My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 101 - Keluarga Sempurna



Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, menjalani peran sebagai istri Syakil yang awalnya hanya diposisikan sebagai pengganti, kini Amara merasakan makna seorang dewi dalam pelukan dewa.


Tinggal menghitung jam waktu kelahiran buah hatinya, Amara hanya pasrah tentang apa yang terjadi ke depan. Dengan Syakil sebabai penyemangat utama, pria itu selalu memberikan pundaknya untuk tempat bersandar sang istri.


Memilih untuk melahirkan secara normal demi bisa merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu. Ya, itu adalah pilihan Amara yang sempat tidak diizinkan Syakil lantaran khawatir istrinya tidak mampu.


Sesuai dengan janjinya, hari ini bukan hanya jadi hari penantian untuk Syakil dan Amara saja. Melainkan keluarga besarnya, bahkan Zidny dan Laura ikut hadir demi bisa menyambut buah hati pasangan itu.


"Kalau aku nggak mampu gimana? Jangan nikah lagi ya, aku nggak percaya sama yang namanya ibu tiri, Sayang."


Di saat-saat begini Syakil dibuat menghela napas kasar dengan ucapan Amara. Mungkin karena terlalu pesimis hingga bisa mengucapkan kalimat seperti itu.


"Shuut, diam, Sayang ... jangan berpikir macam-macam."


Situasi sedang tegang-tegangnya, Amara justru membuat Syakil semakin kacau. Padahal, sebelumnya dia benar-benar yakin jika mampu melahirkan buah hati untuk Syakil di tahun ini dengan selamat.


Meski sama paniknya, Syakil tetap berusaha menguatkan istrinya. Sakit yang Amara rasakan hari ini akan menjadi kacamata Syakil untuk takkan pernah menyakitinya meski hanya seujung jari.


Kala tubuh istrinya mulai lemas, saat itulah Syakil berusaha untuk bisa menjadi penguatnya. Rintihan dan tetes keringat serta darah yang Amara tumpahkan hari ini takkan pernah Syakil lupakan.


"Maaf, Amara ... berjuanglah sekali lagi."


Semua yang pernah dia lakukan terbayang jelas, kesakitan yang dahulu sempat Amara rasakan membuat Syakil mengutuk dirinya sendiri. Sakit, sungguh dia benar-benar sakit sendiri hari ini, Syakil menggenggam jemari sang istri begitu kuatnya.


Sementara di lain tempat, saat ini Kanaya tengah fokus memanjatkan doa. Di tahun yang sama, kedua putranya sama-sama memberikan hadiah cucu, keduanya sama-sama kembar. Mikhail melahirkan dua bidadari kembar sebagaimana keinginannya, sementara Syakil diperkirakan akan dikaruniai dua pangeran kecil sebagai penjaga hati Amara.


Meski kali ini Mikhail belum bisa ikut mendampingi, namun pihak sanak saudara Kanaya rela meluangkan waktu untuk datang. Zico dan Aleena kini sudah menemukan kebahagiaan masing-masing juga turut serta, ya mereka merasakan kebahagiaan meski Zico adalah putra dari pria yang mengkhianati Kanaya.


"Tenang, Nay ... ini bukan pertama kali bagi kita," tutur Ibra menenangkan sang istri, pria itu khawatir kala istrinya menangis beberapa saat lalu.


"Bagi kita, Mas. Bagi Amara ini pertama kali," ucap Kanaya khawatir tiada henti, meski usianya tak lagi muda namun Kanaya memang belum bisa tetap tenang di situasi yang begini.


Bersama Kanaya, pria tua dengan gurat wajah yang masih begitu tegas itu sabar menanti perjuangan menantunya. Setelah membuat batin Syakil tertekan dan meminta hal macam-macam, pria itu merasa bersalah pada menantunya.


Sepanjang menunggu Ibra was-was, meski dia berusaha tetap tenang akan tetapi pria itu tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Belum lagi, Mikhail sibuk sekali bertanya sudah selesai atau belum. Hal itu benar-benar menyebalkan bagi Ibra yang juga tengah diterkam ketakutan.


Drrt Drrt


Sebal lantaran Ibra mengabaikan pesannya, Mikhail meneror sang papa. Menelpon berkali-kali dan itu membuat Kanaya berdecak kesal hingga Ibra mengalah dan mengangkat ponselnya.


"Apa lagi?! Jangan mengganggu sebentar saja bisa tidak?"


"Astaga, Papa ... aku hanya khawatir dengan kondisi adik ipar bagaimana, apa benar kembar, Pa? Amara baik-baik saja kan?"


Ibra menghela napas pelan, berutnung saja yang diteror Mikhail bukan Syakil melainkan dirinya. Andai saja begitu, sepertinya pria itu akan memilih untuk masuk kamar jenazah saja.


"Belum selesai, Khail. Bisakah kau berhenti bertanya ini dan itu? Selesai pasti dikabari, sekarang cukup doakan saja adikmu," tutur Ibra kemudian, dia tidak marah sama sekali, hanya kesal saja sebenarnya.


"Hah? Kenapa memangnya, Pa? Apa Amara kenapa-kenapa?"


Menyesal sekali Ibra menerima panggilannya. Dia panik kala Ibra meminta doa untuk Amara, mungkin pikiran Mikhail sudah sejauh itu dan mengira adik iparnya celaka.


"Sedang berusaha, jangan menganggu karena Papa sedang sakit kepala."


Tuuut


"Kenapa, Mas?"


"Entahlah, putramu semakin mengganggu saja," kesal Ibra kemudian kembali duduk di sisi Kanaya yang matanya kini tampak memerah.


.


.


.


Beberapa jam Amara berperang dengan rasa sakit, semua terbayarkan kini. Meski hampir merenggut nyawa dua hari lalu, namun bayi mungil itu benar-benar menjadi obat untuknya.


"Cantik," puji Amara tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca lantaran tak kuasa dengan kebahagiaan yang Tuhan berikan kini padanya.


"Bayi kita laki-laki, Sayang."


Amara terkekeh, dia lupa jika malaikat kecilnya bukan perempuan. Mungil, dan masih senantiasa terpejam. Malaikat kecilnya belum bisa menatap mata mamanya, masih senantiasa tertidur begitu lelapnya.


"Yang suka bikin mual Papa kamu ya ternyata," tutur Amara kemudian terkekeh pelan, masih dia ingat bagaimana Syakil dibuat sengara oleh putranya sewaktu masih di dalam kandungan.


Syakil hanya tersenyum hangat menatap pemandangan yang kini dia lihat. Keluarga sempurna yang dahulu sempat Mikhail banggakan kini bisa benar-benar dia rasakan.


Kebahagiaan tak hanya dirasakan oleh mereka saja, sepasang kekasih yang tengah hangat-hangatnya memadu asmara itu kini juga dibuat berdebar kala menyentuh kulit bayi Syakil.


"Kamu mau gendong, Sayang?"


"Aku takut, Ken ... tapi mau cium," ucap Ganeta gemas sekali dengan ciptaan Tuhan yang menggetarkan relung hatinya ini, dia tersentuh tapi tidak memiliki keberanian untuk menggendongnya.


"Coba saja, Ganeta. Hati-hati, ayo sini."


Kanaya yang sejak tadi menggendong cucunya dibuat terkekeh dengan ulah wanita dewasa satu ini. Walau sempat memberikan luka dan trauma pada putranya, setelah mengetahui kisah dibalik menghilangnya Ganeta, Kanaya memaafkan dan bersedia menerima wanita itu dalam hidupnya.


"Jangan, Mama ... aku khawatir, dia gerak nanti jatuh. Aku lihat saja," ucapnya kemudian kembali menyentuh wajah mulus bayi itu, bukan bayinya tapi dia berbunga-bunga melihatnya.


"Latihan, Sayang. Sebentar lagi jadi Mama juga ... iya kan, Ken?"


Kendrick salah tingkah mendengar ucapan Kanaya, sementara Ganeta tampak fokus pada bayi mungil yang kini tengah menjadi trending topic keluarga besar Kanaya.


Sementara Ibra kini tengah menjadi operator dalam panggilan video yang dilakukan bersama Mikhail dan juga Zia di sana. Sejak kemarin memang begitu tugasnya, dan sama sekali tidak keberatan.


"Papa geser sedikit, muka Papa semua di sini."


"Siallan kau, Mikhail!!"


"Serius, Pa ... aku ingin lihat bayinya, kemarin kurang puas."


Banyak perintah dan banyak mau, Ibra menghela napas kasar kala putranya ini menuntut ini dan itu. Amara dan Syakil hanya tertawa kecil melihat Papanya harus berkorban demi menyenangkan seorang Mikhail.


.... End ❣️


Pengumuman Give Away akan aku share besok pagi, bersamaan dengan Bonus Chapter yang akan aku terbangkan khusus keluarga ini.