My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 38 - Wanita Yang Sama?



"Pelan saja, kau mau membunuhku atau bagaimana?"


Setelah tidak bersuara sejak meninggalkan mansionnya, kini Syakil berbicara dengan suara beratnya. Pria itu memerintah tanpa menatap Kendrick walau sesaat, ya anggap saja dia tengah marah kali ini.


"Tapi ini sudah pelan, apa masih kurang pelan, Tuan?"


"Pelan apanya? Caramu mengemudi persis pelajar, kau kehilangan kemampuan atau bagaimana, Ken?" celetuk Syakil singkat dan ini murni tengah meluapkan emosinya.


"Lihat sendiri kalau tidak percaya, ini sudah paling pelan," tegas Kendrick membela diri karena memang dia sama sekali tidak salah.


"Benarkah?"


Mendadak linglung, padahal memang sudah pelan tapi Syakil minta kembali dipelankan. Nampaknya pria itu tengah enggan meninggalkan rumah maka dari itu dia mencela cara Kendrick berkendara.


"Apa ada yang Anda pikirkan?"


Syakil menggeleng pelan, pria itu kembali fokus dengan benda pipih di tangannya. Bukan urusan pekerjaan, melainkan memastikan istrinya sedang apa.


"Ken, pencarianmu bagaimana?"


"Pencarianku? Bukankah Anda sudah menemukannya, Tuan?"


Kendrick jelas saja heran, wanita yang Syakil cari sejak lama rasanya sudah dia temukan. Lantas untuk apa lagi Syakil menanyakan hal itu, pikirnya.


"Hahah benar juga, kenapa aku menanyakan hal sekonyol ini padamu."


Syakil tergelak tiba-tiba, pria itu bingung dengan dirinya sendiri. Terkadang dia yakin jika Amara adalah wanita yang sama, akan tetapi di sisi lain Syakil juga masih mencari kebenaran terkait Ganeta.


"Cinta takkan salah, setelah Anda mencarinya begitu lama ... sekarang justru kalian menikah."


Syakil hanya mengangguk pelan, untuk yang kali ini dia iyakan saja. Toh perasaannya tidak berbeda, bahkan Syakil sebenarnya tak peduli Amara mencintainya atau tidak, yang jelas wanita itu adalah miliknya, itu saja.


"Benar dia wanita yang sama, Tuan?" tanya Kendrick memastikan, pria itu yakin sekali jika Ganeta yang selama ini menjadi beban pikirannya adalah wanita yang Syakil kenalkan dengan nama yang berbeda itu.


"Anggap saja begitu, yang jelas dia wanitaku," tutur Syakil kemudian tersenyum lebar kala Amara benar-benar mengirimkan fotonya selesai mandi.


"Cantik," puji Kendrick yang kemudian membuat Syakil mendaratkan telapak tangan di dadanya.


"Kau melihatnya?"


"Sedikit," jawab Kendrick tanpa sedikitpun rasa rakut, padahal saat ini mata Syakil sudah menyala-nyala.


"Kalau kau sayang bola matamu jangan coba-coba mencuri pandang padanya baik secara langsung maupun tidak, Ken."


Ancamannya mengerikan, bukannya takut Kendrick hanya menggeleng pelan. Emosi Syakil nampaknya tidak stabil setelah kembali dari liburan kali ini.


Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh beberapa menit saja kini terpaksa semakin lama lantaran Syakil yang meminta pelan dan lainnya. Ada saja kurangnya Kendrick pagi ini, padahal tidak ada yang berbeda dan situasinya sama saja seperti dulu.


"Mereka tidak mengetahui tentangku bukan?"


"Tidak, Tuan."


"Umumkan pernikahanku, minggu depan aku akan mengenalkan istriku, pastikan semuanya berjalan dengan baik dan kau singkirkan hama-hama itu. Aku tidak nyaman dengan kedatangan penjilat yang selalu menawarkan kerja sama sinting begitu," titah Syakil tak terbantahkan, pria itu melangkah panjang dan tetap menjadi pusat perhatian kala kembali dengan kesibukannya di perusahaan.


Menikahi Amara sebenarnya bukan hanya membuat hidup Syakil tidak kesepian di malam hari, akan tetapi hadirnya figur wanita di sisinya adalah tameng untuk membuat Syakil terhindar dari tawaran rekan bisnis yang kerap menjanjikan wanita-wanita cantik sebagai pemanisnya.


"Anda ingin membersihkan nama kita berdua, Tuan?" tanya Kendrick dengan mata berbinar, jujur saja sejak dahulu dia sudah tidak tahan dengan dugaan khalayak ramai yang kerap mencurigai jika dirinya adalah kekasih pemimpin perusahaan itu.


"Hm, sekalian itu."


"Bisa kau hentikan tingkah boddohmu ini?"


Jika di rumahnya ada Mikhail yang kerap membuat pusing kepala, di sini ada Kendrick yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, Kendrick masih bisa dia atasi sementara Mikhail memang membuat Syakil angkat tangan.


.


.


.


Terbiasa banyak kesibukan membuat Amara benar-benar bosan berada di sini. Tidak ada Sean dan Zean yang bisa dia ajak perang di sini, meski sempat berpikir berpisah dari Mikhail akan membuat hidupnya damai, akan tetapi di saat begini Amara merasa dunianya benar-benar sepi.


"Anda mau kemana, Nona?"


Baru juga menginjak halaman, tapi Amara sudah dicegat pria berbadan besar yang sejak kemarin membuntutinya.


"Aku bosan," ucap Amara mengerutkan dahinya, sungguh dia sedikit sebal jika terus begini.


"Tapi Anda tidak boleh keluar, Nona ... cuaca hari ini tidak begitu bersahabat, kulit Nona bisa terbakar nanti."


Sampai kulit juga mereka ikut campur, Amara pikir pengawal dadakan yang beberapa waktu lalu mengikutinya sudah cukup gila, nyatanya ini lebih dari gila.


"Aku tidak akan pergi, kenapa kalian begini?"


Mau kemana juga Amara pergi, utara barat selatan saja dia tidak paham apalagi kota ini. Lagipula di sini dia hanya memiliki Syakil seorang, rasanya tidak mungkin bisa pergi dari sisi sang suami.


Merasa tidak punya pilihan, Amara kembali ke kamar dengan harapan dia bisa tidur siang. Ambil jalan ini rasanya lebih baik, akan tetapi rasa kantuknya tak juga menghampiri hingga Amara lebih memilih menyibukkan diri di kamar Syakil.


Acak-acak isi lemari, susunan pakaian Syakil tidak sesuai dengan seleranya. Amara mulai mengeluarkan semua isinya untuk kembali dia susun nantinya, akan tetapi ada hal yang membuat Amara terkejut kala dia menemukan sebuah kotak perhiasan jatuh tepat di dekat kakinya.


"Cincin?"


Sepertinya itu cincin pernikahan, namun jika Amara perhatikan di dalamnya hanya ada satu dan itu milik Syakil, ukiran nama yang sekecil itu dapat Amara baca dengan mudah.


"Tapi ini bukan pasangan cincinku," tutur Amara tampak berpikir dan berkali-kali dia perhatikan cincin itu bukan pasangannya, lagipula tadi pagi Syakil menggunakan cincin pernikahan mereka.


Amara memeriksa setiap saku celana ataupun kemeja di sana, pikirannya masih jernih dan berpikir itu adalah keteledoran Syakil hingga tidak sadar jika pasangan cincin itu tak lagi berada di sana.


"Dia bukan duda kan? Dia bilang pertama kali menyentuh wanita dan itu adalah aku, tidak mungkin jika Syakil pernah menikah ... jika bukan menikah lalu ini apa?"


Pikiran Amara sudah kemana-mana, wanita itu kembali mengingat ucapan Kanaya dan juga Mikhail yang meminta untuk tidak pernah meninggalkan Syakil dalam keadaan apapun.


"Ganeta ... pasangan cincinnya ada di wanita itu kah?"


Satu-satunya nama wanita yang kerap dia dengar sejak bersama Syakil hanya itu.


Dia menikahiku karena mirip mantan istrinya?


Sejak awal dia sudah bertanya siapa Ganeta, akan tetapi Syakil selalu menjawab bahwa belum waktunya dia tahu dengan nada bicara seakan tak suka Amara menanyakan hal itu.


"Sebanyak apa yang kamu rahasiakan dariku? Kalau hanya menjadi pengganti, lalu kenapa bilang kamu menikahiku karena dasar cinta?"


............ Lanjut


Rekomendasi Novel siang bolong kali ini❣️