
Praank
Baru saja hendak mengambil langkah, lagi-lagi mereka dikejutkan dengan suara pecahan kaca yang hampir sama seperti beberapa hari kemarin.
"Lihat!! Baik-baik saja kamu bilang hah?" Wulan berdecak kesal dak kini melangkah masuk ke kamar putrinya, sudah bisa dipastikan hal gila seperti kemarin akan terjadi lagi.
"Kalian tidak punya mata? Kamu digaji untuk merawatnya kan? Kenapa bisa dia lepas?"
Perawatnya ketar-ketir kala sang majikan menekannya dengan segudang pertanyaan. Meski adalah hal lumrah, akan tetapi sebelumnya belum pernah Ganeta sampai memecahkan kaca jendela.
"Maaf, Nyonya ... saya juga tidak mengerti kenapa Non Ganeta begini, beberapa menit lalu dia sudah tertidur pulas."
Wanita cantik itu tetap bergetar meski bukan pertama kalinya. Merawat seorang wanita yang bisa dikatakan sakit mental bukanlah pekerjaan mudah baginya. Kerap menjadi sasaran amukan Ganeta, namun semua dia terima dan tetap bertahan hanya karena perasaan iba.
"Suntik saja, Han ... sepertinya dia mimpi buruk."
Ya, orang tuanya sampai detik ini tetap egois. Ganeta bukannya gila, Wiranata maupun Wulan sama sekali tidak menerima jika seseorang mengatakan dia gila. Akan tetapi, fakta yang berbicara dan memang putrinya bukan lagi gadis normal seperti dahulu kala.
"Lagi, Nyonya?"
Wulan mengangguk kemudian, hanya itu cara Ganeta bisa tenang. Memang dia tidak akan mengamuk sejadi-jadinya seperti seseorang yang gangguan kejiwaan lainnya, akan tetapi jika belum tidur Ganeta kerap melakukan hal gila yang bisa saja menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
"Tunggu, Han ... kasihan, sepertinya dia mulai mengantuk lagi."
Naluri Wiranata sebagai seorang papa tetap saja terkoyak kala putri semata wayangnya kini hanya bisa menatap kosong. Dia akan tertawa dan menangis tanpa diduga. Jika ditanya dia tidak akan merespon dan memilih acuh terhadap kehadiran siapaun di sisinya.
"Tidur di kamar Papa ya, di sini dingin, Sayang."
Meski sebelumnya sempat menggila di hadapan Wulan. Saat ini, Wiranata membopong putrinya untuk pindah tempat tidur. Kasihan, dia mungkin akan kedinginan dan tubuh Ganeta tidak sekuat itu terkena angin malam.
Selama perjalanan dipindahkan ke kamarnya, Ganeta menatap lekat-lekat wajah sang papa. Entah apa yang dia pikirkan, namun tiba-tiba senyum itu terbit sebegitu manisnya. Wulan yang menyadari hal itu hanya menganggapnya hal biasa.
"Apa perlu diikat juga?"
Wira bertanya demikian ketika kaki putrinya kembali ditali padahal Ganeta sudah terbaring di tempat tidur tanpa sedikitpun pemberontakan.
"Wanti-wanti, Pa ... kita tidak tau apa yang akan dia lakukan malam ini."
Bukan karena tidak menyayanginya, akan tetapi jika sampai dia loncat dari lantai dua akan tidak lucu akhirnya.
"Jangan, Ma, kasihan." Menurut Wiranata, selagi Ganeta tidak kumat maka tidak masalah dia tidak diikat ataupun dirantai seperti biasa.
"Baiklah ... kalau dia sampai macam-macam yang salah Papa!!" celetuk Wulan sudah menyudutkan Wiranata tanpa aba-aba.
"Papa yakin malam ini dia akan tenang, rantai saja."
"Huft, putriku cuma satu ... tapi karena satu laki-laki dia berakhir begini, malang sekali nasibmu." Wulan berkata demikian tanpa sadar jika dirinya lah penyebab utsma Ganeta menjadi wanita tak berdaya bahkan sudah kehilangan jiwa yang sesungguhnya.
Putrinya hanya satu, Wiranata terdiam kala mendengar ucapan Wulan. Biasanya dia biasa saja, namun entah kenapa kini dia ingin menyela dan membenarkan ucapan Wulan yang dinilainya salah.
"Sudah, biarkan Hana yang tidur di sini bersamanya ... kita tidur di kamar lain, suatu saat aku usaha bertemu Syakil lagi," tutur Wiranata kini lembut seolah melupakan jika mereka baru saja selesai perang badar.
"Aku tidak mau, biarkan aku di sini menaminya."
.
.
.
Di sudut kota yang lain, kehangatan sepertinya kian terjalin. Sarapan pagi yang kini diawali dengan pamer kemesraan dimulai, Mikhail yang minta disuapi tiba-tiba Amara yang gugup. Ya, bisa dipastikan dia juga akan diminta melakukan hal itu.
"Sayang, susunya kurang manis ... pakai susu kamu aja gimana?"
Uhuk
Bukan hanya Syakil, Amara kini benar-benar tersedak akibat ucapan Mikhail. Sebagai istri, Zia sedikit malu pagi ini, bisa-bisanya Mikhail.berkata demikian padahal di sini jelas-jelas ada orang lain.
"Ngaco!!"
"Syukur!!" ledek Syakil merasa puas kala Zia justru menepuk pelan bibir Mikhail yang kerap sembarangan bicara. Jika bisa Syakil bahkan ingin membuat Mikhail disiksa lebih dari itu.
"Ck, iri!! Istrimu sangat-sangat tidak romantis ... kau harus belajar dengan Kakak ipar, Amara."
Pelajaran apa? Soal itu sama sekali tidak perlu dipelajari. Amara paham tanpa perlu ditekankan ini dan itu, sebagai seorang istri yang baru merambah ke tahap cinta tulusnya, dia paham betul watak suaminya.
"Ck, terserah kau saja, Kak ... hari ini kami akan ke dokter pertama kali, kalian di rumah tolong jangan macam-macam."
Bukannya dipesankan untuk merasa nyaman dan anggap saja rumah sendiri, Syakil justru berpesan sebaliknya. Akan tetapi hal itu harus dia lakukan demi menjaga aset-asetnya agar aman dari jangkauan Mikhail.
"Aman, serahkan saja pada kami."
Ragu sebenarnya, karena jika Syakil lihat-lihat lagi tampang Syakil memang lebih mirip penjahat sebenarnya.
Usai sarapan keduanya kini berlalu, meninggalkan Mikhail dan Zia yang mungkin akan menganggap tempat ini aebagai rumahnya sendiri.
"Hati-hati ... jangan malu untuk bertanya posisi apa yang paling pas, Syakil!!"
Pesan keramat yang sama sekali tidak penting. Padahal Amara akan periksa kandungan, bukan yang lainnya dan Mikhail pahami juatru membuat mereka kaku dalam sejenak.
Di antara banyak pertanyaan kenapa juga saran Mikhail harus demikian. Aneh sekali memang kakaknya itu, meski Amara dan Syakil sudah menikah tetap saja jika membahasnya berempat Syakil sedikit malu.
"Dasar ibliss!! Kau diam, jangan sentuh mobilku selama aku tinggal ya!!" pesan balasan yang tidak kalah horor, padahal Mikhail kesini selain hendak liburan tentu saja merayu adiknya membelikan hadiah ulang tahun padanya.
"Dasar pelit!! Orang kaya tapi medit, kuburanmu nanti sempit, Syakil!!" teriak Mikhail masih yakin jika Syakil mendengar celotehannya. Lagi dan lagi, Mikhail tidak sadar diri padahal dirinyalah yang berhak menerima ungkapan seperti itu.
"Heeih nggak boleh gitu ah, kamu kenapa sih masih begini terus? Syakil kasih tumpangan aja udah syukur loh, maksa-maksa kesini masa cuma buat ribut sama saudaranya," tutur Zia menepuk pelan pundak Mikhail, sepertinya Mikhail memang pria tak karuan arah dan akan bertindak seenaknya tidak peduli dimanapun dia berapa.
"Aku hanya menguji kesabarannya, Zia ... itu saja."
-Tbc-
Kalau ada salah ketik mohon langsung dikomen ya, aku kejar tayang.