
Membiasakan diri untuk menerima apa yang Syakil berikan sebenarnya cukup berat bagi Amara, akan tetapi sedari awal memang sudah dia duga jika hal semacam ini akan terjadi.
Penjagaan ketat, dilarang keluar rumah sementara Syakil terkadang pulang tidak tentu waktunya, lantas bagaimana dia tidak akan bosan? Percayalah, yang Amara butuhkan saat ini hanya kehadiran Syakil di sisinya setiap waktu, itu saja.
"Kamu lihat apa?"
Syakil menghampiri sang istri yang tengah fokus memandang keluar dari balkon kamarnya. Wanita itu tengah berpikir sembari menyimpulkan segala sesuatu yang tengah terjadi padanya.
"Mereka, kenapa makin banyak?"
Kemarin sudah ada empat orang, lalu kali ini bertambah menjadi enam orang. Amara bahkan belum mengenal dengan jelas empat pengawal pertama yang Kendrick kenalkan kala dia baru menginjakkan kaki di rumah ini, kini sudah bertambah lagi.
"Hm biar mereka bisa gantian jagain kamu, karena kalau mereka kurang tidur bahaya."
Syakil menjawab jujur dan memang itu alasan utamanya, meski sikapnya tak begitu hangat pada setiap orang, akan tetapi Syakil begitu menjunjung nilai kemanusiaan.
"Kamu nyewa mereka sebanyak itu buat apa? Takut aku pergi?" tanya Amara kemudian menahan kalimatnya.
"Syakil ... sekalipun kamu izinkan untuk keliling kota ini aku juga nggak bakal bisa, jadi buat apa kamu bayar mereka sebanyak itu," tutur Amara tak habis pikir kenapa Syakil sampai segitunya, dugaan Amara begitu kuat lantaran Syakil menambah jumlah bodyguard ialah setelah perseteruan panas mereka malam itu.
"Bukan cuma itu, Sayang ... jangan tanya kenapa, tanpa aku jelaskan juga kamu sudah paham."
Syakil mengecup pundak Amara sebegitu lembutnya, jujur saja dugaan Amara memang benar adanya. Syakil yang khawatir Amara pergi adalah salah satu alasannya, menurut dia cukup jalan cinta Mikhail yang rumit dan harus merasakan kesendirian kala pasangannya menghilang usai menampatkan perlakuan tidak menyenangkan.
Tidak hanya belajar dari pengalaman Mikhail, masa lalunya juga menjadi alasan kenapa Syakil benar-benar tak memberikan celah untuk Amara lepas dari pengawasannya.
"Oh iya, tadi Eva nelpon aku ... katanya_"
"Sudah, aku lupa kirim uang bulanan untuk kakakmu, maaf ya."
Bukan itu yang Amara maksud, dia belum selesai bicara dan Syakil sudah menerobos sesukanya. Wanita itu menghela napas perlahan dan menghentikan tangan Syakil yang mulai menelusup ke dalam bajunya.
"Dengarkan aku," titah Amara menepis tangan Syakil hingga pria itu tertawa sumbag.
"Apa?" tanya Syakil kini fokus menatap wajah Amara yang luar biasa serius dengan mata tajamnya.
"Setelah ini jangan lagi, kamu nggak punya kewajiban atas kebutuhan dia."
Amara memilih untuk tega lantaran kesal dengan cacian dari Eva yang mengungkapkan jika Syakil adalah pria yang tidak bertanggung jawab.
"Nggak masalah, kan janjiku sebelum menikahimu memang begitu, Ra. Lagipula, kalau bukan kita yang mengulurkan tangan lalu mau bagaimana dia menjalani hidup? Kamu rela dia kembali jual diri seperti yang sudah-sudah? Hm?"
"Terus kamu selamanya akan menafkahi dia? Pengeluaran dia dalam satu bulan bahkan lebih besar dari aku loh," ujar Amara menghela napasnya pelan, ini bukan cemburu ataupun merasa Syakil terlalu peduli terhadap orang lain, melainkan kesal saja.
"Hahaha jangan dibandingkan sama pengeluaran kamu, selama menikah kamu belum menggunakan uangmu sama sekali," ucap Syakil sedikit tergelitik dengan ucapan sang istri, jika dibandingkan dengan dia jelas saha pengeluaran Eva di luar nalar rasanya.
"Ini nggak lucu sama sekali, Syakil!Kalau sampai Mama tau kamu juga menafkahi kakakku gimana?" tanya Amara frustasi sementara Syakil tampak biasa saja.
"Pikiran Mama nggak sesempit itu, Sayang ... dia paham dan mengerti kondisinya, lagipula 150 juta sebulan bukan jumlah yang sulit, Ra."
Amara memutar bola matanya malas, memang sepertinya salah besar dia membahas soal uang. 150 juta, jika Eva kerja sendiri mungkin akan butuh waktu berbulan-bulan, itupun kalau tamunya orang kaya.
.
.
.
"Masih tetap 150 juta? Kurangi, paling banyak 15 juta!!" titah Amara tak terbantah lantaran kesal luar biasa akibat Syakil yang merelakan semudah itu uang dengan jumlah besar untuk wanita lain.
"Sayang, kok gitu ... apa cukup untuk kakakmu?" tanya Syakil mengerutkan dahi, alasan dia menyanggupi persyaratan Eva selain karena ingin meminta restu sepenuhnya untuk Amara, Syakil juga tidak ingin Eva terus terjerumus dalam lembah dosa itu.
"Atau kalau enggak 1,5 juta ... kamu jangan lupa soal masa depan kita, nggak selamanya kita akan selalu di atas, bisa jadi besok pagi keadaan berubah."
Syakil terdiam mendengar ucapan Amara, sikapnya yang begitu mudah mengeluarkan uang tanpa pikir panjang adalah hal yang tidak Amara suka sejak lama.
"Kamu meragukan kekayaanku, Amara?" tanya Syakil serius dan menatap lekat-lekat sang istri.
"Bukan masalah itu, Syakil!! Yang istri kamu itu dia atau aku? Kenapa sebegitu pedulinya padahal Eva sama sekali nggak peduli tentangku sedikit saja," ungkap Amara dengan kesabaran yang mulai menipis dan memilih masuk kemudian meninggalkan Syakil dengan langkah panjangnya.
"Sa-sayang bukan gitu maksudnya_"
BRAK
Terdengar seperti pintu yang ditutup dengan kekuatan tak biasa, istrinya tengah menunjukkan keperkasaan sepertinya.
"Astaga, aarrrgghh kakak ipar siallan!! Ya Tuhan, kenapa istriku jadi sering marah akhir-akhir ini?" Syakil mengacak rambutnya, sejak kemarin jika membahas Eva biasanya akan berakhir dengan kemarahan Amara, istrinya cemburu atau bagaimana Syakil tidak paham juga.
-Tbc-
Ada apa dengan ipar?💁♀💁♂