My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 90 - Dia Putriku.



Menjelang sore Amara sudah begitu cantik, dia menunggu sang suami di balkon kamar. Hari ini banyak sekali hal yang dia temukan, tidak sabar ingin mengutarakan semua yang dia rasakan.


"Lama, dia pulang jam berapa sebenarnya."


Baru juga beberapa menit, tapi rasa bosan sudah mengelilingi jiwanya. Amara berdecak sebal lantaran suaminya belum juga ada tanda-tanda akan pulang, meski tidak ada pikiran buruk yang macam-macam tetap saja dia sebal.


Hingga, beberapa menit berlalu barulah senyum itu kembali. Wajah Amara sumringah kala deru mobil mulai terdengar samar, ingin dia berlari melakukan hal yang kerap Zia lakukan ketika menyambut kedatangan suaminya. Akan tetapi, Amara masih belum berani jika harus mengekspresikan rasa sayangnya di hadapan orang banyak begitu.


"Sayang!! Mas pulang!!"


"Aah kok lama!! Aku sampai lumutan loh!!"


Percakapan konyol namun terlampau manis itu kerap sekali Amara dengar. Dua-duanya berteriak, jadi wajar saja jika Amara yang ada di balkon lantai dua mendengar dan melihat dengan nyata apa yang mereka lakukan.


Mengalahkan keromantisan Zia butuh mental yang besar dan jiwa yang tidak malu-malu. Akan tetapi, untuk saat ini bagi Amara belum seberani itu, dia menyerah mengalahkan romantisnya Zia.


Di sisi lain, suaminya justru terlihat biasa saja dan melewati pasangan yang tengah berpelukan ala teletubis di sana. Semua terasa lucu, Amara yang menyadari suaminya sedang dalam perjalanan ke kamar jelas saja bersiap menyambutnya.


Amara menatap dengan fokus yang luar biasa tinggi kala pintu mulai dibuka dari luar. Menyiapkan diri untuk menyambut suaminya dengan cara yang berbeda sebentar lagi.


"Say_"


Bruk


Belum selesai Syakil menyapanya, wanita itu menghambur ke pelukan Syakil. Begitu erat hingga pria itu sedikit bingung istrinya kenapa, apa mungkin pengaruh pemandangan yang dia lihat di bawah sana, pikir Syakil.


"Haii ... what wrong, Honey? Kamu kenapa?"


"Jangan banyak gerak, begini saja dulu."


Ini sedikit aneh, tapi Syakil suka. Pria itu membalas pelukan sang istri, tak lupa dengan mendaratkan beberapa kecupan di kening Amara, aroma khas rambut sang istri seolah candu yang luar biasa bagi Syakil.


"Kamu sudah mandi? Tumben," celetuk Syakil tidak menyadari perkembangan hari, Amara mendongak dan menatap Syakil begitu intensnya.


"Kan memang sudah jamnya, kamu yang pulangnya lama."


Padahal sama sekali tidak, Amara saja yang lebay dan merasa Syakil begitu lama. Sebagai suami yang kerap mencari cara agar istrinya begini jelas saja merasa betah, setelah pusing dengan masalah Wiranata dan pekerjaan yang tiada habisnya. Kini, semua seakan hilang dengan perlakuan sang istri yang tiba-tiba berbeda.


.


.


.


.


"Hari ini gimana?"


"Hm menyenangkan ... aku tadi pakai uang kamu banyak, kak Zia yang ajarin."


Syakil terkekeh mendengar ucapan istrinya, penasaran sebanyak apa yang dia gunakan. Amara memperlihatkan wajah seriusnya, di saat serius begini bisa-bisanya Syakil menganggapnya bercanda.


"Ih aku serius, aku tadi belanja banyak karena khilaf, tuh."


Amara menunjuk beberapa paper bag hasil dia berburu dengan ditemani Zia hari ini. Meski bukan semuanya untuk dia, tetap saja Amara merasa bersalah.


"Iya nggak masalah, kan memang hak kamu ... apa yang aku miliki, ya itu milik kamu juga." Harus dengan cara apa dia jelaskan pada Amara bahwa tidak ada istilah yang begitu, uangnya ya uang Amara juga.


Pria itu menatap wajah istrinya lekat-lekat, dia tampak berpikir apakah lebih baik Amara sama sekali tidak mengetahuinya hingga akhir. Hidup Amara tanpa siapapun dan hanya dirinya akan lebih baik, pikir Syakil sembari mendengarkan celotehan sang istri yang masih dalam pelukannya.


"Ih kamu dengerin aku nggak sih?" sentak Amara baru sadar jika Syakil tampak terdiam ketika dia menceritakan barang apa saja yang dia beli hari ini.


"Dengar, Sayang dengar ... apalagi ceritanya hari ini?" tanya Syakil menarik sudut bibirnya, wanita itu tampak berpikir beberapa saat sebelum kemudian menjawab pertanyaan Syakil.


"Tadi ada yang kasih aku boneka, gede banget!! Tuh lihat. Lucu banget." Amara menunjuk boneka beruang yang dia letakkan di atas tempat tidur mereka.


"Gemesin kan?"


Pria itu tak segera menjawab, dia berpikir keras dan menatap Amara penuh tanya.


"Siapa yang kasih?"


"Yang jaga storenya, tiba-tiba nyamperin terus kasih gitu ... mungkin free buat ibu hamil ya." Amara menduga demikian sejak awal dia mendapatkannya, akan tetapi yang aneh adalah Zia yang perutnya lebih terlihat justru tidak mendapatkan hadiah yang Amara maksud.


"Zia juga?"


"Enggak."


Syakil menghela napas kasar, kenapa bisa Mike tidak melaporkan hal semacam ini padanya. Pria itu ingin marah, tapi melihat istrinya sebahagia itu dia menjadi tidak tega.


"Dia boleh tidur sama kita kan?"


Syakil menggeleng cepat, sama sekali dia tidak sudi jika harus berbagi ranjang bersama boneka itu. Bantal saja dia hempaskan karena dianggap mengganggu, apalagi jika boneka itu.


"Ih kenapa?"


"Ganggu, aku nggak suka matanya yang besar itu ... menyeramkan."


Semua tampak menyeramkan di mata Syakil sepertinya. Bukan hanya makhluk hidup tapi juga benda mati, ya memang suaminya benar-benar aneh, pikir Amara sebal luar biasa.


"Jahat banget sih kamu? Masa tega, padahal dia udah imut begitu?" Amara mencebikkan bibirnya, boneka itu membawa kebahagiaan sejak tadi. Wanita itu luar biasa bahagia padahal suaminya sendiri bisa membeli yang lebih besar dan lebih mahal dari itu.


"No, Amara ... letakkan saja di sofa itu, atau kalau perlu di luar sekalian."


"Yaah, masa begitu?"


"Kamu mau tidurnya sama aku atau boneka siallan itu?" tanya Syakil bernada ancaman yang sukses membuat Amara ketar-ketir.


"Iya-iya dia di sofa," jawab Amara patuh yang kemudian membuat Syakil tersenyum puas, sungguh keputusan istrinya kali ini benar-benar amat baik.


.


.


.


Sementara di sudut lain ibu kota, tampak pria tua yang kini tengah tersenyum penuh makna menatap beberapa foto yang ada di laptopnya. Sejak lama dia mencari kesempatan, akhirnya tersampaikan juga.


"Leon."


"Iya, Tuan?"


"Berikan tambahan 1000 dolar untuk wanita ini, senyuman putriku terlihat cantik setelah menerimanya ... aku suka," titah pria itu tak terbantahkan, sudah hampir dua jam dia selalu saja memandangi senyuman Amara.


"Baik, Tuan."


Tidak lama setelah orang suruhannya pergi, pintu kini terbuka dengan wanita dengan lingkar hitam di area matanya. Pertanda dia sangat lelah, wanita itu menghampiri sang suami dengan harapan pria itu akan luluh.


"Aku ingin bicara."


"Soal apa? Sudah kukatakan aku tidak mau jika dia dibawa ke rumah sakit jiwa, putriku tidak gila!!" sentak kemudian dan menutup laptopnya dengan tiba-tiba, kehadiran Wulan hanya mengusik kesenangannya.


"Tolonglah buang egomu, Syakil sudah begitu baik ... apa salahnya jika kita ikuti sarannya? Sampai kapan aku harus terpisah bahkan menjenguknya saja tidak diizinkan pria sinting itu," kesal Wulan merasa dunia benar-benar tidak adil untuknya.


"Harus berapa kali kukatakan, Ganeta tidak gila!! Sebentar lagi kita akan kembali baik-baik saja, kedua putri kita akan bersama dan dengan cara itu Ganeta tidak akan merasa kesepian seperti dulu lagi."


"Keduanya? Jalanmu salah, jika sampai kau mengambil putrimu itu dari Syakil ... bukan kesembuhan Ganeta yang kau dapatkan, melainkan Amara juga akan bernasib sama seperti Ganeta, camkan itu." Wulan menekan setiap kalimatnya, bingung sekali dengan pola pikir suaminya.


-To Be Continue-