya benar-benar tidak menerima apapun sepertinya.


"Kenyang? Kamu belum makan apa-apa, Ra ... bahkan tadi malam kamu nggak makan kan?"


Amara tampak mengingat, tadi malam memang dia belum sempat makan namun sudah dihajar sang suami, dan hingga pagi ini perut Amara sama sekali tidak merasakan lapar.


"Tapi buburnya buat mual, aku nggak mau."


Meski takut Syakil tampar, Amara tetap menolak karena dia ragu hidupnya akan baik-baik saja setelah menelan bubur itu.


"Makan walau sedikit, pikirkan bayi kita."


Syakil tidak menyerah meski Amara menolak. Dia sangat yakin masakannya kali ini tidak gagal karena dia didampingi master off bubur ayam dari indonesianya langsung, pikir Syakil.


"Aaaaaa." Persis seperti menyuapi balita, Syakil selembut itu dan membuat Amara luluh kemudian.


Diluar dugaan, ini enak sekali. Amara bahkan menatap ragu sang suami dan sedikit tidak percaya jika yang membuat sarapan kali ini adalah dirinya sendiri.


Satu suap, dua suap, tiga suap dan hingga kini satu mangkuk penuh habis dalam hitungan menit. Amara tidak sadar jika mulutnya menerima setiap suapan Syakil, dan kini wanita itu menjadi alasan Syakil tak hentinya tersenyum pada Syakil.


"Lapar, Bu?" tanya Syakil yang kemudian membuat sang istri menyembunyikan wajah bersemu merahnya.


-Tbc-


Muach