My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 95 - Ipar Yang Akan Dirindukan.



Keadaan perlahan membaik, Mikhail merasa adiknya tidak lagi perlu didampingi untuk menyelesaikan masalahnya. Atas permintaan Mikhayla mereka pulang hari ini, lagipula sudah lebih dari satu bulan mereka di sana.


Syakil seharusnya bahagia, namun untuk kali ini dia merasa kehilangan. Peran Mikhail untuk permasalahannya kali ini sangat besar, bahkan sebenarnya Syakil sudah mempertimbangkan kode dari Mikhail yang membahas tentang rumah di sebelah kediamannya.


"Tentang Papa, jangan khawatir ... aku akan coba bicara padanya, sisanya kau urus sendiri. Jangan manja! Kau pikir aku tidak punya kerjaan lain, bulan madu apaan begini hmm," omel Mikhail kemudian, baru juga Syakil hendak sedih mendadak tidak jadi.


"Iyaya!! Lain kali, aku yang akan biayai keliling Eropa seperti maumu."


"Ck, jadi tidak enak ... tapi okelah kalau kau memaksa," ujar Mikhail membuat Zia tersedak ludah, istrinya saja kaget dengan respon sang suami yang seenak dengkul dalam menjalani hidupnya.


Amara hanya menarik sudut bibir mendengar percakapan mereka sebelum pergi. Meski ada sedikit pertanyaan yang membuat dia bingung dari percakapan mereka, dia memilih untuk diam dan tidak memotong pembicaraan.


"Basa-basi paling basi, sudahlah ... kalian hati-hati saja," tutur Syakil kemudian, memang itu kebiasaan Mikhail. Tampak terkejut dengan segala sesuatu tapi dia sebenarnya suka, ya begitulah sejatinya seorang Mikhail.


Seumur hidupnya, baru kali ini Syakil merasa berat berpisah dengan Mikhail. Akan tetapi, di sisi lain Syakil juga mengerti bahwa tanggung jawab Mikhail bukan hanya dia saja, tapi ada Mikhayla dan juga adik-adiknya.


Kepergian mereka harus diistimewakan tentu saja, pengawal yang biasa menjaga Amara turun tangan untuk mengantar mereka tiba dengan selamat di bandara. Bukan kemauan Mikhail, tapi memang Syakil yang memberikan hak istimewa itu untuk sang kakak.


Pengalaman yang cukup manis, tinggal berdua bersama Zia selama ini. Bukan hanya belajar romantis terhadap pasangan, akan tetapi ilmu di dapur juga Amara lebih baik saat ini.


"See you, anakku lahir kalian harus pulang!!"


"Diusahakan, Khail."


"Harus, kau yang bayar rumah sakitnya ... okay!!" teriak Mikhail dari dalam mobil, Syakil mendadak menyesal kemudian. Entah bagaimana respon Zia di sana, mungkin perut buntingnya jadi sasaran.


"Sekalian kau juga ikut melahirkan baru aku mau bayar!!" balas Syakil tidak kalah kuatnya, Amara terbahak bahkan napasnya terasa sesak.


"Hahah bercanda, Syakil ... kami pergi ya, baik-baik kalian!!"


Persis berteriak menggunakan toa masjid, tampaknya Mikhail terbiasa kampanye sebelum pemilu hingga terlatih begini. Mungkin yang ada di sana bingung, itu pamit atau tengah memperebutkan harta sampai harus teriak-teriak begitu.


Mobil mulai menjauh, Mikhail masih terus melambaikan tangannya persis anak kecil. Sama sekali tidak ada aura dia seorang Presdir di sini, wajar saja Zia mengatakan jika Mikhail adalah manusia paling tidak bisa diam yang dia temukan.


"Yaah sepi dong."


Beberapa menit berlalu kala mereka benar-benar pergi, Amara mencebikkan bibir dan merasa kehilangan sosok kakak iparnya. Mikhail yang cerewet dan Zia yang lemah lembut hilang begitu saja, sungguh ipar yang akan sangat dia rindukan.


"Hm? Kita berdua, Sayang ... nggak akan sepi," tutur Syakil paham betul perasaan istrinya.


Amara mengangguk pelan, keduanya kembali ke mansion dengan hati yang sedikit merasa kehilangan. Dekat menyebalkan, tapi jauh dirindukan. Ya, itu adalah gambaran tentang Mikhail bagi Amara, apalagi akhir-akhir ini memang kakak iparnya begitu baik dan rela mengorbankan banyak waktu untuk Syakil.


.


.


.


Di ruang keluarga, keduanya kini duduk di sofa. Biasanya mereka akan berempat dengan pembicaraan konyol bersama Mikhail dan juga Zia.


"Oh iya, aku mau tanya ... maksud kak Mikhail tadi apa?"


Setelah cukup lama dia penasaran, Amara kini berani mempertanyakan perihal ini. Pria itu tampak menggigit bibir dan hati-hati dalam menjawab lantaran khawatir istrinya marah besar.


"Yang mana?"


Syakil tidak akan pernah mengatakan hal ini selama pikiran Ibra belum baik-baik saja. Biarlah hanya dia yang hidup dalam keadaan ketar-ketir, Syakil lebih memilih kedamaian dalam hidup Amara, itu saja.


"Soal kita, Papa ingin kita menetap di Indonesia ... berdampingan dengan kak Mikhail, tapi aku menolak dan meminta untuk diizinkan tetap di sini," jawab Syakil cari aman. Dia tidak akan mengatakan jika Ibra sangat menginginkan perceraian di antara mereka, sama sekali tidak.


"Papa sayang banget sama kamu ya?" Amara memainkan rambut Syakil yang kini sedikit panjang itu, entah kapan dia berminat memotong rambutnya yang mulai berponi itu.


"Sayang dong, sama kamu juga ... makanya setelah menikah kita diminta tetap di sana."


Berbohong demi kebaikan, berbohong demi menjaga batin Amara tidak apa. Syakil tidak mau istrinya terlalu banyak berpikir, biarlah dia berusaha sampai keadaan benar-benar tenang dan papanya mengerti jika keduanya tidak bisa dipisahkan.


"Kita mau nonton apa nih?"


"Apa saja, aku suka semuanya," jawab Amara kemudian, Syakil yang tidur dipanggkuannya sontak mendongak dan tersenyum tipis.


"Semuanya?"


"Hm, semuanya ... tapi jangan porrno ya, aku tau isi otak kamu."


Syakil terbahak, dia tidak bisa menahan tawanya. Ucapan Amara terlalu frontal dan ini membuat perutnya bahkan sakit. Padahal, sama sekali tidak ada keinginan Syakil ke arah sana, entah dari mana dia mengetahui masa kelam Syakil yang menyukai video dewasa.


"Hahah pikirannya, siapa juga yang mau nonton begituan kalau bisa praktek, Amara." Syakil menjitak kening istrinya, sembarangan bicara tapi memang itu sebuah fakta.


"Aaww sakit!!"


"Ya kamu, suami polos begini dituduh sembarangan ... aku nggak suka nonton yang begituan Amara, kamu ada-ada saja." Bela diri tapi Amara terlanjur mengetahui semua tentang Syakil.


"Oh iya? Sepolos apa? Buktinya ahli sampai aku susah jalan besoknya, padahal itu kamu bilang pertama kali."


Pembicaraannya jadi serius, Syakil duduk dan mengapit wajah sang istri dengan telapak tangan. Amara sekalinya bicara fakta menusuk jantung begini, sungguh dia dibuat panik di hadapan istrinya sendiri.


"Itu bakat, turun menurun," ucapnya pelan, tapi Amara sama sekali tidak percaya dan lebih percaya ucapan Mikhail.


"Heleh, bilang aja kamu belajar bertahun-tahun. Walau tanpa praktek, kamu pikir aku nggak tau," balas Amara dengan bibirnya yang sudah bisa diikat itu.


"Halah terus kamu sendiri belajar dari mana? Kemarin kamu jago tu, siapa yang ajarin?"


Keduanya akan sama-sama mengejek tentang ini di saat dalam keadaan sadar. Padahal jika sedang terjun ke lapangan skill keduanya dibutuhkan.


"Naluri wanita dewasa, Sayang," ucapnya kemudian dengan sengaja mengecup bibir Syakil tanpa aba-aba.


Usai menggoda suaminya Amara hendak beranjak, kembali ke kamar untuk sejenak merebahkan tubuhnya yang lelah. Akan tetapi bukan Syakil namanya jika dipancing sedikit kemudian tidak tertarik umpannya.


"Eits!! Mau kemana? Setelah menggodaku mau kabur begitu?" tanya Syakil sembari menarik sang istri hingga wanita itu terduduk ke pangkuannya.


"Tidur ... lagian aku nggak goda, kamu aja yang mengira aku begitu." Amara tersenyum simpul, padahal hanya dengan cara itu Syakil tiba-tiba tak sudi melepasnya.


"Terserah, yang jelas aku tergoda ... tanggung jawab, sebelum tidur, tidurkan Juno dulu."


- To Be Continue -


Hai, aku bawa rekomen novel yang bisa kalian baca sementara up.