My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 62 - Tidak Mau Kalah.



"Hihi mereka lucu ya?"


Syakil sejak tadi hanya menatap datar ke arah kolam renang. Dua insan yang sepertinya merasa dunia hanya milik mereka tengah bahagia, lepas dari beban pekerjaan dan tanpa anak yang sedemikian nakalnya di antara mereka.


"Mereka hampir kadaluarsa, Sayang ... manis apanya."


Mana mau Syakil kalah saing, istrinya tengah memuji pasangan lain padahal mereka juga bisa lebih manis dari yang dikira. Hendak dia ajak beranjak namun Amara masih begitu betah duduk di balkon kamar sembari memandangi hangatnya rumah tangga Valenzia.


"Ih manis tau, wajar kak Zia awet muda ... suaminya selalu buat bahagia," tuturnya asal ceplos sembari menikmati biskuit yang sejak tadi tiada habisnya.


"Lalu kamu kira aku nggak? Sama saja, Ra." Syakil bahkan menghentikan langkahnya.


Padahal sama sekali Amara tidak mengatakan jika dirinya berbeda dari Mikhail. Wanita itu mendongak dan melihat wajah Syakil yang sudah cemberut, sepertinya benar-banar marah dan merasa tersinggung dengan ucapan istrinya.


"Kamu kenapa? Mukanya kok jutek begitu?"


Syakil mengacak rambutnya yang kini mulai sedikit panjang. Pria itu menghela napas kasar kemudian kembali memandangi Mikhail lekat-lekat dari kejauhan, pernyataan istrinya tidak salah dan memang Mikhail teramat sangat mencintai Zia sejak dahulu.


"Zia ... dia dulu sahabatku, mahasiswi paling berbakat dan berprestasi sebagai penerima beasiswa bergengsi sewaktu kuliah, tapi kak Mikhail datang dan menghancurkan impian sahabatku itu."


Syakil mulai bercerita, dia bukan merindukan masa itu. Hanya saja dia kagum dengan takdir cinta keduanya, Mikhail yang dahulunya benar-benar rusak dan hilang arah dipertemukan dengan Zia yang terlalu mudah diperdaya. Sungguh, sama sekali dia tidak mengira akan melihat kakaknya sebahagia itu.


"Oh iya, kalian seumuran ya? Aku hampir lupa."


Amara masih menggenggam biskuitnya, dia sempat mendengar beberapa hal tentang Zia. Hanya saja, Kanaya tidak mengatakan jika Zia adalah sahabat Syakil.


"Hm, dan kamu tau ... dulu aku menunggunya hampir dua tahun, Zia terlalu setia sampai cintanya dia ingkari dan terpaksa menjadi istri perjaka tua itu." Syakil berkata sejujur itu tanpa dia sadari kalimat pertamanya membuat hati Amara sedikit tidak nyaman.


"Kalian cukup dekat ya dulu?"


"Ehm gimana ya bilangnya ...." Syakil melirik sang istri dari ekor matanya, pria itu menarik sudut bibir melihat Amara yang tiba-tiba murung usai bertanya demikian.


"Sangat-sangat dekat sebenarnya," tambah Syakil sedikit mengada-ngada dan dalam beberapa saat istrinya sudah berkaca-kaca. Sulit sekali mengutarakan jika sayang, namun air matanya tak bisa berbohong jika dia memang mencintai Syakil sedalam itu.


"Oh ya kamu mau lihat foto kami pas kuliah? Bentar ... sepertinya masih ada," ujar Syakil benar-benar sengaja membuat mata Amara memanas, dia merogoh ponselnya kemudian mulai mencari sembari matanya sesekali menatap Amara yang diam-diam mengusap air matanya.


"Ah mana? Sabar ya soalnya sudah lama jadi sedikit sulit."


Syakil masih terus menelusuri galerinya, padahal yang ada di ponselnya hanya potret sang istri. Mana mungkin dia masih menyimpan foto sepuluh tahun yang lalu, kalaupun masih jelas saja tidak akan ada di ponsel yang dia kenakan saat ini.


"Ah in_"


"Heh? Amara? Are you okay, Honey?"


Baru saja Syakil hendak menipunya dengan memperlihatkan foto yang tak lain adalah Amara sendiri, kini dia dibuat terkejut kala menyadari istrinya benar-benar berurai air mata hingga hidungnya memerah bak kepiting rebus.


"Kenapa? Hm? Belum juga aku perlihatkan sudah terharu," tuturnya kian membuat Amara ingin mendorong Syakil jatuh ke bawah rasanya, memang dasar tidak peka dan tidak punya perasaan, hendak meraung tapi dia malu di bawah sana ada Mikhail.


"Jangan menangis, nanti dikira kak Mikhail aku nyiksa kamu lagi, Sayang." Dia tidak tega jika harus mengerjai Amara lebih lama, Syakil memeluknya erat kali ini. Pria itu mengelus pundaknya pelan-pelan lembut dengan jiwa yang kini terbahak karena berhasil membuat wanita menangis hanya dengan kebohongannya.


Belum seberapa, Ra ... berani kamu muji gajah bengkak itu lagi awas saja. Syakil membatin dan dia mendadak jahat kali ini.


"Kenapa kamu menangis? Coba katakan jelas-jelas supaya suamimu yang lebih tampan dari Mikhail ini paham, Sayang."


Syakil menangkup pipi Amara dengan kedua telapak tangannya. Meski sepertinya penyebab Amara menangis kali ini ialah karena kecemburuan yang memang sengaja Syakil ciptakan. Tetap saja dia butuh pengakuan secara jelasnya.


"Nggak, aku bukan nangis ... ini kelilipan." Pintar sekali memberi jawaban, padahal dimana letak dia bisa kelilipan saat ini.


"Hahaha, Amara-amara ... kamu cemburu?"


"Enggak, fitnah banget kalau ngomong," celetuknya kesal kemudian mencubit perut Syakil sekuat tenaga, tampaknya memang pria itu memang cari gara-gara.


"Aaawww sakit, Sayang."


Syakil tidak berbohong atau tengah melakoni sebuah drama kolosal. Akan tetapi memang cubitan istrinya luar biasa menggigit bahkan lebih sakit dari cubitan Kanaya.


"Cubitnya di sini saja, pakai bibir tapi." Syakil menunjuk bibirnya dan permbiacaraan mereka mulai mengada-ngada, gelak tawa dan teriakan Syakil kala Amara cubit berhasil membuat perhatian pengantin abadi di bawah sana tertuju pada mereka.


"Hoy-hoy-hoy, teruskan di kamar sana!! Jangan lupa tutup jendela kamar kalian!!" teriak Mikhail bak sirine yang mengharuskan mereka berhenti bergerak, Syakil biasa saja sebenarnya. Lain halnya dengan Amara yang kini merasa tengah ditelanjangi di depan umum.


.


.


.


"Kamu nggak bohong kan?"


Syakil tidak bisa terlalu lama membohongi Amara. Pria itu tersenyum kemudian mengangguk ketika Amara bertanya untuk terakhir kali di sore ini.


"Kami hanya berteman, Ra ... kamu ingat temanku yang namanya Zidan?" tanya Syakil kemudian menepikan anak rambutnya, kegiatan siang menjelang sore kali ini benar-benar menguras tenaganya.


"Ingat, kenapa memangnya?"


"Dia yang dulunya mantan pacar Zia, kalau aku sama sekali nggak pernah menjalani hubungan spesial sama Zia ... sudah jangan berpikir macam-macam lagi." Syakil khawatir dampak kebohongannya justru berimbas kepada sikap Amara untuk Zia selama kakak iparnya tinggal sementara.


"Aku percaya setiap kata-kata kamu, jadi tolong jangan berbohong setelah ini sekalipun itu hanya bercanda," tutur Amara menatap lekat suaminya, karena memang sejak menikah perlahan ada hal yang tidak Amara suka dari Syakil. Ya, itu adalah tabiat turun temurun


dari sang papa, Mikhail dan kini menurut ke dia.


Mengarang bebas, pembohong namun memaksa untuk dicintai dan memaksa dalam menempatkan cintanya. Begitulah tabiat turunan yang mungkin tidak akan hilang selama dia masih bernapas.


-Tbc-


Hallu, sementara Syakil up, mampir dulu ke karya temen aku yang di sini.