My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 36 - Tanggung Jawab



Masuk ke kamar lebih dulu meninggalkan Syakil yang berhasil membuatnya malu luar biasa, Amara kini menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur lantaran salah tingkah. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di bantal sembari memukul bantalnya berkali-kali, sungguh malu masih berkuasa dalam dirinya padahal Syakil adalah suaminya sendiri, bukan suami tetangga.


"Aarrrgghh, oonnya Amara ... bisa-bisanya agresif begitu haa," ucap Amara menggigit ujung jemarinya, wanita itu menarik rambutnya kuat-kuat sembari berusaha mengatur napas yang kian menggebu.


Pernikahan yang baru seumur jagung dan pertemuan keduanya sesingkat itu membuat Amara masih malu-malu meski Syakil tidak begitu.


Beberapa saat dia berdiam diri, pintu kamar terdengar terbuka dan wanita itu cepat-cepat memejamkan mata. Berpura-pura tidur padahal tujuannya hanya demi menghindari sang suami.


"Ehem, tidur?"


Syakil duduk di sisinya, pria itu menarik sudut bibir kala menyadari posisi Amara yang tak lazim begini. Bisa dipastikan istrinya hanya berpura-pura karena ketika Syakil melangkah masuk, kaki istrinya masih menendang kesana dan kemari.


"Jangan tidur begini, kepalanya salah, Sayang."


Salah posisi, namun sebisa mungkin Amara tetap pura-pura terpejam kala Syakil memeluknya dari belakang. Kecupan di tengkuk yang sukses membuat Amara bergidik itu masih saja terus dia berikan.


"Amara, kamu membangunkanku ... harusnya tanggung jawab, tidur sama-sama, Sayang."


Dia berbisik sembari membelai rambut indah Amara begitu pelan. Amara yang mengganggu tidurnya membuat pria itu tidak bisa kembali terpejam meski nantinya dia paksa.


"Amara, bangun."


Bukan hanya sekadar ucapan, kini pria itu menarik tubuh istrinya untuk bangkit dan memang takkan mengizinkannya untuk tidur lebih dulu.


"Wake-up." Pria itu dengan tangan tanpa dosanya menepuk pelan pipi Amara hingga wanita itu berdecak kesal pada akhirnya.


"Kenapa? Mata kamu sudah merah, lebih baik tidur lagi aja udah."


Heran juga kenapa suaminya tidak segera melanjutkan tidurnya yang sempat terputus. Pria itu justru menghalangi Amara yang ingin beristirahat.


"Tapi dia bangun," ungkap Syakil kemudian menatap Amara dengan tatapan tak terbaca, pria itu mengenggam pergelangan tangan Amara hingga wanita itu merasa geli kala Syakil mengedipkan matanya.


"Di-dia siapa?"


"Dia lah, kamu juga kenapa pakai baju begini? Menggodaku lagi ya?" Syakil menarik tali baju tidur yang hanya sejari di pundak Amara.


Itu bukan lingerie, hanya baju tidur yang sedikit terbuka dan sama sekali Amara tidak berniat menggoda suaminya. Akan tetapi, pria itu salah kaprah dan asal menduga hingga membuat Amara benar-benar terlihat sebagai wanita penggoda malam ini.


"Terserah, tapi kamu butuh juga kan?"


"But-butuh apa?" tanya Amara panik, ini sudah hampir pagi dan sama sekali pikirannya tidak berpikir ke arah yang iya-iya. Wanita itu memang ingin tidur di sisi Syakil, bukan berarti bercocok tanam menjelang pagi begini, pikir Amara.


"Kata kak Mikhail, istri biasanya hanya menerima ... memilih diam padahal ingin, padahal ketika kamu menginginkannya seharusnya katakan dengan jujur, itu adalah salah satu kunci terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah dan Rahmah, Ra."


Kebiasan sekali, bahasnya apa merambat kemana-mana. Suaminya mendadak jadi ustad dan Amara tiba-tiba teringat ucapan Mikhail yang mengatakan jika Syakil bisa saja sudah mendirikan pondok pesantren di LA, akan tetapi hal semacam itu agak sedikit tidak masuk akal, pikir otak waras Amara.


"Aku nggak pengen, cuma ngantuk serius ... aku cari kamu karena khawatir kenapa belum balik-balik ke kamar, bukan cari kamu buat minta nafkah batin," tutur Amara secara terang-terangan karena memang pinggangnya masih sedikit sakit jika harus melayani serangan fajar sang suami.


"Tapi aku sudah terlanjur nggak ngantuk, kamu ngagetin dan itu buat rasa kantukku pergi semua, Ra."


Derita dia, kenapa juga jadi Amara yang harus pusing. Setelah sebelumnya membuat Amara sendirian di kamar, pria itu justru mengusik waktu tidur Amara.


"Mau gimana? Aku nggak sengaja, aku nggak tau kalau kamu bakal kaget," tutur Amara penuh sesal, sementara suaminya tetap saja ketar-ketir tidak ada tenangnya sama sekali.


"Nggak perlu minta maaf, aku cuma minta waktu kamu malam ini," ucap Syakil benar-benar meminta dengan makna berbeda. Nampaknya keputusan Amara untuk mencari keberadaan suaminya memang kesalahan besar, pasalnya kini Syakil tetap akan memaksa dan dalam hitungan menit tubuh Amara sudah terjebak di dalam kungkungan.


Seperti biasa, Syakil akan mengeluarkan jurus andalan kala Amara hendak menolak kemauannya. Ya, memaksa dengan cara mengunci tangan sang istri di atas kepalanya, entah kenapa suaminya ini senang sekali melakukan hal semacam itu.


"Aku nggak tega kalau dia berdiri sampai pagi, Ra ... bantuin dia tidur ya?" tanya Syakil dan tentu saja ini tidak menerima penolakan.


"Hm, cepet tapi ya _ hhmmpp," lirih Amara belum selesai bicara dan Syakil sudah memulainya tanpa aba-aba.


"Kenapa?"


"Kaget," jawab Amara polos dan masih menatap bingung Syakil yang kini memulain kesenangannya.


..... Lanjut.


Rekomendasi Novel menjelang pagi ini.