My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 88 - Hak Dia



Di saat-saat begini Mikhail memang berguna sekali bagi adiknya. Bahkan yang menjemput Amara dan Syakil di bandara adalah dia bersama beberapa orang lainnya.


Amara yang tidak memahami permasalahan apa yang sedang terjadi, hanya merasa ini sebagai hal baik lantaran semua anggota keluarga suaminya seperduli itu. Ya, untuk saat ini Amara dibiarkan buta menjalani hidup demi membuatnya baik-baik saja.


Tiba di mansion Syakil jelas saja tidak bisa beristirahat dengan segera. Pria itu harus berbicara banyak hal bersama Mikhail, tidak peduli meski tubuhnya terasa luar biasa lelah.


"Istrimu bagaimana?"


"Dia belum tau apapun, aku harap kau juga tutup mulut," ujar Syakil kemudian duduk di hadapan Mikhail, nampaknya rapat penting akan terjadi sebentar lagi.


"Baguslah ... Papa bagaimana? Apa masih sama seperti yang kau katakan?" tanya Mikhail serius, jujur saja dia khawatir sekali kala mengetahui Ibra tiba-tiba mengatakan hal yang sangat-sangat tidak masuk akal begitu.


"Tentu saja, alasan aku pulang cepat karena itu. Sebelum Papa mengatakan itu secara pribadi pada Amara, lebih baik pergi ... haha aku jadi pengecut kali ini," ungkap Syakil merasa dirinya penakut sekali.


"Tidak masalah, sesekali."


Untuk masalah yang kali ini, rasanya jadi pengecut adalah pilihan. Yang jadi orang ketiga dalam pernikahan Syakil adalah orangtua, andai saja dia di posisi Syakil jelas saja akan memilih lari.


"Memang Wiranata anjiing!! Bisa-bisanya datang di saat begini? Dulu kemana saja, masa pencarianku untuk putrinya kadaluarsa!! Dasar gila, berapa umurnya?"


Mikhail terkejut, adiknya tiba-tiba bicara begitu. Padahal yang salah di sini adalah orangtua Ganeta, kenapa jadi dia yang seperti akan ditelan hidup-hidup oleh Syakil.


"Ya mana aku ingat!! Oh iya, menurutmu apa benar dia ayah kandung Amara?"


Syakil terdiam sesaat, hendak tidak percaya tapi hati dan logikanya sudah mengatakan iya. Sejak awal bertemu Amara dan juga mencari tahu sedikit tentang keluarga istrinya dia sudah tidak yakin jika Amara bukan saudara kandung Eva.


"Menurutmu?"


"Aku bertanya, jangan balik bertanya ... kau yang tau bagaimana rasanya, Ganeta dan Amara ... berapa persen kesamaannya," tutur Mikhail kemudian, pertanyaan yang tampaknya akan sedikit tidak berbobot.


"Rasa apanya?"


"Ck ya semuanya, kau yang tahu kedua wanita itu luar dalamnya, Syakil." Mikhail geram sendiri pada adiknya yang mendadak tulalit.


"Aku tidak pernah merasakan bagian dalam Ganeta, melihatnya saja tidak pernah!! Pertanyaanmu tidak ada gunanya."


Mikhail menggela napas kasar, pria itu meraih bantalan sofa dan melemparkanya ke wajah Syakil hingga pria itu hampir mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


"Maksudku hatinya, kepribadian dalam diri Ganeta ... biasanya saudara kembar akan memiliki kesamaan meski tidak semuanya." Untuk kali ini Mikhail sedikit waras, bingung juga kenapa adiknya justru memikirkan hal ke arah sana.


"Oh kupikir apa," ucap Syakil santai sekali, tanpa dosa dan membuat Mikhail ingin mendaratkan pukulan tepat di dadanya.


"Awalnya memang kupikir mereka adalah wanita yang sama, aku bahkan tidak menemukan perbedaan ... tapi semakin kesini aku semakin mengerti jika istriku berbeda, ada hal yang dimiliki Amara tapi tidak kutemukan di Ganeta dulu, caranya memperlakukan dan memposisikan diri itu berbeda."


Penjelasan panjang lebar yang membuat Mikhail sama sekali tidak bisa menarik kesimpulan. Ke arah mana adiknya bicara, dia tidak paham juga. Akan tetapi, pada intinya Syakil sudah menemukan perbedaan antara mereka.


"Setelah bertemu Wiranata kemarin, aku menyimpulkan bahwa yang dia inginkan adalah Amara ... dia menginginkan putrinya kembali, sama sepertimu yang menginginkan dia menjadi pengganti."


Syakil tampak berpikir keras, jika benar demikian wajar saja Ibra benar-benar memaksa Syakil untuk melepaskan Amara.


"Dia tidak datang padamu dengan alasan untuk kembali pada Ganeta, Syakil ... dan kau tau alasan Papa semarah itu? Kau dengarkan ini." Mikhail kemudian mengeluarkan bukti valid berupa rekaman percakapan antara dia dan Wiranata kemarin.


"Aku tidak peduli, untuk apa dia datang di saat Amara sudah sedewasa itu ... dulu-dulu kemana saja, kalau hanya sebatas anaknya lahir kemudian lepas tangan untuk apa."


"Jadi kau benar-benar percaya Amara putrinya?" tanya Syakil mengerutkan dahi, dia heran kenapa Syakil bisa secepat itu percaya.


"Untuk hal itu, aku percaya. Akan tetapi, jelas kita harus membuktikan sendiri benar atau tidaknya ... Amara dan Ganeta sama-sama berada di bawah pengawasanku, tidak sulit untuk melakukan pembuktian."


Meski Syakil sepercaya itu, jelas saja dia masih butuh pembuktian yang benar-benar nyata. Tidak ada salahnya jika dia mencaritahu lebih jelas lagi fakta tentang kedua wanita ini.


.


.


.


.


"Ah iya, aku sudah ambil beberapa helai rambut Wiranata ... ada dua helai yang sudah berubah warna, sisanya masih hitam. Aku tau kau butuh ini," ucapnya tiba-tiba kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari bahan kaca dengan beberapa helai rambut di dalamnya.


"Bagaimana kau mendapatkannya?"


Heran juga, kenapa bisa Mikhail mendapatkan rambut pria itu. Dia bingung, wajahnya tampak termangu dan mendadak ragu, bisa jadi itu rambut tukang kebun, pikir Syakil.


"Hahah kau lupa siapa aku? Hal semacam ini gampang saja, Syakil."


Bukan dia, lebih tepatnya Kendrick yang beraksi. Akan tetapi, semua memang atas perintahnya, jadi tidak salah jika dia mengakui semua adalah hasil kerjanya.


"Tapi kau yakin ini rambut dia? Kenapa mencurigakan begini ... ini rambut di kepala kan?" Mikhail adalah manusia yang sangat pandai bersilat lidah, wajar saja jika Syakil curiga.


"Astaga!! Yang namanya rambut jelas di kepala!! Kau benar-benar membuatku murka ya? Lagipula siapa yang sudi menyentuh rambut lainnya, aneh sekali hidupmu."


"Bentuknya ...." Syakil menggigit bibirnya, jika yang memberikan adalah Kendrick maka dia akan sangat-sangat percaya, akan tetapi berbeda dengan Mikhail.


"Namanya sudah tua wajar saja, lagipula memang rambutnya keriting-keriting begitu."


Perkara rambut Wiranata pembicaraan jadi panjang sekali, akan tetapi Syakil perlahan bisa menghela napas lega. Setidaknya dia menemukan kebenaran yang nantinya berhak Amara ketahui juga, terutama tentang Ganeta.


"Wah ... yang buat gila kakaknya, yang tanggung jawab adiknya, kasihan sekali nasib adik ipar," tutur Mikhail tengah menyinggung adiknya, memang dasar pria aneh.


"Bisa diam tidak? Aku bingung yang adik yang mana." Mikhail pikir akan marah, nyatanya Syakil justru memikirkan hal lain.


"Tunggu, kau benar-benar tidak masalah dengan ini? Mereka sedarah, Kil."


"Memangnya kenapa? Aku hanya menikahi salah-satunya, lagipula pertemuan kami tanpa disengaja ... aku mana tau mereka sedarah," tutur Syakil kemudian, saat ini yang dia harapkan hanyalah sang mama berhasil melunakkan batin Ibra, itu saja.


"Kau mungkin tidak, tapi Ganetanya bagaimana? Besar kemungkinan dia kembali waras, kau siap dengan semua ini? Andai kata dia masih mencintaimu bagaimana?"


"Dia berhak mencintaiku, dan aku tidak akan melarangnya. Tapi, aku juga berhak untuk tidak mencintainya kan? Jangan dipikirkan, kalau kau tidak tega padanya ya nikahi saja ... lumayan buat tukang pijat kalau Zia malas," ucap Syakil sekenanya kemudian berlalu meninggalkan Mikhail yang kesal luar biasa dibuatnya.


-Tbc-