
"Jangan mencintai jiwa yang berbeda di raga yang terlihat sama, Syakil." Amara memalingkan wajahnya kala mengucapkan kalimat itu, mau sebaik apapun Syakil jika pada faktanya dia hanya pengganti hati Amara seakan remuk tanpa sisa.
"Lalu kamu maunya aku bagaimana, Ra? Aku akui memang semua salahku, aku menginginkan kamu karena kalian terlihat sama ... tapi, yang aku miliki saat ini kamu, Amara."
Amara memilih bungkam, dia diam untuk sementara dan suasana mendadak hening. Baru kali ini ada seseorang yang berani mengabaikan pertanyaan Syakil.
"Semarah apapun kamu, tolong jangan pergi, Ra. Meski caraku mendapatkanmu selicik itu tapi cintaku bukan main-main ... empat tahun lalu aku hampir mati karena Ganeta pergi, aku harap Tuhan berbaik hati untuk kali ini." Syakil bahkan bergetar mengutarakannya, jika sebelumnya Amara yang pucat namun kini justru Syakil yang demikian.
"Kalau misal dia kembali bagaimana?"
Amara bangun dan membenarkan bathrobe yang sempat terbuka lebar. Wanita itu menatap Syakil serius dan pertanyaan itu memang benar dia utarakan karena perlu penjelasan dari lubuk hati suaminya ini.
"Kenapa pertanyaanmu begitu, Ra?"
Syakil tidak pernah segugup ini sebelumnya, nampaknya Amara memang benar-benar berhasil membuat pria itu ciut seketika.
"Jawab saja, jangan kebiasaan ditanya balik nanya."
Istrinya bukan wanita galak, bahkan bisa dikatakan lemah lembut. Meski kalimat Amara terdengar cukup kasar, akan tetapi dapat dia dengar jika suaranya sedikit bergetar saat ini.
"Aku sudah punya kamu, sebentar lagi punya anak juga ... sekalipun dia kembali untuk apa? Terlalu terlambat, Amara."
Penjelasan yang sama sekali tidak membuat Amara puas. Jawaban Syakil tidak dia sukai sama sekali, bukan itu yang Amara mau.
"Meragukan, aku yang hanya mirip saja kamu begini, apalagi kalau misal benar-benar dia yang berdiri di hadapan kamu," lirih Amara tersenyum getir, andai saja dia bisa berpikir jernih dan tidak serta merta menerima kehadiran Syakil yang tiba-tiba menjadi bagian hidupnya, sudah pasti hal semacam ini tidak akan terjadi.
"Keadaannya sudah berbeda, Amara, ketika kita bertemu aku masih sendiri dan di saat sedang kacaunya mencari dia selama bertahun-tahun, Ra."
Semua sudah terlanjur, Amara telat mengetahui dan sekalipun pergi jelas dia yang rugi. Niat hati menerima Syakil karena dendamnya pada mantan kekasih, nyatanya kini Amara terjebak dalam rencananya sendiri.
"Empat tahun kepergiannya kamu masih mencari, rasanya mustahil kamu melupakan dia secepat itu dengan kehadiranku sebagai penggantinya."
Ya Tuhan, harus bagaimana Syakil mengutarakannya. Ucapan Amara tidak salah, memang nyata dia pegganti namun entah kenapa rasanya Syakil tidak bisa terima pernyataan sang istri.
"Jaga bicaramu, yang istriku itu kamu ... janjiku bukan hanya dihadapan kamu saja, Ra, tapi Tuhan." Syakil menekan setiap ucapannya, Amara selangkah lebih maju dari Ganeta, dan itu mutlak tanpa bisa dibantah.
"Tapi perasaan kamu nggak bisa bohong, Syakil."
"Kamu meragukan perasaanku? Dengarkan baik-baik, Amara ... aku bukan laki-laki yang sudi menyentuh wanita tanpa perasaan, tanpa perlu dijelaskan dengan bibirku seharusnya kamu paham seberapa dalam perasaanku."
"I love you ... more than you know, Honey." Syakil berucap pelan sembari menarik sang istri dalam pelukan, nampaknya proses damai mereka cukup lama.
"But love doesn't hurt, Syakil," tutur Amara menghela napas panjang.
Cinta tidak menyakiti, Syakil terhenyak mendengar ucapan Amara. Dugaannya jika Amara hanya gadis polos dan mudah dikuasai sepertinya salah besar, otak istrinya hanya sedikit kurang ahli saja dalam permainan ranjang dan hubungan antara lawan jenis, akan tetapi tentang perasaan sepertinya tidak begitu.
"Maaf, tadi malam yang pertama dan terakhir ... semalam gigiku kurang ajar sepertinya."
Memang tidak Syakil pukul atapun tampar, akan tetapi gigitan yang dia berikan dan tindakan memaksa Amara semalam berhasil membuat wanita itu merasa suaminya seolah berganti menjadi orang asing.
"Pakai baju ya, nanti masuk angin," ucap Syakil nengusap pundak Amara berkali-kali, meski kaki Syakil akan sedikit pegal karena banyak gerak hari ini dia tidak masalah.
Tentu saja dengan dia begini ada Kendrick yang dia buat kesulitan, rasanya percuma saja Syakil pulang jika hanya menambah beban, pikir asisten pribadinya itu.
"Aku bisa sendiri, kamu dari pagi belum mandi ... apa nggak risih?"
Dia bahkan sudah mandi dua kali, sementara Syakil masih mengenakan celana pendek bekas tadi malam dan kaos oblong yang Amara yakini itu asal tarik dari lemari.
"Aku bau ya?"
Syakil memastikan, pria itu mengangkat tangan dan mencium ketiaknya sendiri. Sesuai dugaan, Syakil mual mencium aroma tubuhnya sendiri, sementara Amara yang tadinya dia peluk kenapa tidak protes, pikirnya.
"Uwweek, kenapa nggak bilang, Ra?"
"Kan memang nggak bau, cuma heran saja kenapa bisa betah," jawab Amara jujur, entah hidung Amara yang salah atau bagaimana, hanya saja dia memang menyukai aroma tubuh Syakil baik sudah mandi ataupun belum.
"Aku mandi dulu, kamu tunggu di sini ya, jangan keluar dulu," pamit Syakil mengusap pelan kedua belah pipinya.
"Iya, aku tetap di sini."
Tanpa kata, aku mencintai kamu sedalam itu. Bahkan ketika kamu menyakitiku tadi malam, aku tetap takut jika kamu pergi meninggalkanku sendirian.
Amara membantin kala menatap punggung suaminya yang kian menjauh. Jauh sebelum Syakil berkata takut kehilangan, Amara lebih takut jika suaminya pergi. Tetapi, kenapa fakta ini harus terlambat dia ketahui. Hati Amara gamang, dia kecewa dan khawatir cinta yang kini dia mulai harus patah kala pemilik hati Syakil yang sebelumnya benar-benar kembali.
-Tbc-