My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 78 - Bulan Dikekang Malam.



"Ck, ya sudahlah ... aku mandi dulu, tadi meeting sama Daniel, dia bawa wanita yang berbeda dari yang dulu ... dasar nakal, koleksi wanitanya banyak sekali," tutur Syakil sembari beranjak dan kini membuka kancing kemejanya, berbicara sendiri padahal Amara sama sekali tidak bertanya.


"Kamu bilang apa?"


Syakil diam, sengaja menjauh dengan dalih meletakkan jam tangan ke atas nakas. Sengaja mengarang bebas demi melihat bagaimana respon sang istri, meski tau yang dia dapat hanya amukan, namun itu rasanya lebih baik dari pada Amara hanya diam tanpa mengucapkan sesuatu.


"Sayang ... kamu rada tuli ya sekarang?"


Syakil menarik sudut bibir, telapak tangannya mendarat sempurna di pundak Syakil. Sakit? Jelas saja, akan tetapi dengan cepat dia mearik pergelangan tangan sang istri.


"Sepertinya, terlalu lama tidak mendengar suara indahmu jadi begini." Syakil mengedipkan matanya, sepertinya memang harus dia yang berusaha sendiri jika ingin romantis begini.


"Suara apa? Dari kemarin-kemarin kita selalu bicara berdua," ujar Amara singkat sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Syakil, sungguh pria ini terkadang sedikit menyiksa.


Amara memang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti Syakil juga bingung. Akan tetapi, saat ini sepertinya Amara sedang tidak suka untuk bercanda ke arah sana.


"Ehem, bisa bantu bukain gak? Tanganku sakit," tutur Syakil datar tapi harapannya untuk diperlakukan begitu manis masih ada.


"Sakit kenapa? Kan tangan kanan kamu nggak kenapa-kenapa," balas Amara malas, dia bukan tidak peduli Syakil. Hanya saja ada perasaan kesal yang masih bersemayam hingga dia malas untuk bersikap hangat seperti yang Zia ajarkan.


"Sakit juga, tadi terlalu banyak tanda tangan ... jemariku keram."


Seribu pertanyaan Amara masih akan dia temukan jawabannya. Syakil menatapnya penuh harap, sungguh dia persis pengemis kali ini. Akan tetapi pria itu benar-benar enggan melakukannya jika bukan atas bantuan Amara.


"Banyak alasan, sini."


Amara mendekat, dari jarak begini keduanya bisa saling menatap. Bersikap biasa saja meski sang suami mulai memainkan jemarinya, sudah menjadi kebiasaan jika Amara membuka dasinya dia juga berinisiatif mendaratkan tangannya di beberapa titik tubuh sang istri.


"Perut kamu mulai kelihatan, kalau sudah besar apa nggak berat?" tanya Syakil penasaran, pertanyaannya terdengar asal tapi itu nyata.


"Entahlah, kalau misal berat gimana? Kamu mau gantian?"


Jawaban yang sukses membuat Syakil menarik sudut bibir. Bisa saja dia menjawab, istrinya tidak terlihat bercanda. Namun, jawaban spontan Amara kerap kali berhasil membuat dia tersenyum tiba-tiba.


"Kalau bisa ... aku saja sekalian yang melahirkan," jawab Syakil serius, drama kelahiran putra putri Mikhail cukup menjadi kacamata bagi Syakil jika perjuangan seorang ibu luar biasa menyakitkan.


Lama terdiam, Amara fokus pada bekas luka yang kini sudah mengering. Andai saja Ganeta tidak gila, ingin rasanya dia membalaskan sakit yang Syakil rasa. Benar-benar tidak ikhlas rasanya, Amara murka tiap melihat goresan di tubuh Syakil.


"Masih perih?" tanya Amara datar seraya menyentuhnya dengan ujung jemari, ingin rasanya dia tekan seperti kemarin. Hanya saja, semua luka yang dia terima bukan keinginan Syakil sebenarnya.


"Enggak, su-sudah sembuh."


Syakil tidak mau bunuh diri, jika dia menjawab masih bisa dipastikan Amara akan mengobati lukanya lagi. Tentu saja wanita itu akan sedikit emosi dan Syakil tidak siap menerima, sungguh.


"Tapi yang ini belum." Dia menunjuk bekas gigitan Ganeta di sana, setajam apa giginya hingga bisa merobek kulit Syakil dalam waktu sesingkat itu.


"Sembuh, Sayang ... jangan khawatir."


Baiklah, Amara takkan memaksa. Dia paham makna tatapan Syakil yang terlihat bergetar ketika Amara membahas lukanya. Mungkin khawatir jika nanti Amara mengobatinya dengan cara yang tidak biasa.


"Mandi sana, atau mau barengan?" Amara menawarkan diri, ini kesempatan emas tapi Syakil berpikir dua kali.


"Sendiri saja, nanti kita mandinya nggak cukup sati jam kalau sudah berdua ... kamu nggak boleh masuk angin, Sayang."


Alasan saja sebenarnya, jika bukan karena kemarin mungkin Syakil yang akan memaksanya mandi bersama. Akan tetapi, mengingat luka di kulitnya masih rentan Syakil lebih baik menahan diri lebih dulu.


.


.


.


Malam menjelang, dewi malam berkuasa memecah kegelapan. Bersinar begitu menawan bersamaan dengan gemerlap bintang, damai dan menyejukkan.


Sudah beberapa menit, Syakil memandangi langit malam. Amara bingung, kenapa suaminya begitu menyukai langit malam.


"Tumben malam ini di sini mulu ... nggak betah di kamar ya?"


Terlalu lama menunggu Amara memutuskan untuk menghampiri sang suami. Sejak tadi Syakil selalu mendongak, apa lehernya tidak sakit, pikir wanita itu.


"Bulannya cantik, kita harus nikmati."


"Hm cantik, berarti bulannya perempuan ya?" tanya Amara yang juga mengagumi keindahan sang dewi malam itu, memang indah pada faktanya.


"Mungkin saja, maka dari itu dia cepat sekali berubah ... nggak bisa ditebak, persis kamu," tutur Syakil seraya mengulas senyum hangatnya, perubahan suasana hati sang istri luar biasa cepatnya. Perumpamaan paling pas ialah bentuk bulan, Syakil sembarang menganalogikan.


"Apa aku begitu?"


Memang benar wanita terkadang lupa diri, sama sekali tidak menyadari keadaan dan bagaimana dirinya. Mata polos dan bibir mungil itu membuat Syakil terlampau gemas.


"Iya, kira-kira begitu."


Hanya hembusan napas perlahan dia berikan, Amara sebenarnya menyadari jika suasana hatinya mungkin saja membuat Syakil bertanya-tanya. Akan tetapi, hal itu terjadi secara alami dan dia sendiri bingung kenapa secepat itu kesal ketika melihat wajah Syakil.


"Kamu tertekan aku begitu?" tanya Amara penuh sesal, ya sesekali dia memang sadar namun tidak selamanya tentu saja.


"Nggak, bagaimanapun kamu ... aku tetap cinta," ucapnya seakan rayuan pria biasa, akan tetapi kali ini berbeda karena memang pada nyatanya Syakil mencintai Amara bagaimanapun sikapnya.


Suasana malam ini sangat mendukung jika Syakil mau mencuri kesempatan. Amara yang terlihat diam dan membalas tatapannya jelas takkan menolak jika dia menghadiahkan satu kecupan saja.


"Tidur yuk, aku ngantuk."


Terlambat, Syakil terlalu lama memandanginya. Pria itu kehilangan kesempatan, sang istri menarik pergelangan tangannya dan memaksa pria itu untuk berbaring segera, sudah larut malam dan Syakil tetap saja


Meninggalkan manisnya pasangan pengantin itu, jauh dari mereka di bawah langit yang sama ada satu wajah yang sejak awal malam datang sudah menengadah menatap langit.


Senyumnya takkan usai, tangannya berusaha menggapai namun terhalang jendela kaca nan tebal itu. Di antara sejuta hal yang dia lupakan, Ganeta tetap mengingat langit malam.


Mungkin yang terganggu otaknya saja, namun hatinya masih bisa bicara. Dia masih bisa menangis dan tertawa ketika merasakan hal berbeda ketika melihat sesuatu, dan malam ini sapaan dewi malam bersamaan dengan senyum sejuta bintang menghadirkan garis tipis di wajahnya.


"Purnama ... kamu suka?"


"Agha yang suka, Ganeta suka bintangnya."


Tunggu, Kendrick tidak salah dengar? Malam ini dia menjawab meski tidak menatap. Kemarin-kemarin dia benar-benar bungkam, baru malam ini Ganeta menjawab pertanyaan dengan suara yang luar biasa langka bagi Kendrick.


-Tbc-