My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 91 - Buruk di antara yang buruk.



Drrt Drrt Drrt


Amara mengerutkan dahi, seseorang mengirimkan pesan padanya. Dengan nomor yang sama sekali tidak diketahui, namun pesan itu muncul berkali-kali dan membuat jiwa ingin tahunya menggelora.


"Bagaimana? Kamu suka bonekanya? Jaga kesehatanmu, maaf Daddy terlambat memanjakanmu."


Hah? Daddy? Daddy siapa? Apa mungkin Amara salah baca. Wanita itu menatap bingung pesan singkat yang baru saja dia terima. Rasa-rasanya dia tidak memiliki sahabat dekat nama itu, kalaupun itu panggilan sejak kapan dia punya kerabat yang dipanggil dengan sebutan itu.


Pagi-pagi dia sudah dibuat bingung dengan pesan singkat ini, sesaat kemudian dia mendatangi Syakil dengan sedikit berlari. Sang suami tampaknya tengah berolahraga bersama Mikhail, dengan suaranya yang menggema itu jelas saja kedua pria tampan itu menatap dengan wajah bingungnya.


"Kenapa? Kita di sana saja, dilarang keras lihat perut kak Mikhail ... nanti sawan," ucap Syakil seenak dengkul dan itu benar-benar jelas di telinga Mikhail.


"Aku belum tuli, Kil."


Syakil terbahak, namun dia secepat mungkin menghindar sebelum pria itu ngamuk dan melemparkan sepatunya ke wajah Syakil.


Dengan sedikit berlari, Amara menarik pergelangan tangan Syakil. Ini bukan hal biasa, pria itu penasaran juga kenapa Amara sepanik ini.


"Ada apa? Kenapa mukanya panik begitu?"


"Ini."


Amara tidak suka basa basi, wanita itu memberikan ponselnya. Membaca pesannya membuat emosi Syakil membara, pria itu mengeraskan rahang dan mengepalkan telapak tangannya.


Tanpa aba-aba, Syakil berlalu dan melangkah panjang menuju kamarnya. Amara yang bingung sendiri hanya bisa mengikuti kemana arah suaminya berlalu. Jika Amara perhatikan tampaknya pria itu marah besar, terbukti caranya membuka pintu kamar dengan tenaga dalam.


"Heh mau dibawa kemana?" tanya Amara panik ketika Syakil memboyong boneka berbulu halus yang dia yakin tidak akan semurah harga bawang itu seolah tak berharga di mata Syakil.


"Buang, kamu sembarangan terima barang tanpa diselidiki lebih dulu dari mana asalnya, Amara!!"


Dia marah, salahnya dimana? Syakil tiba-tiba membentaknya dan ini sungguh hal yang tidak bisa Amara terima. Boneka yang dia peluk hampir setiap jamnya, kini Mikhail lempar ke luar dengan disaksikan beberapa orang di sana.


.


.


.


.


Mendengar suara Amara yang panik, Mikhail serta Zia keluar dengan kekhawatiran yang mulai menjadi. Takut saja jika Syakil kembali menyakiti Amara tentu saja, namun ketika melihat yang Mikhail seret adalah boneka Mikhail menghela napas lega.


"Mike!! Sini kau!!"


"Iya, Tuan?"


Bugh


Belum sempat Mike bertanya, Syakil sudah menghadiahkan bogem mentah tepat di wajahnya. Amara membeliak melihat Syakil yang begini, mata tajam itu membuatnya teringat akan kejadian beberapa waktu lalu.


"Kenapa kalian mengizinkan orang asing memberikan barang murahan ini pada istriku?!!" sentak Syakil kemudian, dia marah besar dan berhasil membuat yang lain menunduk patuh.


Dada Syakil naik turun, pria itu memerintahkan pelayannya untuk membakar boneka tersebut sesegera mungkin.


"Syakil tunggu."


Mikhail menahan pergerakan adiknya, ada satu hal yang membuat Mikhail sedikit terusik. Pria itu maju kemudian menarik mata boneka itu, terlihat sedikit sulit hingga mata mereka membola kala Mikhail memperlihatkannya.


"Kamera?"


Di luar dugaan, mata boneka yang tampak begitu imut dari luar nyatanya lebih bahaya dari sebilah pisau yang berada tepat di depan mata. Mikhail sontak menatap Syakil yang juga menatapnya, keduanya sama-sama bingung dan pikiran mereka berada di jalur yang sama.


"Baru kemarin," jawab Amara serius, akan tetapi berbeda dengan Syakil yang mulai mengalihkan pandangnnya.


"Menghadap ke ranjang?"


"Hah? Maksud Kakak?" tanya Amara bingung, kenapa juga pertanyaannya justru tentang hal itu.


"Aku tanya, boneka ini kamu letakkan menghadap kemana? Ranjang atau lainnya?"


"Bukan, tapi ke arah pintu kamar mandi, Kak."


Huft, Mikhail menghela napas lega. Dia menatap Syakil yang kini tengah menggigit sudut bibir. Wajahnya terlihat memerah namun Amara tidak paham kenapa suaminya justru salah sangka, dia hanya mengira Syakil masih marah akibat boneka itu.


"Syukurlah, setidaknya yang paling penting terselamatkan ... dasar gila, siapa yang mengirim boneka ini?" tanya Mikhail kemudian, dia juga menatap Zia penuh tanya. Akan tetapi jawaban Zia sama seperti Amara, itu pemberian dari seorang pegawai di pusat perbelanjaan ketika mereka mencuci mata.


"Daddy, dia juga mengirim pesan padaku pagi ini ... tapi seingatku, aku tidak punya keluarga yang dipanggil dengan sebutan itu."


Mikhail menatap Syakil serius, Wiranata memang benar-benar perlu dihantam tampaknya. Setelah diperingatkan berkali-kali, pria itu nekat menghubungi Amara entah darimana dia mendapatkan nomor teleponnya.


"Bakar, jangan sampai ada yang tersisa."


Mau tidak mau dia harus rela, Amara mulai memahami jika yang terjadi tidak baik-baik saja. Barulah dia percaya jika Syakil menjaganya bukan hanya sebatas posesif saja, tapi memang hal semacam ini tidak pernah dia duga.


"Aku takut," ucap Amara kala Syakil memeluknya erat, pria itu menepuk pelan pundaknya seraya menegaskan tidak ada yang perlu ditakuti.


"Maaf, seharusnya aku jangan keluar kemarin."


"Sudahlah, yang penting semua baik-baik saja ... jangan hiraukan pesan semacam itu lagi, mengerti?"


Amara mengangguk patuh, untuk pertama kalinya dia menyesal tidak menuruti apa kata suami. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Syakil, membalas pelukan sang suami bahkan lebih erat lagi.


"Kamu nggak mau meluk aku juga?" tanya Mikhail merentangkan tangannya, namun Zia sama sekali tidak tertarik untuk mendekat.


"Nggak bisa dipeluk, kegedean." Berucap tanpa dosa kemudian berlalu begitu saja, tidak peduli dengan perasaan suaminya yang sedang kembali memulai hidup sehat seperti dulu sepatah apa.


"Ada istri yang begitu? Ck, mereka juga kenapa pelukan di sini."


.


.


.


Kemarahan Syakil sudah terlampau besar, bersama Kendrick pria itu mengabaikan ego dan mengunjungi Maovan Group dengan tujuan menemui pimpinannya.


Beruntung saja kali ini tidak membawa serta Mikhail, jadi Kendrick tidak perlu susah payah berdandan layaknya Amara demi memancing Wiranata.


"Hahahaha menantuku akhirnya datang juga, huft sulit sekali membuatmu terbuka ya?"


"Apa maksudmu mengusik kehidupan istriku?" tanya Syakil tanpa basa-basi, pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Dia putriku, bukan hanya kau yang berhak ... apa salahnya aku memberikan hadiah untuknya." Jawabannya begitu santai seolah tidak memiliki rasa bersalah sama sekali.


"Selama ini Anda kemana? Jika memang dia putrimu lalu kenapa hanya Ganeta yang Anda pedulikan?" Pertanyaan yang sangat-sangat ingin Syakil ketahui jawabannya.


"Selama ini kami mencarinya juga, jauh sebelum kau menemukannya, Syakil ... bertahun-tahun kami mencarinya, tapi takdir memang belum mempertemukan kami dan Amara," jelas Wiranata dengan tatapan sendu yang sedikit membuat Syakil sebal sebenarnya.


"Dan sekarang, Anda dengan santainya meminta dia kembali? Bahkan dengan cara mengusik papaku, Anda bahkan mengancam ketahanan rumah tangga kami, Anda sadar seburuk apa Anda saat ini?" tanya Syakil menatapnya tajam dan tidak habis pikir kenapa hal semacam ini bisa terjadi.


- To Be Continue -