
Sepanjang hari Amara hanya terdiam, dia menunggu Syakil cukup lama dan tidak berniat mengganggu sang suami yang tengah fokus dengan pekerjaannya.
Tepat jam delapan malam, sangat-sangat terlambat entah dari mana Syakil sebenarnya. Amara menatap Syakil sebegitu tajamnya hingga pria itu ciut kala langkahnya kian dekat.
"Sa-sayang, kenapa tunggunya di sini?"
Syakil bukan suami takut istri, tapi melihat mata Amara yang sudah setajam itu bulu kuduknya berdiri tiba-tiba. Istrinya duduk manis di sofa ruang tamu sembari bersedekap dada.
"Ini apa?"
Tanpa basa basi, Amara meletakkan kotak kecil persegi berwarna hitam itu di atas meja kaca dengan kekuatan yang tak biasa.
Syakil membeku, dia menatap bingung kenapa benda itu bisa ada di tangan Amara. Sudah lama sekali, bahkan dia tidak ingat dimana letaknya, pria itu mendekat dan duduk meski jantungnya dibuat ketar-ketir bahkan rasanya hendaj copot saat itu juga.
"Kamu sudah makan? Wajahmu pucat, Ra ... apa sakit?" tanya Syakil dengan sedikit bergetar, hanya saja bibir Amara memang terlihat sedikit pucat.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab dulu pertanyaanku," tutur Amara benar-benar halus namun percayalah ini terdengar menakutkan di telinga Syakil.
"Huft, dari mana kamu mendapatkan ini?"
Syakil tak langsung menjawabnya, jujur saja ini membuat Amara dongkol. Pria itu justeu meraih kotak cincinnya dan memeriksa benda yang seharusnya tersemar di jemarinya hingga saat ini.
"Cincin itu, pasangannya dimana?"
"Entahlah, ini tidak penting, Ra ... aku hanya lupa membuangnya," ujar Syakil kembali melemparkan cincin itu sedikit kasar ke atas meja, dia tidak suka tapi memang sejak dulu hati Syakil tidak siap membuangnya.
"Itu cincin pernikahan kan?" tanya Amara menatap Syakil dengan mata yang kini berkaca-kaca, melihat respon Syakil yang biasa saja hati Amara semakin tak terima.
"Iya, lalu?"
Deg
Itu Syakil yang bicara? Amara bahkan bertanya-tanya kenapa bisa suaminya begini malam ini. Mata Syakil tetap menatapnya begitu lekat, hanya saja air mata Amara yang jatuh bercucuran tidak dia usap.
"Cincin satunya dipakai Ganeta, iya kan?" tanya Amara setengah berteriak, dadanya mendadak sesak padahal sebelumnya tidak ada rencana untuk menangis sama sekali.
"Mungkin, untuk apa bertanya hal itu ... hentikan tangisanmu, Amara."
Syakil menghela napas panjang, pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia bingung sekali jika sudah begini. Benar kata Mikhail, jika langkah Syakil hanya akan membuat Amara sakit.
"Mungkin kamu bilang? Kalau kamu menyimpan cincin pernikahan yang lain kenapa datang dan memaksaku jadi istrimu?" sentak Amara bergetar lantaran jawaban Syakil yang seenteng itu benar-benar membuatnya kesal luar biasa.
Memaksa? Iya, dia memang memaksa. Dengan alasan mirip Ganeta membuat Syakil tergila-gila dan tujuannya saat itu hanya memiliki Amara seutuhnya.
"Maaf, Ra."
"Kamu bohong kan selama ini? Aku bukan wanita pertama karena nyatanya kamu pernah menikah sebelum menikahiku, Syakil!!" bentak Amara kian meninggi dan ini untuk pertama kali dia marah dengan mengikutsertakan urat.
"Amara ... itu masa lalu, masalah cicinnya dipakai atau tidak bukan urusanku. Dia bukan istriku, Ganeta hanya pengecut yang tega meninggalkan calon suaminya beberapa saat sebelum akad."
Syakil mendekati sang istri, keduanya sama-sama terluka malam ini. Selama ini Syakil selalu berusaha menutup lukanya, dan kala Amara benar-benar hadir dia merasa tidak ada yang berbeda tentang perasaannya. Pria itu benar-benar seolah melanjutkan kisah cinta yang pernah putus beberapa tahun itu.
"Lalu kamu menikahiku karena aku mirip dia? Begitu kan?"
Mau tidak mau dia harus mengangguk, alasan apalagi yang bisa menyelamatkan Syakil malam ini. Pria itu mengangguk pelan namun tidak melepaskan Amara dari genggaman tangannya.
"Jahat banget sumpah, egois!!"
"Iya, memang aku egois ... empat tahun aku mencari dan malam itu aku menemukan kamu, kalian berdua tidak ada bedanya di mataku," ucapnya sejujur itu dan membuat Amara benar-benar merasa hanya sekadar objek yang Syakil anggap Ganeta, wanita lama yang sejak dulu dia cari.
Wajar saja sejak awal posesifnya Syakil sudah tidak terkira. Setakut itu kehilangan padahal baru pertama kali bertemu, pikir Amara.
"Maaf, Amara ... aku mencintai kamu, sangat."
Syakil tidak berbohong, cintanya pada Amara memang sebesar itu meski memang alasan dia cinta jelas saja karena wajahnya yang sama persis seperti Ganeta.
"Cih, tepatnya fisikku yang mirip wanitamu, bukan aku!" celetuk Amara kemudian menghempas genggaman tangan Syakil dan berlalu meninggalkan sang suami yang kini lengah.
"Amara tunggu!!!"
Syakil berteriak keras, pria itu membentak untuk pertama kalinya dan sedikit kesal lantaran Amara yang dia rasa sedikit membangkang.
"Mau kemana kamu? Hm?"
Syakil menarik pergelangan tangan Amara sedikit kasar hingga wanita itu membentur dadanya. Ya, pria itu memang bukan pemarah namun bukan berarti tidak bisa marah.
"Lepaskan aku, aku bukan wanita yang kamu maksud!!" teriak Amara berontak bahkan tak segan menggigit tangan Syakil yang satunya.
"Sampai mati kamu hanya milikku, jangan coba-coba pergi jika ingin hidupmu baik-baik saja, Amara."
Syakil menatapnya dingin, pria itu mencengkram tangan Amara hingga wanita itu meringis sakit. Tak pernah berbuat kasar sama sekali, sekalinya kasar Amara dibuat tersiksa.
"Kamu bisa meminta apapun dariku, tapi jangan coba untuk pergi, Amara ... kamu milikku, langkahmu hanya atas izinku," bisiknya kemudian membawa Amara layaknya karung beras, tidak peduli meski tubuhnya mendapat serangan bertubi dari Amara, sama sekali takkan berarti.
.
.
.
Brugh
Jika biasanya Amara akan tertawa Syakil banting ke tempat tidur begini, kini yang ada hanya tangisan dan bingung kenapa suaminya yang justru marah besar perkara cincin siallan itu.
Srek
Sepertinya Syakil tengah memperlihatkan bagaimana caranya marah. Amara kewalahan kala Syakil berhasil merobek pakaiannya dalam sekali tarikan.
"Kamu sepertinya perlu penjelasan yang berbeda, Honey? Kita selesaikan di atas ranjang, buktikan sebesar apa cintaku dengan caraku memuaskanmu, Amara."
Tidak peduli istrinya tengah menangis saat ini, Syakil tetap akan melakukannya. Dia tiba-tiba saja gila malam ini hingga membuatnya hilang kendali.
"Sakit, Syakil!"
Kali pertama Syakil begini dia jelas saja takut, Amara menarik kuat-kuat rambut Syakil kala gigi tajam suaminya menyakiti bagian dadanya.
"Sakit? Jika berani pergi maka akan lebih sakit dari ini," ucap Syakil lembut kemudian menghujani wajah Amara dengan kecupan, melihat suaminya begini Amara berpikir jika suaminya memiliki kepribadian ganda.
"Berjanjilah, kamu akan tetap di sisiku ...."
Syakil berucap demikian sembari membuka kancing kemejanya satu persatu, dia laki-laki normal dan jika sudah dihadapkan dengan hal yang begini dalam kondisi apapun tetap saja gairrahnya tak tertahan.
-Tbc-
Rekomendasi Novel Again, mampir ya, Wak.