
Pasca pertengkaran yang menjadi warna asing pertama dalam rumah tangga mereka itu usai, Syakil berhasil membuat istrinya sedikit lebih tenang keesokan harinya.
Sore itu keduanya tengah menghabiskan waktu di luar rumah. Demi menuruti keinginan sang istri yang mengatakan jika dia merindungan angin segar Syakil rela menghabiskan waktu di tempat keramaian seperti ini.
Sebagaimana orang penting di luar sana, ada saja yang mengusik waktu berdua pasangan ini. Amara mencebik kala Syakil menerima panggilan telepon yang berkali-kali sejak lima menit berlalu.
"Tapi istriku belum sembuh total, apa tidak bisa diundur saja, Ken?" Kening Syakil berkerut dan merasa keberatan dengan pemberitahuan dadakan sang asisten padanya sore ini.
"Tidak bisa, Tuan ... Daniel sudah datang jauh-jauh dan saya sudah mengiyakan ajakannya sejak satu minggu lalu," balas Kendrick yang berhasil membuat kepala Syakil berdenyut, kebiasaan sekali mengiyakan ajakan seseorang padahal dia sendiri tidak mengetahui hal ini sama sekali.
"Hm, kalau begitu aku datang sendirian saja," tutur Syakil menatap Amara yang tengah berusaha mencuri dengar pembicaraan sang suami bersama asisten pribadinya itu.
Biasanya Syakil mudah saja menerima karena tidak ada yang perlu dia pikirkan. Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk mulai mengenalkan sang istri kepada rekan bisnis sebenarnya, akan tetapi jika dia membawa Amara nanti malam Syakil khawatir justru menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Siapa?"
"Ken, nanti malam aku harus memenuhi undangan makan malam bersama rekan bisnisku ... aku tinggal lagi malam ini nggak apa-apa ya?"
Pertanyaan ini sebenarnya sedikit tak tega Syakil utarakan, semenjak kembali ke sini ada saja yang membuat dia berpisah dengan Amara dan waktu berduanya bersama sang istri sedikit terpotong.
"Aku ikut."
Entah kenapa kali ini Amara tidak mengiyakan ucapan Syakil. Dia merasa perlu mengetahui bagaimana sang suami dan dunia kerjaannya, jujur saja Amara merasa Syakil membingungkan dan waktu sang suami seakan habis untuk kerja semata.
"Hm? Yakin ikut?"
Syakil tidak keberatan sama sekali sebenarnya, bahkan dia memang berencana untuk membawa serta Amara nanti malam. Kini, sang istri justru menawarkan diri seolah tidak mau berjauhan dari sang suami.
"Yakin, boleh kan?"
Pria itu mengangguk, memang ini yang dia mau sebenarnya. Hanya saja, tanda kemerahan yang belum pudar itu akan menjadi bencana jika seseorang menyadarinya, jelas saja citra Syakil sebagai pria akan jatuh di mata rekan bisnisnya nanti.
"Tapi kamu masih meriang, Sayang ... lukanya juga belum sembuh, kalau aku ya senang-senang aja kamu ikut," tutur Syakil menatap istrinya ragu, entah atas alasan apa Amara justru meminta izin untuk ikut.
"Kan bisa ditutupin pakai syal atau jaket gitu, kalau perlu aku pakai hijab sekalian biar ketutup semua," ujar Amara sebegitu niatnya ingin ikut serta sang suami malam ini, dia bukan tipe wanita yang takut kehilangan laki-laki, namun kali ini berbeda dan dia merasa kemanapun suaminya pergi dia harus turut serta.
Syakil menarik sudut bibir, melihat Amara yang begitu bersemangat ingin berada di sampingnya membuat hati pria itu menghangat.
"Senyamannya kamu, kebetulan Daniel juga bawa pacar."
Beberapa kali Syakil kerap menjadi obat nyamuk bersama Kendrick dan jujur itu cukup membuatnya muak. Melihat jarum jam yang kian sore, Syakil memutuskan untuk pulang agar persiapan mereka tidak terlalu buru-buru.
.
.
.
Masih cukup lama, bahkan Syakil saja masih sibuk di ruang kerja. Akan tetapi, Amara sudah selesai mandi dan tengah memilih baju mana terbaik untuk mendampingi Syakil malam ini.
"Jangan sampai dia malu."
Sebenarnya tujuan Amara mengikuti kemana Syakil malam ini hanya satu, was-was saja sebenarnya pertemuan pria muda biasanya takkan murni hanya berbincang biasa. Entah kenapa otak Amara semakin tidak bisa berpikir jernih terutama kala menyadari Syakil belum selesai dengan masa lalunya.
"Masa hitam, kan bukan mau ngelayat."
"Yang mana saja, asal jangan terbuka," tutur Syakil mengecup pundak Amara sekilas, bukan hanya bermaksud menyembunyikan tanda kemerahan itu melainkan memang dia juga akan melakukan hal sama sekalipun Amara baik-baik saja.
Hanya makan malam biasa, tapi persiapan Amara sudah seperti hendak menghadiri acara penting saja. Sekuat itu dia berusaha agar suaminya bangga dan tidak punya alasan untuk pergi darinya.
"Jangan terlalu cantik, Daniel sedikit mata keranjang, Amara."
Apa urusannya? Lagipula tadi Syakil mengatakan jika dia sudah memiliki kekasih, kenapa Syakil khawatir ke arah sana, pikirnya.
"Iya," jawab Amara memilih memperkecil masalah, dia tidak ingin membuat Syakil merasa ditentang kali ini.
Sementara Syakil membersihkan diri, dia mengeluarkan kemampuannya yang masih begitu pemula dalam memoles wajah cantiknya. Amara menatap penuh ketelitian setiap inci wajahnya dan mulai mengeksekusi dengan niat memberikan hasil terbaik agar Syakil tidak berpaling.
"Selesai," ucap Amara memberikan sentuhan terakhir bulu mata palsu di sana, ini adalah kali pertama dia menghias diri berbekal dengan ilmu yang selama ini dia peroleh dengan menonton beberapa konten beauty creator.
Di saat yang sama Syakil yang sudah tampak segar dan mengusap rambutnya dengan handuk kecil menghampiri.
"Om my gosh, Amara!!"
Syakil menghentikan langkahnya, matanya menatap lekat ke arah sang istri. Nampaknya Syakil terpukau dengan hasil karya Amara, tidak salah jika dia mempraktekan make-up bold yang dia sesuaikan dengan tempat dimana dia berada saat ini.
"Bagaimana?" tanya wanita itu dengan menampilkan senyum terbaiknya, jika dilihat dari ekspresi Syakil yang bahkan menggeleng dengan mulut terbuka itu tampaknya kecantikan Amara sudah mengalahkan model internasional.
"Belajar dari mana dandan begini? Kemampuanmu bahkan lebih buruk dari bocah SMA ... warna bibirmu ya, Tuhan, persis nenek sihir, Ra."
Amara menekuk wajahnya, dia pikir Syakil tengah memujinya. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Pria itu mendekat dan menghapus total make-up Amara, tetap berhati-hati dan berusaha agar istrinya tidak kesakitan.
"Bulu mata? Astaga, Sayang. Sudah kukatakan jangan terlalu cantik, kamu nggak perlu begini."
Syakil bicara selembut mungkin, kemampuan Amara dalam memoles wajahnya benar-benar masih level dasar. Bukan hanya perlu diasah akan tetapi sepertinya Amara perlu belajar memadukan warna lebih dulu, istrinya tidak jelek, hanya saja mata Syakil merasa terganggu dengan melihat hasilnya.
"Kenapa kamu hapus? Kan sesuai tempatnya, kalau cewek barat memang begini," tutur Amara membela diri, rasanya dia tidak salah dan sudah memilih video tutorial yang paling pas dengan kondisinya saat ini.
"Kamu bukan cewek barat, sini aku saja yang lakukan. Wajah kamu itu cocoknya Korean Look, Amara."
Baiklah, sepertinya bakat Syakil dibidang beginian lebih baik daripada memasak. Masih dengan mengenakan handuk, Syakil sudah turun tangan untuk membuat sang istri tampil natural namun tetap cantik malam ini.
Dengan penuh ketelitian Syakil menggoreskan alat-alat make-up yang sebenarnya sedikit aneh untuk pria yang terjun di dunia bisnis sepertinya, entah belajar dari mana namun memang kemampuan Syakil patut diacungi jempol. Apa yang dia lakukan ini jelas saja tidak gratis, ada bayaran yang harus dia terima setelah ini.
"Amara." Syakil menatap lekat wajah Amara yang begitu dekat dengannya, setiap inci wajahnya mendekati kata sempurna dan melakukan hal ini amat menyenangkan bagi Syakil.
"Iyaa, kenapa?" tanya Amara berusaha untuk tidak bergerak agar hasil karya Syakil tidak berantakan.
"Jangan lupa, ini hari senin ... setor votenya, melakukan ini butuh perjuangan."
-Tbc-
Setor-setor, bayarin biaya Amara nyalon sama Bebeb Syakil cyn✨
Ohayu, hai-hai bestie kuu✨ Hari ini author bawa rekomendasi dari salah satu teman author. Mampir ya sementara Syakil up❣️