My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 37 - Bakat Terpendam Syakil.



Bias cahaya menelusup dibalik tirai jendela. Seperti biasa jika sudah dibuat tak berdaya oleh sang suami di malam hari, maka Amara akan terbangun sendirian tanpa kehadiran Syakil.


Amara mengerjap pelan, butuh beberapa waktu untuknya mengumpulkan nyawa. Wanita itu menghela napas perlahan kala sisinya sudah kosong dan tidak lagi ada Syakil di sana.


Romantis sekali hubungan ini, bayangan Amara tentang kecupan pagi hari ketika dia membuka mata ternyata hanya sebatas harapan belaka. Sering kali, bahkan hampir setiap bangun pagi Syakil akan meninggalkannya sendirian begini.


"Hoam, pinggangku lama-lama bisa retak sepertinya," gerutu Amara mengelus pinggangnya kemudian, umurnya bahkan belum seperempat abad. Bisa-bisanya sudah menderita nyeri pinggang begini, apa karena terlalu banyak gaya tadi malam? Entahlah, rasanya hal semacam itu wajar saja dilakukan pengantin baru.


Meski bukan di dalam pengawasan mertua, Amara tetap harus segera beranjak dari tempat tidur. Ini saja sedikit terlambat sebenarnya, bisa dipastikan sarapan sudah siap padahal Amara telah berjanji bahwa hal semacam itu akan menjadi tanggung jawabnya.


Amara mengenakan pakaian yang semalam asal-asalan. Wanita itu mencari keberadaan Syakil yang kemungkinan besar berada di dapur, ya memang pria itu biasanya akan masak meski tidak begitu pandai sebenarnya.


"Sudah kuduga, dia haus pujian atau bagaimana?"


Amara mendekati sang suami yang tengah sibuk menyiapkan sarapan. Berjalan tanpa peduli jika dia tidak mengenakan bra, sontak Syakil berlari dan melepaskan perkerjaannya.


"Amara!!"


"Kenapa?"


Syakil yang tiba-tiba mendekapnya jelas saja membuat Amara kaget. Ini bukan pelukan selamat pagi, melainkan dekapan penuh rasa takut.


"Kamu nggak malu begini? Di rumah ini bukan cuma aku hei, kumpulkan dulu nyawanya baru keluar kamar," tutur Syakil sedikit berbisik dan meminta Amara untuk menoleh sebentar.


"Kenapa dia ada di sini?"


Amara ketar-ketir kala menyadari asisten pribadi suaminya tengah berdiri di sudut ruangan persis kucing kehujanan. Di antara banyak tempat kenapa harus dipojokan, pikir Amara.


"Tetap menunduk, Kendrick ... sudah kukatakan kau tunggu di luar."


Nada bicaranya sedikit meninggi, asistennya memang kepala batu dan berhasil membuat Syakil naik darah juga pada akhirnya. Terbiasa selalu ada di sisi Syakil, dan kebetulan ketika hendak pergi ke kantor bosnya tengah menyiapkan sarapan. Atas alasan tersebut Kendrick menunggu dan khawatir Syakil butuh bantuan nantinya.


"Saya tidak melihat apa-apa, Tuan. Mata saya rabun jauh, tenang saja."


Alasan yang jelas saja dibuat-buat, asistennya mendekati sempurna. Bahkan memiliki ketelitian super tinggi, bisa-bisanya untuk Nyonya rumah ini dia rabun jauh.


"Ck, alasan ... kau tunggu saja diluar, aku sebentar lagi."


Sebenarnya ini belum terlalu siang, hanya memang sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya. Syakil sepertinya butuh banyak waktu di rumah jika sudah memiliki istri.


Terpaksa, meski sedekat apapun hubungan keduanya. Kendrick tidak bisa berkuasa kala Syakil memerintahkannya keluar demi sang istri.


"Dia setiap hari begitu? Dimana-mana kamu dia ikut kecuali malam hari?" tanya Amara kala Kendrick sudah berlalu dan tidak lagi terlihat tanda-tanda kehidupannya.


"Hm, karena memang tugasnya."


What? Mendadak Amara semakin geli. Hubungan sedekat itu dan di sini tidak ada wanita muda, Syakil benar-benar tidak tertarik pada wanita sepertinya.


"Tugasnya? Kemana-mana berdua, kamu nggak geli?" tanya Amara frontal karena sebenarnya dia sendiri sudah geli sejak awal melihat interaksi mereka berdua.


"Kenapa pertanyaanmu begitu? Selagi dia mampu diandalkan sah-sah saja kan, Sayang?" Masih dengan senyum terbaiknya, Syakil mengusap pelan puncak kepala Amara.


"Iya tapi kan...." Asisten mana yang bertemu dengan atasannya sampai berpelukan, dan anehnya Syakil tidak menolak perilaku Kendrick saat itu.


"Tapi apa? Kamu mikirnya apa?"


"Aneh," celetuk Amara sembari menghela napasnya pelan.


Pria itu terkekeh geli, nampaknya dia paham apa isi otak Amara yang sejak kemarin sudah resah dengan keberadaan asisten pribadinya.


"Nggak gitu juga maksudnya."


Serba salah, padahal keresahannya memang begitu sejak awal. Akan tetapi ketika Syakil sudah bicara terang-terangan mendadak Amara bingung sendiri.


"Aku paham isi otakmu, kamu bukan orang pertama yang berpikir begitu, tapi yang paham seberapa tulennya aku sebagai laki-laki ya cuma kamu," ucapnya sembari menarik sudut bibir, tak lupa kedipan maut yang selalu dia berikan yang berhasil membuat Amara mengerjap beberapa kali.


.


.


.


.


"Ayo sarapan, aku hampir terlambat ... kamu di rumah saja dulu, lakukan semua yang kamu mau kalau nanti bosan."


"Ini sarapannya?"


Sudah bayar mahal para pelayan yang seharusnya bisa menyiapkan sarapan, Syakil justru coba-coba ingin membuat istrinya bahagia lagi dan lagi di pagi ini. Sayangnya, Syakil tidak sadar diri jika kemampuannya memasak harus diasah berkali-kali lebih dahulu.


"Iya, kenapa?"


"Besok-besok aku saja," tutur Amara merasa sedih melihat mahakarya Syakil yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi, sejak dulu selalu berusaha dan memang hasilnya kadang membuat lidah Amara kaget.


"Kenapa begitu? Kata Mama aku memiliki bakat terpendam dibidang ini yang harus aku asah," ujar Syakil tak terima mendengar ucapan Amara sebelumnya.


Bakat terpendam yang lebih baik dipendam hingga tenggelam. Di antara keegoisan Syakil sepertinya memang ini yang paling tidak bisa diselamatkan, sejak di rumah mertuanya Amara sudah mengatakan dia saja yang menyiapkan sarapan tapi tetap saja pembangkang.


"Jangan khawatir karena tampilannya, tingkat kematangannya memang begini." Dia membela diri lantaran roti itu sudah hitam di salah-satu sisinya.


"Tingkat kematangannya apaan? Ini mah gosong," ucap Amara pasrah namun masih dia makan juga, dia memang semua di makan tapi bukan berarti akan siap dia telan jika sudah begini.


"Amara, jangan mencela makanan ... kata Papa itu nggak baik dan jadi pemutus rezeki kita, Sayang. Coba kamu bayangkan, berapa banyak orang yang mungkin nggak bisa makan hari ini."


"Aku nggak mencel_"


"Shuut, makan saja ... nggak baik berdebat di depan makanan," tambah Syakil memotong pembicaraan Amara.


Wanita itu mengangguk pasrah dan menghela napas pelan. Amara bingung sendiri kenapa Syakil selalu berakhir ceramah dan tentu saja Amara takkan bisa menentangnya untuk kedua kali.


"Amara, kalau ada apa-apa hubungi aku ... aku usahakan pulang cepat, tapi kalau misal aku terlambat, kamu tidur duluan saja. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan nanti malam."


Amara mengangguk sembari tetap menikmati sarapan yang Syakil siapkan dengan begitu banyak pengorbanan. Ya, meski memang sedikit tidak nyaman di lidah, tapi tetap bisa diterima.


"Habiskan, aku suka kamu gendutan," ujar Syakil memandangi istrinya yang kini susah payah menelan sarapannya.


-Tbc-


Rekomendasi Novel Siang Ini✨