My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 60 - Bukan Bumil Biasa



Secepat itu malam berganti, Syakil mengerjapkan matanya pelan dan tangannya mencari keberadaan Amara di sampingnya. Tumben, pagi ini sedikit berbeda dari biasanya. Amara tak lagi berada di sisinya, ini sebuah hal yang cukup langka karena biasanya jika sudah perang Amara akan tumbang dan bangunnya pun akan terlambat.


"Aarrgghh ... kenapa denganku?" tanya Syakil bingung sendiri dengan keadaannya kali ini, pria itu memijat lehernya kemudian merenggangkan ototnya yang terasa kaku luar biasa.


Untuk pertama kali Syakil dibuat kelelahan lantaran Amara begitu liar bahkan seperti bukan istrinya. Ungkapan Syakil yang mengatakan jika istrinya akan sakit pinggang nyatanya hanya khayalan, fakta berbalik dan tubuhnya yang dibuat remuk pagi ini.


"Amara."


Syakil memanggil dengan suara seraknya, berharap jika istrinya ada di kamar mandi namun sepertinya tidak demikian. Pria itu berdecak kesal kemudian beranjak dari tidurnya, dan seperti biasa perutnya kini kembali beraksi dan mual tiada tara membuat Syakil harus ke kamar mandi.


"Aarrgghh ... sialan, apa aku penyakitan sebenarnya?"


Syakil menyeka keringatnya, pria itu kemudian mencuci wajahnya sebentar. Gosok gigi dengan jurus kilat karena kembali lagi yang dia rasakan hanya mual dan mual.


"Hooeek ... eeuuh, jangan menyiksa papa, Sayang tolonglah."


Mempercayai jika dia mengalami kehamilan simpatik membuat Syakil spontan mengelus perutnya. Padahal, ya jelas saja di sana tidak ada bayi ataupun makhluk hidup yang berkembang.


Setelah merasa lebih baik, barulah Syakil turun dan mencari keberadaan istrinya. Biasanya jika sudah Amara tenangkan dia akan merasa lebih baik. Ya, Syakil akui saat ini obat yang paling ampuh hanya Amara.


Brugh


Dia duduk dan menempelkan wajahnya di meja makan. Menatap sendu istrinya yang kini tengah menyiapkan sarapan untuknya. Syakil menghela napas panjang, sembari terus menahan perutnya.


"Masih mual ya?"


Syakil mengangguk, yang hamil di sini siapa sebenarnya. Kenapa Amara justru terlihat lebih baik darinya, istrinya sudah terlihat segar bahkan telah mengenakan pakaian terbaiknya pagi ini.


"Kamu nggak capek, Ra?"


Aneh sekali, padahal sebelum fajar Amara bahkan kembali membangunkan Syakil dan mengungkapkan jika dia ingin lagi. Ya, kemungkinan istrinya memang tidak tidur lagi setelah itu.


"Hebat, kenapa bisa begitu? Padahal tadi malam kita lembur bahkan sampai dua periode," tutur Syakil dengan suara lemahnya, bisa-bisanya hal semacam itu dia samakan seperti masa kepemimpinan.


Entahlah, Amara juga tidak paham sebenarnya. Akan tetapi apa yang dia rasakan tidak pernah ditutup-tutupi. Memang begini adanya dan dia tidak bisa menjelaskan alasannya, mendadak naffsunya berkuasa sebesar itu bahkan Amara sendiri merasa tidak mengenali dirinya sendiri.


"Sering-sering saja begitu, aku suka." Syakil tertawa sumbang sembari menerima sandwich yang Amara serahkan, tampaknya sang istri tidak lagi marah kala Syakil membahas hal ke arah yang iya-iya.


"Oh iya, tadi pagi-pagi sekali Mama telepon. Kata mama kak Mikhail sedang dalam perjalanan ke sini ... mau liburan sama kak Zia," tutur Amara yang kemudian berhasil membuat Syakil tersedak ludah.


"What? Kamu bercanda kan?"


Tanpa angin tanpa hujan, dan juga tanpa pemberitahuan lebih dulu Mikhail benar-benar merealisasikan keinginannya beberapa bulan lalu. Wajar saja dia sudah bertanya masalah harga tiket beberapa waktu lalu, tampaknya Mikhail memang tengah berusaha agar Syakil tanggung biayanya namun Syakil sama sekali tidak peka.


"Serius."


"Nginep di sini?" tanya Syakil lagi, perutnya mendadak kenyang dan sandwich yang dia genggam kini Syakil kembalikan ke piringnya.


"Iya, Mama minta alamat ... kamu memang nggak kasih ya?" tanya Amara kemudian, hal ini juga sempat membuatnya terkejut, aneh sekali seorang anak merahasiakan alamat jelas rumahnya.


"Kamu kasih?" tanya Syakil sudah ketar-ketir, kediamannya kali ini adalah yang ketiga setelah yang pertama dan kedua selalu menjadi tempat Mikhail tidur seenaknya jika dia liburan.


"Kasih, masa aku bilang nggak tau."


Matilah dia, Syakil sungguh lupa jika mansion ini adalah tempat rahasia terakhir yang seharusnya tidak Mikhail ketahui. Pria itu pantang mendapat kemegahan karena biasanya dia akan benar-benar kembali seenaknya.


"Makhluk itu sama istrinya? Atau sama Mikhayla dan dua bocil nakal itu?" tanya Syakil sampai tidak fokus lagi, padahal sebelumnya sudah Amara katakan jika mereka berdua.


"Sama kak Zia ... mereka bawain kita markisa tau," tutur Amara dengan mata berbinar dan menganggap kehadiran Zia adalah anugerah, lain halnya Syakil yang menganggap ini tidak lebih dari bencana.


"Syakil ... kamu kok diem?"


.


.


.


Belum selesai masalah satu, kini muncul Mikhail yang tiba-tiba membuat Syakil kian terancam. Sepanjang perjalanan ke kantor dia merenung dan Kendrick dibuat bingung dengan bosnya.


"Tuan, apa ada yang salah?"


"Tidak, cepat ... kita sudah sangat terlambat," titah Syakil begitu mantap, aneh sekali memang kenapa bisa pria itu baru sadar jika ini memang sudah sangat-sangat terlambat.


"Oh iya, Anda harus lihat ini."


Tanpa ditanya lebih dulu, dan sama sekali Syakil tidak memberikan perintah apapun kemarin, kini Kendrick justru menyerahkan sebuah dokumen kepadanya.


"Kenapa kau memberikan ini?"


"Kemarin saya mencaritahu hal-hal terkait Wiranata, dan Maovan Group memang resmi menjadi miliknya setelah Loenard meninggalkan perusahaan itu beberapa waktu lalu ... dan soal putrinya_"


"Hentikan, itu sudah tidak penting lagi," sergahnya kemudian melemparkan dokumen tersebut ke arah Kendrick begitu asal.


Bukan tidak menghargai usaha Kendrick kali ini. Akan tetapi Syakil benar-benar berhenti dan memilih untuk tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi terkait Wiranata dan putrinya, Ganeta.


"Tapi, Tuan ...." Kendrick tampak ragu hendak mengutarakan kegelisahannya.


"Hentikan, Ken. Kau sudah paham posisiku, hidupku sudah lebih baik sejak beberapa bulan lalu. Jangan usik kebahagiaan kami, aku sangat menghargai istriku."


Syakil tidak ingin membuat istrinya Kembali tersakiti. Karena menurutnya, sekali dia kembali peduli perihal Ganeta itu artinya sudah berkhianat. Selain itu Syakil jelas saja harus mejaga keselamatan Juno seumur hidupnya.


"Baik, Tuan."


Kendrick memilih mengalah dan kemudian mengangguk patuh karena memang Syakil sepertinya sedikit sensi pagi ini. Sejak tiba di mansion wajahnya sudah masam tanpa Kendrick pahami apa sebabnya.


"Ken, bolehkah aku bertanya?" tanya Syakil sedikit ragu, dia butuh jawaban ini meski jujur saja hatinya sedang tak baik-baik saja membayangkan kehadiran Mikhail nantinya.


"Silahkan, Tuan."


"Tapi ini rahasia, jangan sampai orang lain mengetahui hal ini." Dia bahkan sengaja merubah posisi duduknya agar lebih dekat seolah khawatir pembicaraannya bocor kw telinga orang lain, padahal di dalam mobil hanya mereka berdua saja.


"Iya, Tuan ... saya jamin itu."


"Menurutmu, kenapa wanita hamil lebih ganas dan liar di ranjang? Kau tau alasannya, Kendrick?" tanya Syakil yang kemudian berhasil membuat Kendrick membeliak, pertanyaan sulit bahkan dia tidak pernah berpikir Syakil akan bertanya demikian.


"Jawab, Ken."


"Saya tidak paham, Tuan ... kebetulan saya tidak pernah berhubungan intiim dengan wanita hamil," jawab Kendrick apa adanya dan membuat Syakil kecewa berat dengan jawabannya.


"Dasar boddoh, coba hamili supaya kau tau bedanya lalu ceritakan padaku," titahnya seenak dengkul kemudian kembali bersandar di kursinya.


-Tbc-


Hai-hai, sementara Syakil up boleh mampir ke novel temen aku ya, Beb❣️