
"Yakin tinggal sendiri?"
Ganeta mengangguk mantap, dia tidak ingin pulang setelah kondisinya membaik. Alhasil, wanita itu memilih untuk tinggal di sebuah Apartement di pinggiran kota, sengaja sedikit menjauh agar hidupnya sedikit lebih tertutup.
"Tapi kenapa harus di sini, Ganeta? Jauh sekali ... apa tidak cari lain saja, yang lebih dekat dengan Amara atau orang tuamu?"
Ganeta menggeleng, dia memutuskan untuk benar-benar sendiri saat ini. Memulai hidup sebagai dirinya sendiri, tanpa genggaman dari pihak lain.
Dia tidak ingin mengusik, tidak juga ingin diusik. Amara sudah berumah tangga, sementara suami adiknya adalah seseorang yang pernah menjalin ikatan cinta. Ganeta hanya tidak ingin memperbesar kesempatan keduanya untuk merasakan luka, baik dia maupun Amara.
Uang dari Amara cukup untuknya beberapa waktu, Syakil juga mengizinkan dia memilih jalan hidupnya. Akan tetapi, saat ini justru Kendrick yang tampaknya tidak siap dengan hal ini.
"Kenapa wajahmu?"
"Tidak, hanya saja aku jadi sulit mengunjungimu ... apa tidak masalah?"
Bagi Ganeta mungkin tidak masalah, akan tetapi bagi Kendrick itu sangat-sangat masalah. Tidak ada ikatan dalam hubungan mereka, akan tetapi Kendrick memposisikan diri sebagai segalanya untuk Ganeta.
"Tidak masalah, sudah kukatakan jangan terlalu memikirkan aku. Kamu punya kesibukan sendiri, pekerjaan juga harus diutamakan. Aku sama sekali tidak masalah, Ken."
Jawabannya sedikit mengecewakan, padahal Kendrick berharap Ganeta akan menjawab berbeda dan memperlihatkan jika dia keberatan berpisah dari pria itu. Akan tetapi, sepertinya keadaan tidak begitu baik kali ini.
"Pulanglah, hari sudah hampir malam ... cuaca belum tentu baik nanti malam," titah Ganeta dengan senyum hangatnya.
Pria itu sudah cukup banyak menghabiskan waktu bersamanya hari ini. Sementara batin Kendrick masih menolak dan ingin menetap bersama Ganeta. Ternyata benar, saudara kembar cenderung akan sama di beberapa sisi. Terbukti dengan sikap Amara dan Ganeta yang sama-sama tidak begitu bergantung pada lelaki, terutama jika mereka belum memiliki kedekatan yang berbeda.
Bukannya beranjak pergi, Kendrick justru duduk di sisi Ganeta. Dia melihat pergelangan tangan kirinya, memang sudah seharusnya dia pulang. Akan tetapi, dia masih ingin tetap di sini hingga akhir. Bahkan jika bisa setelah matahari terbit esok harinya.
"Lima belas menit lagi, aku masih ingin bersamamu."
Pria itu kemudian bersandar demi menghilangkan rasa lelahnya. Ganeta yang sejak tadi memang duduk di sofa itu hendak beranjak lantaran merasa aneh duduk begitu dekat begini. Padahal, di rumah sakit terkadang Kendrick tidur di sisinya tanpa wanita itu sadari.
"Mau kemana?"
Ganeta mendadak gugup kala tangan kekar itu mencekal pergelangan tangannya. Hendak dia tepis namun Kendrick justru menariknya hingga kembali duduk di sana.
"Minum," jawabnya singkat, padat dan jelas saja berbohong.
"Yang di meja apa kalau bukan minum?"
Ganeta mati kutu, air yang tadinya Kendrick siapkan belum habis semua. Pria itu tersenyum tipis mendapati Ganeta yang terlihat kaku begini.
"Kamu menghindariku?" tanya Kendrick pada intinya, pertanyaan yang sontak membuat Ganeta gelagapan. Pria itu hanya tersenyum simpul ketika Ganeta tampak berusaha mencari alasan lain.
"Bukan begitu."
"Lalu apa? Kenapa menghindariku? Kita sudah menghabiskan waktu yang cukup lama, apa kamu tidak nyaman berdua bersamaku, Ganeta?"
Bukan begitu, dugaan Kendrick salah besar. Nyaman sekali sebenarnya, bahkan Ganeta merasa lebih aman jika ada Kendrick di sisinya. Akan tetapi, kali ini dia merasa berbeda dan cara Kendrick juga tidak sama seperti kala dia merawat Ganeta di rumah sakit.
Merasa bingung hendak menjawab apa, Ganeta memilih diam dan menunduk begitu saja. Genggaman tangan Kendrick masih dia rasa begitu eratnya, hingga akhir tampaknya tidak akan berubah.
.
.
.
Untuk pertama kalinya, Kendrick berani menatapnya berbeda. Penuh damba dengan detak jantung yang tidak senormal biasanya, sejak dulu sebenarnya. Akan tetapi, selama ini Kendrick tidak begitu memperlihatkan tatapannya sebagai laki-laki di hadapan Ganeta.
"Apa bintangnya masih dia?"
Pertanyaan Kendrick tiba-tiba jadi serius begini, Ganeta masih membisu dan tidak menjawab pertanyaan Kendrick dengan cepat seperti biasa.
"Jawab aku, apa masih sama?"
"Aku tidak tahu, jangan bertanya tentang itu," tolaknya kemudian, dia sedikit sebal karena Kendrick berhasil membuat jantungnya seolah hendak pindah dari tempatnya.
"Aku berhak tahu, Ganeta ... jika memang masih dia, izinkan aku yang menggantikannya dalam hidupmu."
Kalimat manis yang begitu Ganeta rindukan sebenarnya. Empat tahun lalu Syakil juga mengatakan hal ini, akan tetapi saat ini posisi Kendrick memang lebih sulit.
Tidak ada jawaban dari Ganeta, dia mungkin belum siap untuk kembali berurusan dengan hati. Akan tetapi di sisi lain dia juga butuh sosok pengganti, secepat itu matanya membasah. Ucapan Kendrick berhasil membuatnya melemah, dengan mata yang kini mengembun Ganeta memberanikan diri menatap balik Kendrick.
Pandangan keduanya sesaat terkunci, Kendrick perlahan mengikis jarak. Berani sekali, Kendrick sebelumnya tidak terpikir melakukan hal ini sama sekali.
"Kamu boleh menolak jika memang tidak meninginkanku, Ganeta."
Sesaat sebelum dia mengecup bibir Ganeta, Kendrick memberikan pilihan yang sama artinya sebagai jawaban atas pengakuan Kendrick. Awalnya hanya sebatas kecupan singkat, hingga perlahan berubah menjadi lummatan yang dia berikan begitu lembut.
Hatinya memanas, Kendrick menuntut lebih hingga lummatan itu kian memanas, terlebih lagi ketika Ganeta pasrah menerima tanpa memberikan penolakan sama sekali. Cukup lama Kendrick melakukannya, hingga dia baru berhenti ketika menyadari Ganeta memukul dadanya berkali-kali.
"Aku anggap kamu menerimaku," ucapnya dengan sudut bibir yang tertarik hingga membentuk lengkungan manis di wajahnya.
Ganeta menarik napas dalam-dalam, dia menatap kesal Kendrick yang berhasil membuatnya sesak. Meski dia kesal sama sekali Ganeta tidak menolak kala Kendrick mengusap bibirnya yang basah dengan jemari.
"Aku pulang, besok pagi aku kembali ... kamu tidak takut sendirian kan?" tanya Kendrick masih menatap Ganeta penuh damba, pria itu mengusap pelan pipi Ganeta hingga wanita itu dibuat luluh untuk kali kesekian.
Dasar egois, setelah berhasil membuat hati Ganeta tidak karuan tiba-tiba dia pamit pulang. Ganeta hanya menatap sebal Kendrick yang kini tampak mengenakan jaketnya, ingin dia tahan tapi bingung sendiri bagaimana caranya.
"Jika butuh apa-apa telepon saja aku, makan malammu sudah siap ... jangan lupa dihangatkan lebih dulu," ucapnya kemudian sedikit menunduk dan kembali mendaratkan kecupan di kening Ganeta, jelas saja hal itu berhasil membuatnya semakin menggila.
Dengan berat hati, Ganeta mengangguk patuh. Akan tetapi, baru saja hendak beranjak tetesan air hujan tiba-tiba menghujam dari balik awan hitam itu. Ganeta tersenyum tipis, sementara Kendrick tampak menghela napas lantaran hujan yang kini turun benar-benar lebat disertai angin yang mungkin akan membuatnya kesulitan mengemudi.
"Tidur di sini saja," ucap Ganeta yang membuat Kendrick mengerutkan dahi, sejak awal Ganeta yang meminta dia pulang, kini justru sebaliknya.
"Apa boleh?"
"Hm, kamu tidur di sofa ... kamarnya hanya ada satu," ucap Ganeta kemudian, tidak peduli tidur dimana selagi masih satu atap Kendrick jelas saja menerima.
"Baiklah jika kamu memaksa, aku tidak akan pulang."
- To Be Continue -